<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Harokah on DPD PKS Boyolali</title><link>http://boyolali.pks.my.id/kategori/harokah/</link><description>Recent content in Harokah on DPD PKS Boyolali</description><generator>Hugo</generator><language>id-ID</language><lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2026 22:54:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="http://boyolali.pks.my.id/kategori/harokah/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Bismillah</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2026/11/bismillah/</link><pubDate>Wed, 04 Nov 2026 22:54:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2026/11/bismillah/</guid><description>&lt;p&gt;Alhamdulillah&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Hadir Kembali! Kajian Rutin Ahad Sore DPC PKS Ngemplak</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2024/07/hadir-kembali-kajian-rutin-ahad-sore.html</link><pubDate>Tue, 30 Jul 2024 22:27:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2024/07/hadir-kembali-kajian-rutin-ahad-sore.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2024/07/p1020379-b0b2fc44.jpg"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="2584" data-original-width="4592" height="180" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2024/07/p1020379-b0b2fc44.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;DPC PKS Ngemplak kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Sore pada hari Ahad (28/7) yang bertempat di Pendopo Rumah Bapak Ali Hufroni. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah kafaah dan referensi tentang ke Islaman bagi kader PKS Ngemplak. Majlis hari ini menghadirkan Ustadz Solikhin Abu Izzuddin penulis buku Zero to Hero:&amp;nbsp;&lt;span&gt;Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa&lt;/span&gt;, sebagai pemateri. Sesi kajian ini mengambil tema, "Kisah Mulia Para Penerus Risalah Islam." Salah satu hal yang ditekankan dalam materi kajian tersebut adalah agar kader dakwah senantiasa memberikan keteladanan sebelum berdakwah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Workshop Peningkatan Kapasitas Pembinaan Kader PKS Boyolali</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2024/07/boyolali-280724-pks-boyolali.html</link><pubDate>Tue, 30 Jul 2024 21:55:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2024/07/boyolali-280724-pks-boyolali.html</guid><description>&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2024/07/whatsapp-image-2024-07-28-at-17-28-38-1-fcfcc96f.jpeg"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1884" data-original-width="4080" height="148" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2024/07/whatsapp-image-2024-07-28-at-17-28-38-1-fcfcc96f.jpeg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Boyolali - (28/07/24) PKS Boyolali menyelenggarakan Workshop Peningkatan Kapasitas Pembinaan Kader dengan tema, "Membina itu Indah dan Menyenangkan". Bertempat di Aula DPD PKS Boyolali, kegiatan ini diikuti oleh Kader PKS Pelopor dan Pratama DAPIL I dan DAPIL II Boyolali.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Habib Salim: Seorang Pemimpin adalah Pelayan</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2016/02/habib-salim-seorang-pemimpin-adalah.html</link><pubDate>Tue, 02 Feb 2016 06:32:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2016/02/habib-salim-seorang-pemimpin-adalah.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2016/02/habib-salim-jawa-tengah-b2ca22f0.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2016/02/habib-salim-jawa-tengah-b2ca22f0.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Semarang (31/1)&lt;/b&gt; -- Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Habib Salim Segaf Al-Jufrie menegaskan jatidiri kader PKS yang harus senantiasa berkhidmat untuk umat. Bahkan dalam posisi sebagai pemimpin pun adalah dalam rangka berkhidmat.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;"Rasulullah berpesan pemimpin sejati adalah yang sanggup melayani rakyatnya," tandasnya saat memberikan sambutan di Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PKS Jawa Tengah (Jateng) di Hotel Grasia Semarang, Minggu (31/1/2016).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Menurutnya seorang pemimpin harus mampu melihat dan merasakan kesulitan rakyat yang dipimpinnya. Dengan demikian hatinya akan terpanggil untuk senantiasa melayani dan menyelamatkan rakyat dari jurang keterpurukan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;"Seorang pemimpin yang baik akan menjadikan dirinya teladan bagi siapa pun untuk melakukan hal yang sama, yaitu melayani kebutuhan rakyat," terangnya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Selain berkhidmat, Habib Salim juga menekankan pentingnya harmoni ditengah umat. Ia menghimbau kepada seluruh kader PKS untuk menjaga adab dan akhlak ditengah masyarakat. "Jangan sampai masyarakat takut dan memandang curiga kiprah dan karya PKS. Perlu kita tegaskan kepada masyarakat bahwa PKS bukan ancaman bagi mereka," tandasnya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber: pks.id&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Inilah Transkrip Lengkap Taujih Habib Salim Segaf Al Jufrie Dalam Peringatan Maulid Nabi di DPP PKS</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2016/01/inilah-transkrip-lengkap-taujih-habib.html</link><pubDate>Sun, 10 Jan 2016 05:40:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2016/01/inilah-transkrip-lengkap-taujih-habib.html</guid><description>&lt;br /&gt;&#10;&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2016/01/salim-segaf-acbde41f.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2016/01/salim-segaf-acbde41f.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Bismillahirahmaniraahim&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Alhamdulillah wa syukurillah lahaula wa la quwata illah billah&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Para habaib, para ulama, para tokoh ulama, para pimpinan ormas, para tokoh masyarakat, Dewan Pimpinan Tingkat Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS), para anggota dewan dari PKS yang hadir, Ketua Fraksi, Wakil Ketua Majelis Syuro, Ustadz Fadil dan Tengku Zulkarnain yang memberikan arahan yang cukup menyentuh sekali.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Malam hari ini kita dipertemukan dalam suatu acara untuk memperkuat cinta kita terhadap Baginda Rasulullah SAW. Pada dasarnya maulid itu juga intinya shalawat pada Rasul, mendengarkan biografi Rasululah SAW, yang kita baca ini (Simtudduror), ini ditulis oleh Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein bin Hadafsi, dia lahir kira-kira 200 tahun yang lalu.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ada beberapa buku tentang maulidul Rasul banyak tersebar di masyarakat kita. Malam ini kita ambil salah satu pilihan ini. Kalau kita lihat sejarah ini luar biasa. Bayangkan di rumahnya itu setiap hari antara 800-900 tamunya. Bahkan dia mengatakan kalau melihat tamunya 5000 itu seperti 5 orang. Rumah tangga kita, bukan yang di sini yang di luar-luar, tamu 5 orang seperti tamu 50. Tapi bukan antum-antum di sini, 50 seperti berapa 500.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kebahagiaan ibu-ibu kalau dikasih tahu suaminya 'malam ini ada tamu, kenapa mendadak? Kok nggak diberitahu? Yang namanya tamu ya mendadak'.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Bahkan banyak para sholihin itu, dia tidak akan makan siang kecuali sampai di rumahnya jelas tidak ada tamu. Kalau dulu-dulu yang tinggal dekat stasiun kereta api itu menunggu sampai penumpang kereta api turun semua, jelas tidak ada tamu, baru dia makan. Sungguh karena rumahnya terbuka. Ini setiap hari, antara 800 sampai 900 orang. Dilahirkan di Kota Seun terjadi panceklik 3 bulan itu, dia jamin semua. Kalau ditanya fundraisingnya darimana, ini bahasa yang keren sekarang. Kenyataannnya hati di Tangan Allah SWT. Kalau perjuangan itu muncul, semua itupun siap tarkiyah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Saya sering mengatakan di dalam pertemuan PKS ini, pertanyaan sederhana: kira-kira Allah SWT butuh fundraising dari manusia? Rasul butuh nggak dari sahabat untuk membiayai perjuangan? Nggak butuh. Dia diback-up penuh oleh Allah SWT. Perlu ndak untuk memenangkan dakwah ini dimunculkan sekian ratus, sekian ribu orang, tidak butuh juga. Allah memenangkan Rasul sendiri pun , selesai. Tapi karena kasih sayang Allah dan rahmatNya, serta rahmat baginda Rasulullah SAW, beliau mengatakan siapa yang akan berinfak untuk perjuangan. Muncul sahabat mengatakan, aku ya Rasulullah sekian persen dari hartaku. Umar bin Khatab ra. 50 persen, Sayyidinna Abu Bakar Siddiq aku serahkan seluruh hartaku untuk perjuangan, wahai Rasulullah SAW. Kita aja, lalu untuk istri dan anak apa? Kalau diberikan semuanya , aku tinggalkan untuk istri dan anak-anakku beserta keluargaku, Allah dan Rasul-Nya. Perjuangan. Dan itu akan berjalan sepanjang masa.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kemarin pagi, di empang Bogor. Saya menceritakan di musim panas, suatu saat Sayyidinna Abu Bakar Siddiq di siang hari. Setelah sholat Dzuhur, ada di jalan, muncul Umar bin Khatab, Sayyidina Umar ra. mengatakan, "Kok siang-siang kemari ada apa? Ngantuk, lapar dari kemarin belum makan".&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Terus Sayyidina Abu Bakar tanya sama Sayyidina Umar, "Wa anta?"&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;"Lapar juga."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Muncul Baginda Rasulullah SAW dari kejauhan, "Kenapa kalian berdua ada di sini?"&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;"Lapar."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Rasul mengatakan, "Ana juga begitu, dari pagi belum makan."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Mereka-mereka bukan dari keluarga miskin, yang dimiliki diberikan untuk umat semuanya, itsar mendahulukan kepentingan umat bahkan beliau mengatakan, "Saqiyl qawmi akhirum (yang memberikan minuman manusia terakhir), baru dia mau minum."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Lalu baginda Rasul mengatakan, "Kita ke rumah Abu Ayyub Al-Ansori,"&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Abu Ayub itu ketika Rasul sampai ke kota Madinah, 7 bulan tinggal di situ. Sudah disiapkan. Rumahnya dua tingkat, Rasulullah disiapkan di atas. Nggak mungkin Abu Ayub di atas, Rasulullah di bawah, mustahil. Tapi tamu begitu banyak, Rasul mengatakan, "Biarkanlah aku di bawah. Kasihan kamu naik turun."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sudah Abu Ayub di atas tapi dia cari posisi yang tidak mungkin di atas Rasul. Cari pinggir sana, pinggir sini. Yang penting masuk. Di ketuk pintunya, yang membukakan istrinya, "Ahlan biik Rasululillah SAW. Selamat datang untuk baginda Rasul dan Sahabat Rasul."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ditanya, "Mana suami kamu?"&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Rumahnya itu ada kebun kurma, dipanggil datang terburu-buru. Dibawakan ruthob untuk Rasulullah. Sambil memotong, "Tunggulah setengah jam sampai selesai,"&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kemudian Rasulullah memberikan saran, "Potong yang biasalah jangan terlalu yang gemuk sekali kambingnya."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Istrinya membuat roti. Sudah selesai membuat roti, daging pun sudah datang. Kemudian sebelum makan, Rasul mengambil sepotong roti dan daging, beliau berkata kepada Abu Ayub Al Absori, "Antarkan untuk anakku Fatimah sudah berminggu-minggu dia tidak makan seperti ini."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kebayang tidak? Dia tidak akan makan, ingat dengan putrinya, antarkanlah. Sudah lama dia tidak merasakan ini. Tapi beliau Rasululah SAW , tidak ada yang menyiapkan begitu kecuali dibalas. Beberapa hari dia akan balas kemudian dengan lebih daripada itu.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Saya ingatkan di sini bahwa yang namanya perjuangan itu dengan kelebihan yang Allah berikan kepada kita. Masing-masing kita punya kelebihan. Yang hartanya lebih tinggalkan saja, yang ilmunya lebih tinggal ilmu, yang tenaganya tinggal tenaga, yang akhlaknya, yang masing-masing kita mempunyai nilai plus. Itulah yang disarankan oleh Ustd. Zulkarnaen.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Nilai plus itu kita saling melengkapi untuk membangun negeri ini. Tidak akan terjadi perubahan di dalam negeri ini kalau kita tidak bangkit semuanya kecuali saling melengkapi. Kalau kita yang di Partai Keadilan Sejahtera bagian dari umat dan tidak bisa dipisahkan dari umat tapi banyak dari ormas, tokoh masyarakat , para asatizah kalau kita saling melengkapi menjadi sesuatu kekuatan yang luar biasa.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Saya sering mengatakan umat ini kal jasadil, seperti tubuh. Tubuh manusia itu ada kepala, ada tangan, ada kaki, ada semuanya. Kalau saya tanya mana yang paling hebat. Mungkin semua mengatakan kepala. Kemudian pertanyaan selanjutnya, kepala itu hebat jika sendirian, bayangkan kalau kepala tidak ada kaki, dada dan tangan. Hebat atau menakutkan? Apalagi kepalanya tadi tidak mata , tidak ada hidung? Lari juga orang. Terus yang hebat? Semua hebat. Bahkan yang paling bawah itu, yang memikul beban, mungkin dialah yang paling mulia di sisi Allah SWT. Tidak ada satu titik ditubuh kita ini kecuali memiliki kehebatan. Bagaimana Allah ciptakan pada manusia itu sendiri.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dimana pun posisi kita dalam pertemuan ini, kita semua hebat. Kita semua punya nilai dan posisi yang sangat strategis untuk perjuangan tersebut. Dan Baginda Rasulullah SAW dengan yang tua, muda, anak-anak ada Malik usia 10 tahun sudah diberikan tugas dari Rasululah SAW, diberikan tugas. Yang namanya anak usia 10, 11 , ibunya datang kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah semua penduduk Madinah gembira kepadamu. Mereka ingin memberikan apa yang mereka miliki. Saya tidak memiliki apa-apa, Ya Rasul. Ayah dari anak sudah meninggal , yang saya inginkan terimalah anak saya menjadi khadimmu Ya Rasul SAW."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Hampir 13 tahun Anas, kalau kita baca sejarah Anas bin Malik dia mengatakan, "Yang paling aku inginkan kelak kemudian di Padang Mahsyar, aku cari Baginda Rasulullah SAW, sambil aku katakan, 'Ya Rasul. Akulah khadimmu di dunia'."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dan beliau mengatakan, "Aku tidak pernah melihat keindahan melebihi keindahan sepanjang ini bersamamu membawakan air wudhu. Mereka yang berdamping itu , merasakan saat itu mereka sudah dalam surga."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kebayang nggak? Yang setiap malam itu membawakan air wudhu Rasulullah berwudhu.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Setahun, dua tahun sampai bertahun-tahun. Kerjanya itu saja setiap malam. Kemudian Baginda Rasulullah bertanya kepadanya, "Wahai saudaraku, apa yang kau inginkan sekarang? Insya Allah akan saya doakan."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Mikir dia, dan kemudian dia mengatakan, "Aku ingin satu Ya Rasulullah? Apa yang kamu inginkan? Aku sungguh beruntung di dunia ini mendampingimu selalu Ya Rasululah. Yang aku inginkan satu, as'aluka fil jannah, aku memintamu Ya Rasul sebagaimana aku mendampingimu di dunia ini , aku ingin mendampingimu kelak di surga kelak di akhirat. Kenapa hal itu yang kau inginkan Ya Rabiah? Kalau aku cari dunia pun, dunia pasti akan banyak. Mau dapat uang 1 milyar, 10 milyar dapat istana, ujung-ujungnya juga mati. Warisan 200 milyar, ada yang meninggal, siapa yang menikmati, ya sudah selesai. Ahli warisnya. Tapi kalau mendampingimu sungguh suatu keberuntungan. Apa kata baginda Rasulullah SAW, yang kamu ingin akan terwujud, perbanyaklah sujud pada Allah SWT."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Para pecinta Rasulullah SAW, hidup ini yang kita cari adalah keberkahan. Kalau seluruh langkah kita, kehidupan dalam rumah tangga, dalam sehari-hari, Allah berikan keberkahan dan itulah yang paling kita nikmati. Keberkahan itu tidak mesti uang banyak, bisa mencelakakan bahkan bisa menghancurkan seseorang.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kadang sakit pun berkah, asal kita berbaik sangka kepada Sang Khaliq. Sakit menjadikan dia semakin taat. Dibuat sulit rejeki agar dia taat. Diperbanyak rejekinya pun dia untuk taat kepada Allah. Aku tergantung prasangka hambaKu.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kalau kita ini pulang masing-masing memperbaiki hati kita, membuat hati ini semakin bersih, seperti yang sering Rasulullah SAW yang sampaikan di suatu majelis, lewat satu sahabat, hari berikutnya muncul lagi dia, ini sahabat sudah bertanya siapa dia, apa kelebihannya, sampai ketiga kali lewat seseorang dari penghuni surga, akhirnya salah seorang sahabat mau tahu, pura-pura bertamu.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kalau bertamu sunahnya berapa hari? Tiga hari. Kalau lebih tiga hari mukim.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Hari pertama diperhatiin, malammnya biasa-biasa juga. Ini dipikir dari sholat Isya sampai Subuh sholat terus, tidak juga, tidur biasa. Sampai tiga hari ya kurang lebih, bahwa tamu ini ada beberapa nilai plus yang dimiliki. Akhirnya bertanya ada nggak sesuatu amal yang kau lakukan di luar ini? Jawabnya biasa aja tidak ada yang lain. Tetapi di pikirannya, orang surga banyakmemperbincangkannya. Sudah nggak ada jawaban lagi akhirnya pulang.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;"Saya itu setiap hari bangun dari tidur, tidak ada sifat benci untuk umat Islam."&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Abu Dzon-dzon ini melihat orang banyak bersedekah tapi dia nggak punya duit, akhirnya dia meratap, Ya Allah aku bersedekah dengan kehormatanku. Artinya kalau oranng mencaci aku, aku maafkan. Kalau orang lain menjelek -jelekkan dia dapat fulus. Cuma tidak cash. Orang mencaciku menjelekanku ,kalau orang sering memaafkan kesalahan orang lain, Allah akan maafkan kesalahan orang tersebut.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Suatu malam Rasulullah bertanya kepada Abu Dzon-dzon, "Allah menerima sedekahmu. Orang bersedakah dengan uang sedangkan dia bersedakah dengan kehormatannya. Orang mencaci , dia maafkan, orang menjelekkkan dia maafkan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kalau pulang dari acara ini, kita mendapatkan terjadi perubahan dalam karakter kita. Perubahan dari budi pekerti kita. Kita tidak akan marah kecuali karena Allah. Karena cinta kepada Allah. Yang istrinya emosi pun, ndak perlu dengan emosi. Ada beberapa contoh dalam ketahanan keluarga. Sebaik-baiknya kamu adalah yang paling baik dengan keluarga. Dan itu akan mengadakan dauroh-dauroh semacam itu. Biasanya para eksekutif dan orang-orang yang Allah berikan rejeki lebih belum tentu keluarganya sakinah mawadah warahmah. Saya masih ingat dalam Mukernas PKS, ketika suami datang istri mematikan lampu, suami tanya kenapa dimatikan lampu, cahaya mukamu menerangi ruangan ini. Bawakan kopi atau teh, nggak ada gula, celupkan tanganmu kesitu Insya Allah akan manis.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Jadi sebenarnya kehidupan itu tinggal bagaimana kita mewarnai. Tapi hati-hati satu kata juga bisa lebih jauh dari bintang di langit. Dan dengan kata-kata bisa bikin dekat suami dan istri. Pergunakan bahasa-bahasa indah. Jadi hidup ini jangan bayak beban, banyak senyum.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Saya terus terang bertemu dengan orang yang pendidikannya rendah. Tapi selalu yang keluar dari mulutnya Alhamdulillah. Dan tidak pernah putus. Belum tentu ilmu yan semakin banyak menjadikan tunduk pada Allah SWT.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sekali lagi yang kita cari adalah Allah memberikan keberkahan untuk kita, untuk keluarga kita, untuk saudara-saudara kita, untuk bangsa, untuk umat, untuk negeri yang sama-sama kita cintai ini.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kita dinantikan untuk melakukan perubahan besar di negeri ini. 70 tahun merdeka. Antum lihat jumlah kemiskinan pun bukan semakin berkurang tapi bertambah, Beda dengan Korea Selatan, 15 Agustus 1945, kita 17 Agustus 1945. Kita lihat bagaimana Korea Selatan sekarang. Tidak hanya dinamika bangsa ini, saudara kita di Timur Tengah bunuh-bunuhan. Konstitusi kita memerintahkan untuk kita turut andil untuk ketertiban dan perdamaain dunia. Dan belum dilakasanakan juga. 16 juta penduduk Suriah, 11 juta mengungsi.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Antum lihat bagaimana mereka di Eropa Timur yang ditendang, yang dihina, mereka adalah saudara-saudara kita. Apa yang akan kita akan katakan di depan Allah SWT jika ditanya masalah ini? Big brother muslim terbesar di dunia. Tidak ada satu alasan pun yang bisa diungkapkan , oh kita sibuk , rupiah lagi melemah, dollar lagi naik, itu tidak alasan semua. Bangsa-bangsa lain juga punya masalah tapi muncul di dunia. Jumlah yang besar ini punya peluang untuk memimpin dunia Islam. Sekarang yang muncul Turki. Coba lihat. yang sekian ratusan bahkan milyaran manusia mendoakan Turki untuk berbuat baik. Pengungsi ditampung. Diberikan kemudahan. Allah berikan kemudahan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Saya ketika menjadi Menteri Sosial, berharap mempunyai kemah untuk pengungsi, dapur umum, merah putih berkibar kita buktikan kita siap untuk umat Islam. Tapi tidak ada political win. Yang muncul adalah saudara-saudara kita dari lembaga-lembaga sosial, mereka luar biasa berbuat. Negara tidak adil. Itu sesuatu yang riil. Kita ingin ke depan ingin semakin bagus dan semakin bagus untuk umat dan bangsa ini. Insya Allah dengan Maulid Nabi Saw, keberkahan Baginda Rasulullah, kecintaan kita yang tulus dari hati yang paling dalam melebihi segala-galanya kecintaan kepada Allah. Agar bangsa dan seluruh yang kita miliki akan berdampak yang sangat bagus untuk umat Islam.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Menjadikan Baginda Rasulullah sebagai teladan dan menjadikan bangsa dan negeri ini selalu bertasbih. Negeri yang selalu beristghfar. Negeri yang selalu bersyukur. Negara yang selalu patuh kepada ajaran-ajaran yang dibawa Baginda Rasulullah. Jadikan kita menjadi hamba-hamba yang selalu bersyukur. Aamiin.&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Fahri: "Selama kau zalim dan berpihak kepada yang zalim, Haram sopan santunku bagimu"</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/12/fahri-selama-kau-zalim-dan-berpihak.html</link><pubDate>Wed, 23 Dec 2015 05:25:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/12/fahri-selama-kau-zalim-dan-berpihak.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/12/fahri-hamzah-33d5acbd.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/12/fahri-hamzah-33d5acbd.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;p&gt;&lt;span&gt;1. Bung, jangan kau pakai sopan santun mu untuk menghibur para pengkhianat Bangsamu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;2. Sopan santun kita untuk ibu dan orang tua yg membesarkan dan untuk guru yg mengajarkan kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;3. Selama kau zalim dan berpihak kepada yang zalim. Haram sopan santunku bagimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;4. Begitulah aku diajarkan oleh Tauhid&amp;hellip;basa-basi kepada manusia itu omong kosong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;5. Kita tidak akan sampai kepada tujuan kalau kita Menunda kebenaran diucapkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;6. Kita dan bangsa ini tidak akan sampai pada cita2 jika semua belok arah pada basa-basi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;7. Kalau karena kita mengatakan kebenaran seluruh dunia membencimu&amp;hellip;biarlah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;8. Kalau aku harus membungkuk-bungkuk agar semua memuji-muji ku makanlah pujian itu untukmu saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;9. Celaka apa yang bisa manusia buat kepada manusia seperti aku? Aku teringat Ibnu Taimiyah&amp;hellip;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;10. Jika mereka membunuhku&amp;hellip;mereka mempercepat perjumpaannya dengan sang Khalik&amp;hellip;yg kurindu&amp;hellip;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;11. Jika mereka mengusirku aku akan rihlah&amp;hellip;bertamasya&amp;hellip;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;12. Jika mereka mengurungku dalam jeruji besi maka itulah saat aku belajar dan memperbanyak ibadah&amp;hellip;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;13. Demikianlah jiwa merdeka&amp;hellip;dari seorang Ilmuan dan pejuang kebenaran&amp;hellip;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;14. Semoga kita terjaga dalam keyakinan&amp;hellip;amin&amp;hellip;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;___&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;dari twitter &lt;/span&gt;&lt;b&gt;@Fahrihamzah&lt;/b&gt;&lt;span&gt; (Selasa, 22/12/2015)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Sepotong Demokrasi tak Berisik ala PKS</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/08/sepotong-demokrasi-tak-berisik-ala-pks.html</link><pubDate>Thu, 13 Aug 2015 05:25:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/08/sepotong-demokrasi-tak-berisik-ala-pks.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/08/dptp-79426d13.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/08/dptp-79426d13.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;JAKARTA (12/8)&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;–&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Demokrasi cenderung tidak berisik atau senyap ditunjukkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Bandung, Jawa Barat, Senin (10/8/2015). Kendati, harus mengambil keputusan tentang siapa presiden partai, sebutan lain ketua umum, dalam lima tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena bersifat tertutup, maka kami memang sengaja tidak mengundang teman-teman media untuk melakukan liputan Sidang Majelis Syuro PKS ini," cuit Anggota Majelis Syuro PKS Tifatul Sembiring dalam akun twitternya @tifsembiring, Selasa (11/8/2015).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking senyapnya, kata Tif, ratusan ribu kader yang tersebar di seluruh Indonesia, tidak tahu persis, bahwa kemarin di sebuah tempat di Kota Parahyangan terdapat perhelatan akbar PKS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanapun tidak ada satgas pengamanan yang berlebihan yang identik dengan pasang wajah sangar dan berbadan tegap. Memang benar, demokrasi senyap bukan berarti hanya satu suara tanpa ada suara lain. Hal itu juga ada, saat dua nama calon presiden partai disodorkan di meja musyawarah siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begitu dibuka kesempatan memberikan tanggapan, maka yang ngacung ramai sekali, sidang cukup alot. Terutama mengenai Presiden Partai," ungkap mantan Menteri Komunikasi dan Informasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Sohibul Iman keluar dari lisan Ketua Majelis Syura terpilih Salim Segaf Al Jufri untuk menjabat Presiden Partai. Namun, ternyata nama itu jauh berbeda dari apa yang diharapkan para kader di daerah-daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ramai tanggapan, sampai pukul 16.30 WIB masih belum putus. Antara yang mendukung usulan ketua MS dengan yang meminta ustadz Anis Matta," tukas Tif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, eks Presiden PKS Hidayat Nur Wahid ikut bersuara. Hidayat memberikan masukan agar aspirasi itu tidak begitu saja lenyap, ketika Ketua Majelis Syura menggunakan hak mengajukan untuk dibahas dan disetujui dalam forum tersebut, sesuai dalam AD dan ART.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayat ingin Anis Matta diberi amanah dan tanggung jawab sebagai Kepala Badan Kerja Sama Internasional DPP PKS. Mengingat jam terbang Anis yang sudah melanglang buana menghadiri seminar-seminar internasional di dunia arab dan juga negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal ini penting, agar dunia internasional tidak melulu salah paham mengenai gerakan-gerakan Islam, sering mudah melabeli dengan teroris. dst.," terang Tif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sumbang masukan Hidayat, suasana yang sempat alot mereda. Anis Matta, nama yang disebut-sebut laik melanjutkan untuk priode keduanya, diminta bersuara.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;"Saya adalah jundi yang siap ditugaskan di mana saja. Saya ditugaskan di masa-masa keadaan sulit," kata Anis yang dikutip Tif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, banyak hal sudah Anis capai selama menjabat sebagai Presiden PKS. Di antaranya adalah ia berhasil membawa PKS keluar dari krisis, konsolidasi kader dan struktur, persiapan Pileg, Pilpres 2014 lalu dan berujung pada penempatan kader sebagai pimpinan di lembaga legislatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketahui, dari demokrasi yang cenderung tak berisik itu, nama usulan dari Ketua Majelis Syura Salim yang akhirnya terpilih. Adalah Sohibul Iman. Sementara Salim juga malah tidak sepenuhnya berbahagia menerima jabatannya ini karena menurutnya ini adalah tanggung jawab yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Antum telah timpakan beban berat ke pundak saya," kata Salim sambil menahan tangis, yang dikutip Tif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;"Saya bukan yang terbaik di antara antum, saya yang paling lemah. Tolong bantu saya, bantu keluarga saya, anak-anak saya," imbuh Salim.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&#10;&lt;span&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://pks.id/content/sepotong-demokrasi-tak-berisik-ala-pks"&gt;http://news.metrotvnews.com&lt;/a&gt;</description></item><item><title>Irwan Prayitno, Sosok Sederhana dan Gubernur dengan 137 Penghargaan</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/08/irwan-prayitno-sosok-sederhana-dan.html</link><pubDate>Wed, 05 Aug 2015 06:04:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/08/irwan-prayitno-sosok-sederhana-dan.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/08/irwan-prayitno-87b86858.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="220" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/08/irwan-prayitno-87b86858.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;PADANG (3/8)&lt;/b&gt; - Telah diputuskan Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, SPsi akan kembali maju dalam pilkada Sumatera Barat yang akan digelar pada akhir tahun 2015 mendatang.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sebagai kandidat kuat dalam pertarungan Pilgub Sumbar, Irwan Prayitno telah banyak mengukir prestasi dalam memimpin Sumatera Barat sebelumnya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Profesor kelahiran Taratak Paneh, Kecamatan Kuranji, Padang, 20 Desember 1963 silam ini, telah mengumpulkan 137 penghargaan sebagaimana catatan dari Yal Aziz yang merupakan jurnalis dari tabloid Bijak, salah satu media di Kota Padang.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Penghargaan yang diraih oleh Irwan ini adalah sebuah langkah awal bahwa pembangunan di Sumatera Barat harus dilanjutkan dan membantah anggapan beberapa pihak yang menyebutkan Sumbar tidak maju di masa kepemimpinan beliau.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Karir Irwan Prayitno dalam dunia politik juga tidaklah barang baru. Irwan terpilih 3 (tiga) periode mewakili Sumatera Barat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menyuarakan suara rakyat di Gedung Dewan Terhormat di Jakarta.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Irwan Prayitno memiliki sosok sederhana dan juga dikenal sebagai seorang yang mencintai pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan masih berdiri kokohnya Yayasan Pendidikan Adzkia yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia dan ia menjadi salah seorang pendirinya yang bermula dari Sumatera Barat.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kecintaan Irwan pada pendidikan juga ditunjukkan dengan keberhasilannya meraih Doktor dalam usia muda dengan Indeks Prastasi Cumlaude 3,97 di Universitas Putra Malaysia dan kemudian menjadi seorang Profesor.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kepiawaian Irwan Prayino sebagai seorang Profesor dalam memanajemen pemerintahan juga patut diancungi jempol. Hal ini dibuktikan dengan pujian pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bahwa hanya Irwan Prayitno yang hafal aturan-aturan BPK secara detail.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Hal ini dibuktikan dengan Sumatera Barat 3 kali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), dan yang terakhir laporan keuangan tahun 2014 meraih WTP secara penuh dan sempurna tanpa ada catatan dari BPK.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kini, Irwan ingin kembali mengabdikan dirinya untuk memimpin Sumatera Barat. Tentunya, Irwan Prayitno layak kembali memimpin Sumbar dengan berbagai prestasi, baik dalam maupun luar negeri yang telah ia raih selama memimpin Sumbar.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Lanjutkan…&lt;/div&gt;&#10;&lt;span&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://serambiminang.com/2015/08/irwan-prayitno-sosok-sederhana-dan-gubernur-dengan-137-penghargaan.html/"&gt;http://serambiminang.com&lt;/a&gt;</description></item><item><title>PKS dan 'Kampanye' yang Selalu Gagal</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/07/pks-dan-kampanye-yang-selalu-gagal.html</link><pubDate>Tue, 14 Jul 2015 06:28:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/07/pks-dan-kampanye-yang-selalu-gagal.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/07/bazar-pks-9f7b8a0a.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/07/bazar-pks-9f7b8a0a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;p&gt;&lt;b&gt;by Akmal-Sjafril&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Di tengah hegemoni pemikiran sekuler masa kini, memang sangat sulit mengubah paradigma dualis masyarakat tentang politik. Di satu sisi, orang terlanjur ngotot mempertahankan stigma bahwa politik itu kotor, namun di sisi lain, diam-diam masyarakat mengharapkan juga kehadiran politik bersih, karena dengan politik itulah mereka mengharapkan solusi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Membawa-bawa agama ke dalam politik juga serba salah. Agama itu suci, politik itu (pokoknya) kotor. Kalau keduanya dihubungkan, maka satu-satunya kemungkinan yang muncul dalam benak orang adalah agama itu terkotori oleh politik. Anehnya, masih sedikit yang mempertimbangkan kemungkinan sebaliknya, yaitu politik yang ‘disucikan’ oleh agama. Dalam pandangan banyak orang, seeolah-olah hal yang terakhir ini tak mungkin terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Perdebatan soal politik dan Islam sudah terlalu panjang untuk diceritakan ulang. Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno sudah membela paham sekuler yang dirujuknya dari buku karya ‘Ali ‘Abdurraziq, dan sudah didebat habis oleh Natsir. Di jaman Orde Baru, Nurcholish Madjid kembali menggali pemikiran ‘Ali ‘Abdurraziq dari karyanya yang persis sama, dan sudah didebat pula oleh Buya Hamka. Sampai hari ini, kita masih mendengar kaum sekuler menggaungkan nama ‘Ali ‘Abdurraziq dan karyanya yang itu-itu lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Di bulan Ramadhan kali ini, seperti biasa, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tidak pernah menyebut dirinya sebagai partai sekuler disibukkan dengan kegiatan-kegiatan ‘abnormal’. Bagi mereka yang sudah terlanjur mengikuti cara berpikir ala sekuler, memang aneh jika melihat partai yang ‘terlalu serius’ mengurusi Ramadhan. Memang di negara yang mayoritas Muslim ini sudah lazim bagi semua partai atau organisasi (bahkan tokoh masyarakat) untuk memasang spanduk atau baliho ucapan selamat menunaikan ibadah puasa; tapi tidak lebih dari itu! Bagi PKS, nampaknya urusannya sedikit lebih rumit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>[Video] Kajian Ramadhan Haditsul Isnain Bersama KH. DR. Amir Faisol Fath, MA</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/06/video-kajian-ramadhan-haditsul-isnain.html</link><pubDate>Fri, 26 Jun 2015 07:50:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/06/video-kajian-ramadhan-haditsul-isnain.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/06/amir-faisol-fath-e9f8c1f2.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/06/amir-faisol-fath-e9f8c1f2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Ramadhan &lt;/b&gt;adalah musim kebaikan. Bulan berlimpahnya pahala. Bulan dimana seluruh kaum muslimin di dunia menjalankan ibadah dengan penuh semangat, berbondong-bondong, dan terasa sangat ringan. Masjid dan musholla penuh sesak dengan jamaah yang semangat beribadah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Tak ketinggalan, DPP PKS pun turut serta menyemarakkan bulan Ramadhan dengan menyelenggarakan Kajian Ramadhan Haditsul Isnain dengan pembicara KH. DR. Amir Faisol Fath, MA bertempat di MD Building 22 Juni 2015.&lt;/div&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Berikut ini link videonya:&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;iframe width="320" height="266" class="YOUTUBE-iframe-video" data-thumbnail-src="https://i.ytimg.com/vi/O2Ganl5RzXA/0.jpg" src="https://www.youtube.com/embed/O2Ganl5RzXA?feature=player_embedded" frameborder="0" allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;br /&gt;</description></item><item><title>Bahagia Ramadhan Tiba | Taujih Hatta Syamsudin, Lc.</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/06/bahagia-ramadhan-tiba-taujih-hatta.html</link><pubDate>Thu, 18 Jun 2015 10:22:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/06/bahagia-ramadhan-tiba-taujih-hatta.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/06/hatta-61458333.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/06/hatta-61458333.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Marhaban&lt;/b&gt; Ya Ramadhan … Bulan Ramadhan telah benar-benar di hadapan. Kaum muslimin kembali bergembira dengan datangnya bulan yang mulia ini. Setelah sebelas bulan kita mengarungi kehidupan yang penuh warna-warni, maka inilah momentum yang tepat bagi kita semua untuk membersihkan diri dari segala dosa yang melekat tanpa kita sadari.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sungguh kita semua bergembira sepenuh hati dengan datangnya Ramadhan yang penuh berkah. Rasa gembira ini adalah cerminan ketakwaaan yang ada dalam hati kita, karena sejatinya bulan Ramadhan adalah salah satu dari syiar dalam agama kita, yang harus senantiasa kita hormati dan agungkan. Allah SWT berfirman : “ Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS Al-Hajj 32)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sesungguhnya kita bergembira dengan hadirnya Ramadhan, karena bulan ini membawa banyak keutamaan bagi kita semua. Jika kita merenunginya satu persatu lebih mendalam, maka tentulah kegembiraan itu akan kian bertambah lengkap dan sempurna. Marilah kita melihat beberapa keutamaan Ramadhan yang menjadikan alasan kita bersuka cita menyambutnya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;h6&gt;&#10;&lt;strong&gt;Pertama : Ramadhan penggugur dosa&lt;/strong&gt;&lt;/h6&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Rasulullah SAW bersabda dengan lisannya yang mulia : Shalat lima waktu, shalat jum’at sampai ke shalat jum’at berikutnya, puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya adalah sebagai penghapus (dosa) apabila perbuatan dosa besar ditinggalkan”. (HR. Muslim)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Hadirnya Ramadhan sungguh menjadikan momentum bagi kita untuk membersihkan diri dari segala noda dosa dan kemaksiatan yang tidak kita sadari. Ibaratnya pakaian yang sehari-hari kita pakai, meskipun tidak terkena lumpur atau kotoran yang jelas, tetap saja kita harus mencucinya karena ada debu yang melekat erat. Begitupun diri kita, sekalipun kita tidak menjalani dosa besar, namun tentu saja tanpa kita sadari terkadang ada hal yang kita lakukan menyebabkan noda kecil dalam hati kita, bisa jadi melalui lisan, pandangan, atau bahkan anggota badan kita.&lt;/div&gt;&#10;&lt;h6&gt;&#10;&lt;strong&gt;Kedua : Ramadhan Musim Kebaikan, Berlimpah Pahala&lt;/strong&gt;&lt;/h6&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kemudian yang membuat kita berbahagia adalah, karena Ramadhan merupakan bulan musim kebaikan, dimana kita semua menjalankan ibadah dengan penuh semangat, berbondong-bondong dan sungguh terasa lebih ringan. Inilah yang dijelaskan dalam hadist Rasulullah SAW, tentang Ramadhan sebagai musim kebaikan yang menakjubkan : “(Bulan dimana) dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, syetan-syetan dibelenggu. Dan berserulah malaikat : wahai pencari kebaikan, sambutlah. Wahai pencari kejahatan, berhentilah” (demikian) sampai berakhirnya ramadhan” ( HR Ahmad)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Inilah yang menjadikan kita bergembira, karena kebaikan begitu mudah dijalankan. Bersama sama kita lihat di masjid, mushola, bahkan di rumah-rumah kita, bagaimana Ramadhan menyinari kita dengan banyak amal dan kegiatan yang tak putus dan henti-hentinya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;h6&gt;&#10;&lt;strong&gt;Ketiga : Bulan Syiar Ukhuwah dan Berbagi&lt;/strong&gt;&lt;/h6&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Hal ketiga yang membuat kita berbahagia adalah, karena Ramadhan adalah bulan dimana ukhuwah kita meningkat dengan banyaknya kegiatan dan kebersamaan, baik di masjid, lingkungan maupun perkantoran. Begitu pula dengan semangat berbagi yang semakin meningkat di bulan Ramadhan, baik melalui sedekah, infaq maupun memberikan makanan berbuka kepada mereka yang berpuasa. Rasulullah SAW memberikan keteladanan dalam menjadikan Ramadhan sebagai bulan berbagi. Dari ibnu Abbas ra : “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya lebih lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus”. ( Shahih Al Bukhari)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Akhirnya, marilah kegembiraan ini kita jadikan sebagai pemicu awal untuk lebih bersemangat dalam mengarungi samudera keberkahan Ramadhan dengan ragam ibadahnya yang mulia. Kita menjalaninya satu persatu dengan ringan penuh suka cita, agar semua yang dijanjikan bisa kita dapatkan dalam Ramadhan ini. Semoga Allah SWT mudahkan.&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Bulan Ramadhan, Bulan Kaum Dhuafa | Taujih KH. Hilmi Aminuddin</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/06/bulan-ramadhan-bulan-kaum-dhuafa-taujih.html</link><pubDate>Wed, 10 Jun 2015 12:48:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/06/bulan-ramadhan-bulan-kaum-dhuafa-taujih.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/06/hilmi-aminuddin-e5cc03e0.png" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/06/hilmi-aminuddin-e5cc03e0.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;JAKARTA (9/6)&lt;/b&gt; – Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hilmi Aminuddin mengingatkan seluruh kader PKS untuk memberikan perhatian lebih kepada kaum dhuafa pada Bulan Ramadhan 1436 H. Hal ini disampaikan tokoh yang akrab disapa Ustadz Hilmi tersebut pada Konsolidasi dan Tarhib Ramadhan PKS di Jakarta, Selasa (9/6).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;“Syahrul Ramadhan (Bulan Ramadhan) adalah bulan untuk mengingatkan simpati kita kepada kaum dhuafa, terutama yang ada di bangsa ini. Oleh karena Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk melihat segala kebutuhan kita dalam memulihkan kondisi&amp;nbsp;&lt;i&gt;(recovery)&lt;/i&gt;, baik diri sendiri maupun masyarakat,” katanya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Menurut Ustadz Hilmi, pemulihan kondisi harus dimulai dari kaum dhuafa. Jangan sampai titik dhuafa terabaikan yang justru menjadi sumber kelemahan bagi diri sendiri dan masyarakat, karena muncul masalah dalam hal kesejahteraan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sementara itu, Ketua Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) DPP PKS, Mardani Ali Sera menjelaskan konsolidasi kali ini mengangkat tema 'Meraih Sukses Rekrutmen Kader dan Pilkada Serentak 2015'.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;“Ada dua tema yang dibahas pada konsolidasi kali ini antara lain soal penjaringan kader baru dan kesiapan PKS pada Pilkada serentak di 271 Daerah Tingkat (Dati), baik Dati I (provinsi) maupun Dati II (kabupaten/kota),” jelas Mardani.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Konsolidasi diikuti oleh pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Syariah Pusat (DSP), Majelis Pertimbangan Pusat (MPP), serta Pimpinan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS se-Indonesia. Hadir pada kesempatan itu Presiden PKS Anis Matta, Ketua DSP Surahman Hidayat, Ketua MPP Untung Wahono, Bendahara Umum Mahfudz Abdurrahman, Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini, serta para anggota dewan lain.&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Syarat Kemenangan | Taujih KH. Hilmi Aminuddin</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/06/syarat-kemenangan-taujih-kh-hilmi.html</link><pubDate>Tue, 09 Jun 2015 13:26:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/06/syarat-kemenangan-taujih-kh-hilmi.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/06/hilmi-a-8ef9536c.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/06/hilmi-a-8ef9536c.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ikhwan dan Akhwat Fillah…&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Saya ingin mengingatkan, betapa pun kemajuan-kemajuan teknologi yang kita pakai dalam manajemen, betapa pun bagusnya teori-teori manajemen yang kita adopsi dan kita terapkan dalam jama’ah kita ini, tapi jangan lupa dengan hal yang sangat substansial, bahwa doktrin dakwah kita tidak pernah berubah. Kemenangan-kemenangan dakwah persyaratannya tidak pernah berubah. Kemenangan perjuangan hanya akan dicapai oleh kelompok, oleh jama’ah yang&amp;nbsp;&lt;em&gt;aqrabuhum ilallah wa ashlahuhum linnas&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(yang paling dekat kepada Allah dan yang paling baik kepada manusia). Tidak lebih dari itu. Orang yang paling dekat kepada Allah dan yang paling&amp;nbsp;&lt;em&gt;ashlah&lt;/em&gt;&amp;nbsp;bagi kehidupan manusia, itulah yang akan diberikan kesempatan menang oleh Allah SWT. Yang dalam tingkat operasional, ujung tombaknya adalah&amp;nbsp;&lt;em&gt;ihsan.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;(Q.S. Al-Qashash: 77)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;(Q.S. An-Nahl: 125)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Itu adalah yang substansial. Sifatnya tidak pernah berubah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Jadisekali lagi secara ringkas Allah menjelaskan kunci kemenangan adalah&amp;nbsp;&lt;em&gt;aqrabuhum ilallah wa anfa’uhum linnas wa ashlahuhum linnas,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;mereka yang paling dekat kepada Allah dan bermanfaat serta yang paling baik kepada manusia.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(Q.S. Al-Hajj: 22)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Untuk mencapai&amp;nbsp;&lt;em&gt;falaah,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;kemenangan, Allah menjelaskan adanya syarat kualitas dan kuantitas pendekatan kita kepada Allah. Kuantitas dan kualitas&amp;nbsp;&lt;em&gt;ishlah&amp;nbsp;&lt;/em&gt;kita&amp;nbsp;&lt;em&gt;bainannaas.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Itu rumusan dasar yang tidak boleh ditinggal.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;Naudzubillah&amp;nbsp;&lt;/em&gt;bila peningkatan kualitas administrasi, kualitas manajemen, ternyata kosong dari rumusan dasar&amp;nbsp;&lt;em&gt;aqrabuhum ilallah, ashlahuhum linnas.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Bila itu terjadi, tidak akan menjanjikan keberhasilan dan kemenangan. Sekali lagi peningkatan-peningkatan kualitas manajemen, kualitas&amp;nbsp;&lt;em&gt;idariyah,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;bahkan sarana prasarana dan metode-metode pendekatan, harus tidak dilepaskan dari hal-hal substansi.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Mudah-mudahan—&lt;em&gt;insya Allah&lt;/em&gt;—kita bisa menampilkan secara penuh di tengah-tengah masyarakat sebagai entitas ummat yang&amp;nbsp;&lt;em&gt;aqrabuhum ilallah&amp;nbsp;&lt;/em&gt;dan&amp;nbsp;&lt;em&gt;ashlahuhum linnas.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;[ ]&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.al-intima.com/taujih-hilmi-aminuddin/syarat-kemenangan"&gt;Al Intima&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Membaca Al-Quran Adalah Ibadah, Jangan Permainkan</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/05/membaca-al-quran-adalah-ibadah-jangan.html</link><pubDate>Sun, 24 May 2015 06:02:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/05/membaca-al-quran-adalah-ibadah-jangan.html</guid><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;img src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/05/amir-faishol-43a2738a.jpg" /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Oleh DR Amir Faishol Fath&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Saya akan ringkas ceramah saya di acara &amp;lsquo;Damai Indonesiaku&amp;rsquo; TVONE, Sabtu (23/5/2015): &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;1. Al Quran kitab ibadah maka membacanya dalam rangka ibadah. Maka jangan main2.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;2. Bukan ibadah namanya kalau mempermainkan bacaan Al Quran. Itu sekedar sampai di kerongkngan spt dalam hadits.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;3. Salah satu bentuk ibadah bersama Al Quran adalah membacanya sesuai dg cara yg Allah dan RasulNya ajarakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;4. Dalam mebaca Al Quran ada dua aturan yg harus dipenuhi : pelafalan huruf dan tajwid yang benar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;5. Irama membaca diperintahkan Nabi dalam rangka mendukung pelafalan huruf dan tajwid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;6. Maka irama apapun jika tidak penuhi dua syarat trsebut ditolak. Baik itu irama Arab (al lahnul araby) atau non Arab (al lahnul ajami).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;7. Adapun langgam ada dua: langgam araby yg netral seperti bayati dst dan langgam yg yg sudah mewakili aliran tertntu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;8. Adapun langgam yg sudah membawa aliran tertentu seperti langgam jawa maka itu yg nabi tegur tidak boleh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;9. Tidak boleh kerena membawa irama gamelan yg sudah diperdengarkan dalam ritual2 masyarakat jawa dg kejawennya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;10. Maka untuk langgam yg membawa ritual dosa (ahlul fisq) kemusyrikan, atau ritual ahlul kitab itu tdk boleh dijadikan lagu Al Quran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;11. Tidak boleh karena esensi langgam tersebut membawa ritual dosa. Sekalipun tajwid dan hurufnya benar tetap tidak boleh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;12. Demikian semoga kita segera pindah dari sibuk dg maslah ini ke masalah bagaimana mensejahtrakan rakyat di negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Orangtua, Ladang Amalan Terbaik Kita</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/05/orangtua-ladang-amalan-terbaik-kita.html</link><pubDate>Wed, 13 May 2015 06:45:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/05/orangtua-ladang-amalan-terbaik-kita.html</guid><description>&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Suatu ketika, dikisahkan bahwa yang mulia Nabi SAW pernah ditanya oleh sahabatnya tentang beda antara kebaikan dan perbuatan dosa. Pertanyaan tersebut dengan tenang dan arif penuh wibawa dijawab oleh Rasul Agung bahwa kebaikan adalah akhlak mulia (khusnul khuluq) sementara perbuatan dosa adalah sesuatu hal yang membuat hati kita menjadi tidak tenang dan tidak ingin perbuatannya diketahui orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Dalam tataran praktek dan contoh teladan, akan banyak kita temukan penjelasan atas definisi kebaikan dan perbuatan dosa seperti dimaksud di atas. Bagaimana orang-orang yang dekat di sekeliling kita memaknainya dengan tindakan yang kasat mata tampak di hadapan kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Salah satu akhlak mulia yang sungguh dekat dengan kita, namun banyak diabaikan adalah bagaimana kita dapat berbuat baik kepada orang tua dalam segala hal di setiap kesempatan. Sebuah akhlak mulia kepada orang terdekat kita di dalam dinding masing-masing rumah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Berbuat baik kepada orang tua adalah kewajiban hidup yang seharusnya dipraktekkan. Bahkan, akhlak ini harus tetap wajib ditunaikan sekalipun orang tua kita dalam kesesatan dan menciderai kita sebagai anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Adalah teladan sahabat Nabi SAW, ketika diminta oleh ibundanya sendiri untuk meninggalkan agama yang dibawa oleh Nabi SAW untuk kembali kepada agama nenek moyangnya. Bahkan, permintaan ibundanya ini disertai dengan ancaman tidak akan makan dan minum sebelum sahabat tersebut kembali kepada agama nenek moyangnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Namun, sahabat mulia tersebut dengan arif bijaksana menjawab permintaan berikut ancaman tersebut tanpa kemudian melukai hati ibundanya dan menjatuhkan martabatnya. Beliau, sahabat mulia itu, berkata: walaupun memiliki 1000 nyawa dan hilang satu-persatu, namun beliau tidak akan mengikuti permintaan bundanya dengan meninggalkan agama yang baru dianutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Perbuatan baik kepada orang tua termasuk amalan yang terbaik disisi-Nya. Bahkan amalan ini oleh Nabi SAW disejajarkan dengan amalan utama lainnya. Hal tersebut terekam dalam jawaban Nabi Muhammad SAW ketika sahabat bertanya tentang amalan-amalan terbaik antara lain shalat tepat waktu, berbuat baik kepada orang tua dan jihad fii sabilillah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Kemuliaan dan keutamaan amalan ini tergambar dalam kisah al-Qamah, seorang sahabat yang tertahan dalam kondisi sakaratul maut, namun tidak kunjung meninggal dunia. Ternyata, al-Qamah memiliki kesalahan kepada ibundanya yang berakibat ketidakrelaannya kepada anaknya itu. Berkali permintaan Rasulullah, namun tidak digubris oleh ibunya. Sampai akhirnya, rencana akan dibakarnya al-Qamah menyebabkan ibunya mau memaafkannya sehingga anaknya itu dapat meninggal dengan tenang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Amalan ini juga menjadi dasar sebab keberhasilan dan kesuksesan seseorang dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Karena adanya faktor doa orang tua yang terijabah oleh Allah SWT. Adalah kisah kehidupan ulama hadits terkenal, Imam Bukhari yang terlahir buta di kedua matanya. Namun berkat doa yang dipanjatkan tiada henti oleh ibunya, menyebabkan pulihnya penglihatan mata sang ahli hadits tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Ada banyak cara mengamalkan kebaikan kepada orang tua, adalah tergantung kondisi yang tampak, apakah itu objek pelaku (kita); pelaku penderita (orang tua kita) atau bergantung pada situasi. Dalam suatu biografi tentang perjalanan sukses seorang pengusaha, didapati bahwa ternyata ketika dalam titik nol keputusasaan karena kebangkrutan, pengusaha tersebut mendatangi orang tuanya seraya memohon maaf serta membasuh kedua telapak kaki ibundanya sebelum akhirnya dia menapaki tangga pertama suksesnya bangkit dari keterpurukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Bagaimana dengan kita? Amalan terbaik apa yang bisa kita persembahkan kepada orang tua sehingga menjadikan Allah SWT menerangi kita dengan jalan sukses dunia dan akhirat?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Inilah Amalan-amalan Pembuka Pintu Di Syurga</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/03/inilah-amalan-amalan-pembuka-pintu-di.html</link><pubDate>Wed, 18 Mar 2015 05:46:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/03/inilah-amalan-amalan-pembuka-pintu-di.html</guid><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container"&gt;&lt;tbody&gt;&#10;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;img height="266" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/03/gambar-9c85db0d.jpg" width="400" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&#10;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&#10;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;SYURGA &lt;/b&gt;menjadi tujuan semua manusia tanpa terkecuali. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini menginginkan masuk ke dalam neraka, sebab keadaan neraka yang amat seram siksanya. Manusia akan dihisab terlebih dahulu sebelum melanjutkan langkahnya kepada pintu yang dituju.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dengan hisaban, manusia akan terukur amalan yang sudah dilakukannya selama di dunia. Di antara pastilah berdea-beda timbangannya sesuai kadar amalannya. Mereka yang banyak amalan yang baik maka akan masuk ke dalam syurganya Allah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Rasulullah SAW bersabda maksudnya : “Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu syurga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’Maka orang yang termasuk golongan ahli solat maka ia akan dipanggil dari pintu solat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ketika mendengar hadist ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?.”&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Maka baginda pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka,” (HR. Bukhari dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Berdasarkan hadist sahih di atas jelaslah kepada kita semua bahawa setiap amal soleh dan amal kebaikan yang kita kerjakan di dunai ini semuanya tidak akan disia-siakan oleh Allah SWT. Segala kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, sehinggakan setiap amal soleh yang banyak dikerjakan oleh seseorang mukmin di dunia ini terdapat pintu-pintu khusus untuk dia memasukinya.Ini menunjukkan bagaimana Allah SWT mencintai para hamba-Nya yang beristiqamah dengan amal-amal soleh dan kebaikan dengan melipatgandakan amalan tersebut.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Terdapat 5 amal soleh yang mempunyai pintu-pintu khusus di syurga yaitu :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Pertama : Pintu Infak – Sesiapa yang banyak infakkan hartanya dijalan Allah SWT.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang hartanya’ : Ada yang berpendapat bahawa yang dimaksud dengan ‘sepasang harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor unta (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sedangkan yang dimaksud dengan berinfak di jalan Allah dalam hadis ini mencakup berinfak untuk segala bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Apabila kita memberikan harta kita untuk kerja-kerja dakwah menyebarkan risalah Islam, memberi tarbiah dan meninggikan syiar Islam dan menderma dan membantu saudara-saudara kita di Palestin dan Syria yang sedang berjuang mendaulatkan Islam dan mempertahankan tanah air mereka daripada kezaliman golongan Zionis dan Syiah adalah termasuk berinfak di jalan Allah SWT.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Kedua : Pintu Solat – Sesiapa yang banyak mengerjakan solat.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Solat yang paling afdal selepas solat fardu adalah Solat Tahajud. Solat Tahajud ialah ibadah yang kita lakukan pada malam hari, biasanya tengah malam atau lewat tengah malam. Solat tahajud juga dikenali juga sebagai salatullail. Solat ini sangat baik dilakukan terutama kepada para pemimpin Islam kerana Rasulullah S.A.W dan para sahabat r.a tidak meninggalkan solat ini sepanjang hayat mereka, sebagai ibadah tambahan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dalam Al-Quran terdapat banyak ayat-ayat yang menggalakkan umat Islam mengerjakan solat tahajud sebagai ibadah tambahan pada waktu malam begitu juga terdapat beberapa hadis Nabi S.A.W. mengenai perkara ini.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Firman Allah SWT maksudnya : “Dan bangunlah pada sebahagian dari waktu malam serta kerjakanlah “Solat Tahajjud” padanya, sebagai solat tambahan bagimu; semoga Tuhanmu membangkit dan menempatkanmu pada hari akhirat di tempat yang terpuji,”&lt;br /&gt;&#10;(QS. al-Israa’: 79)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Selain daripada Solat Tahajud solat yang dituntut adalah solat-solat sunat yang lain :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;1. Solat Witir.&lt;br /&gt;&#10;2. Solat Duha.&lt;br /&gt;&#10;3. Solat Sunat Rawatib.&lt;br /&gt;&#10;4. Solat Tasbih.&lt;br /&gt;&#10;5. Solat Istikharah.&lt;br /&gt;&#10;6. Solat sunat ketika masuk dan keluar rumah.&lt;br /&gt;&#10;7. Solat selepas berwuduk.&lt;br /&gt;&#10;8. Solat Hajat.&lt;br /&gt;&#10;9. Solat Taubat.&lt;br /&gt;&#10;10. Solat Tahyatul Masjid.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Ketiga : Pintu Jihad – Sesiapa yang sentiasa berjihad di jalan Allah SWT.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Berjihad dijalan Allah SWT cukup luas bukan sahaja mengangkat senjata memerangi golongan kafir tetapi bekerja dan berusaha amar makruf nahi mungkar adalah termasuk berjihad dijalan Allah SWT. Berusaha untuk menegakkan sistem hidup Islam, menyebarkan fikrah dan kefahman Islam samaada melalui di media masa, internet , buku, risalah, television, radio dan lain-lain adalah termasuk kerja-kerja jihad dijalan Allah SWT.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Berjihad di jalan Allah SWT berlaku umum bagi seluruh kaum muslimin. Masing-masing mereka wajib berjihad sesuai dengan kemampuannya. Dan perintah agar berjihad dengan sebenar-benarnya ini perintah-Nya untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;&#10;Seperti firman Allah SWT maksudnya ” Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Surah al-Hajj ayat 78)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Keempat : Pintu Ar-Royyan- Sesiapa yang banyak mengerjakan puasa.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Untuk terpilih memasuki Pintu Ar-Royyan seseorang itu bukan setakat mengerjakan puasa Ramadan sahaja tetapi mereka perlulah banyak mengerjakan puasa-puasa sunat yang lain. Puasa-puasa sunat seperti :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;1. Puasa enam hari di bulan Syawal.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;2. Puasa hari Isnin dan Khamis.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;3. Puasa tiga hari setiap bulan. (13, 14 dan 15 )&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;4. Puasa Hari Arafah.(9 Zulhijjah)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;5. Puasa Asura. (10 Muharam)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;6. Puasa hari Tasu’a (9 Muharram)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;7. Puasa dibulan Syaaban. (perbanyakkan puasa sunat).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Mengerjakan puasa-puasa sunat hendaklah dengan ikhlas dan menjauhkan diri daripada melakukan perkara-perkara yang boleh membatalkan puasa dan membatalkan pahala puasa. [&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;em&gt;62 Amalan Pembuka Pintu Syurga/Karya: Abdullah bin Ali Al-Ju’aistin/Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i&lt;/em&gt;]&lt;br /&gt;&#10;Bersambung.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber:&lt;a href="https://www.islampos.com/inilah-amalan-amalan-pembuka-pintu-di-syurga-1-169370/"&gt;islampos.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Membagi Tugas Dakwah</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2015/03/membagi-tugas-dakwah.html</link><pubDate>Thu, 05 Mar 2015 10:49:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2015/03/membagi-tugas-dakwah.html</guid><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container"&gt;&lt;tbody&gt;&#10;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;img src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2015/03/belajar-kerja-sama-7ae2d3f3.jpg" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&#10;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&#10;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(Q.S. At-Taubah: 122)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Asbabun Nuzul&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang menceritakan, bahwa ketika diturunkan firman-Nya,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih.”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(Q.S. At-Taubah 39). Tersebutlah pada saat itu ada orang-orang yang tidak berangkat ke medan perang, mereka berada di daerah badui (pedalaman) karena sibuk mengajarkan agama kepada kaumnya. Maka orang-orang munafik memberikan komentarnya,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Sungguh masih ada orang-orang yang tertinggal di daerah-daerah pedalaman, maka celakalah orang-orang pedalaman itu.”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Kemudian turunlah firman-Nya yang menyatakan,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(Q.S. At-Taubah 122).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Abdullah bin Ubaid bin Umair yang menceritakan, bahwa mengingat keinginan kaum Mukminin yang sangat besar terhadap masalah jihad, disebutkan bahwa bila Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;mengirimkan pasukan perang, maka mereka semuanya berangkat. Dan mereka meninggalkan Nabi&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;di Madinah bersama dengan orang-orang yang lemah. Maka turunlah firman Allah surah At-Taubah ayat 122 ini (lihat:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Terjemah Asbabun Nuzul,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;hal. 268)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Penjelasan Ayat&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Mengenai ayat ini Asy-Syaikh Thanthawi Jauhari mengatakan: “Sebaiknya orang-orang mukmin tidak harus selalu pergi semua untuk berperang atau mencari ilmu, demikian pula tidak harus di rumah (berdiam diri) semua, karena itu membuat cacat urusan kehidupan. Sebaiknya supaya ada pembagian tugas di antara mereka, sebagian dari tiap-tiap kelompok supaya ada yang mendalami agama karena mereka dituntut untuk mengambil bagian dalam menghasilkan fiqih (pemahaman tentang agama) dengan tujuan setelah menghasilkan fiqih (pemahaman tentang agama) lalu mengajarkan kepada kaumnya dan menyebar luaskan agar&amp;nbsp; mereka takut terhadap apa yang mereka telah ditakut-takuti…” (lihat:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Al-Jawahir Fi Tafsiril Qur’anil ‘Adzim,&lt;/em&gt;&amp;nbsp;hal. 171)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Hal senada disebutkan pula dalam&amp;nbsp;&lt;em&gt;Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu&lt;/em&gt;&amp;nbsp;bahwa dalam ayat ini Allah SWT menerangkan, tidak perlu semua orang Mukmin itu berangkat semua ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saja.&amp;nbsp; Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi bertekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam, supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan da’wah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sa’id Hawwa dalam Kitab&amp;nbsp;&lt;em&gt;Al-Asasu Fit Tafsir&lt;/em&gt;, memberikan penjelasan serupa tentang ayat ini sebagai berikut : “Sebaiknya sebagian orang keluar (ke medan perang) dan sebagian tinggal (tidak berangkat perang) untuk mencari kebaikan dengan mendalami agama, mendengarkan wahyu yang diturunkan, dan menyeru kepada orang-orang (yang berperang) ketika mereka kembali (&lt;em&gt;Al-Asasu Fit-Tafsir&lt;/em&gt;, Kairo, Dar Al-Salam, 1405 H/1985 M, hlm. 2375).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Pelajaran Bagi Gerakan Islam&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Surat At-Taubah ayat 122 ini memberi pelajaran dan arahan yang berharga bagi gerakan Islam dimana pun mereka berada. Ia menegaskan tentang pentingnya memperhatikan pembagian tugas di dalam perjuangan dan berdisiplin dalam melaksanakannya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Menurut Buya Hamka melalui ayat ini Allah telah menganjurkan pembagian tugas dan menuntun hendaklah jihad itu dibagi kepada jihad bersenjata dan jihad memperdalam ilmu pengetahuan dan pengertian tentang agama.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;“Ada pahlawan di medan perang, dengan pedang di tangan dan ada pula pahlawan di garis belakang merenung kitab. Keduanya penting dan keduanya isi-mengisi.” Demikian tegas Buya (lihat: Tafsir Al Azhar Juz XI, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984, hlm. 87.)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Jadi seperti disimpulkan M. Quraish Shihab, tujuan utama ayat ini adalah menggambarkan bagaimana seharusnya tugas-tugas dibagi sehingga tidak semua mengerjakan satu jenis pekerjaan saja (lihat:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Tafsir Al-Mishbah&lt;/em&gt;, V.II, Lentera Hati, Jakarta, 2002, hlm. 750-751).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Maka, tidak sepatutnya gerakan Islam menumpahkan sebagaian besar potensinya hanya pada satu bidang garapan saja. Meskipun bidang garapan itu dianggap paling strategis dan menjadi tuntutan utama dalam mewujudkan kemaslahatan bagi tegaknya agama. Tidak sepatutnya gerakan Islam menghamburkan tenaganya dalam jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;qitali&lt;/em&gt;, jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;iqtishadi&lt;/em&gt;, atau jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;siyasi&lt;/em&gt;, namun mengabaikan jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;tablighi&lt;/em&gt;, jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;ta’limi&lt;/em&gt;, atau jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;tarbawi.&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Tidak sepatutnya gerakan Islam menggerakkan potensi kader-kadernya hanya pada satu jenis pekerjaan, kemudian menelantarkan pekerjaan-pekerjaan lainnya, padahal pekerjaan-pekerjaan yang ditelantarkan itu sangat menentukan keberhasilan pekerjaan yang sedang digarap.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Jika gerakan Islam tidak pandai menata pembagian tugas secara proporsional, dikhawatirkan —meminjam istilah Asy-Syaikh Thanthawi Jauhari—akan ‘membuat cacat urusan&amp;nbsp; kehidupan’. Gerakan Islam lambat laun akan melemah, keropos, tumbang, dan bahkan mati.&lt;em&gt;Na’udzubillahi min dzalik…&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sepatutnya gerakan Islam bertindak&amp;nbsp;&lt;em&gt;tawazun&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(seimbang). Melangkah dengan sabar dan teratur. Sehingga jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;qitali&lt;/em&gt;, jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;iqtishadi&lt;/em&gt;, atau jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;siyasi&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dapat berjalan beriringan dengan jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;tablighi&lt;/em&gt;, jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;ta’limi&lt;/em&gt;, atau jihad&amp;nbsp;&lt;em&gt;tarbawi.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Tentu saja dengan disertai pembagian tugas yang disiplin di antara para kader gerakan Islam. Dengan begitu,&amp;nbsp; satu bidang garapan tidak akan menjadi parasit bagi bidang garapan lainnya. Wallahu A’lam…&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.al-intima.com/harakatuna/membagi-tugas-dakwah"&gt;Al Intima&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Ruhul Istijabah | Semangat Menyambut Panggilan Dakwah</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/12/ruhul-istijabah-semangat-menyambut.html</link><pubDate>Sun, 28 Dec 2014 13:01:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/12/ruhul-istijabah-semangat-menyambut.html</guid><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container"&gt;&lt;tbody&gt;&#10;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;img src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/12/cimg1550-84ba9236.jpg" height="480" id="irc_mi" width="640" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&#10;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&#10;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Oleh : Ust. Abdul Muiz, MA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Bersemangat &lt;/b&gt;dalam menyambut panggilan da’wah menunjukkan adanya&#10;keseriusan (jiddiyah) karena keseriusan adalah salah satu ciri kader&#10;militan. Keimanan seseorang belum sempurna kecuali apabila mendengar&#10;panggilan Allah dan Rasul-Nya segera menyambut panggilan tersebut dengan&#10; senang hati dan penuh semangat, Al-Qur’an mengingatkan kita tentang hal&#10; itu “Hai orang¬-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan&#10;Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan&#10;kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasai antara&#10;manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan&#10;dikumpulkan “. (AI-Anfal :24 ).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kader da’wah apabila mendengar panggilan da’wah ia sambut dengan&#10;kata-kata “sam’an wa tha’atan” (kami dengar dan kami taati) “labaik wa&#10;sa’daik” (kami siap melaksanakan perintah dengan senang nati). Para&#10;sahabat Rasul di saat menjelang perang Badar, ketika Rasul ingin&#10;mengetahui kesiapan mereka untuk perang menghadapi musyrikin Quraisy,&#10;mengingat tujuan awal mereka bukan untuk perang tetapi untuk menghadang&#10;kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, namun kafilah itu berhasil&#10; meloloskan diri dari hadangan kaum muslimin, maka Rasul bermusyawarah&#10;dengan mereka tentang apa harus dilakukan. Dari kalangan Muhajirin Abu&#10;Bakar dan Umar bin Khattab menyambut baik untuk terus maju ke medan&#10;pertempuran.&lt;br /&gt;&#10;sedangkan Miqdad bin `Amru mengatakan : “Wahai Rasulullah, laksanakanlah&#10; apa yang telah diberitahukan Allah kepadamu, kami tetap bersamamu. Demi&#10; Allah kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan&#10;Bani Israel kepada Nabi Musa,yaitu “Pergilah kamu bersama Rabbmu dan&#10;berperanglah, kami tetap duduk di sini”. Tetapi yang kami katakan&#10;kepadamu adalah : “Pergilah kamu ber-sama Rabbmu dan berperanglah, kami&#10;ikut berperang bersamamu”. Demi Allah yarg mengutusmu membawa kebenaran,&#10; seandainya kamu mengajak kami ke Barkul Ghimad (suatu tempat di Yaman,&#10;red ) pasti kami tetap mengikutimu sampai di sana. Setelah sahabat&#10;Muhajirin, sahabat Anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Mu’adz&#10;menyampaikan sikapnya :”Kami telah beriman kepadamu dan kami bersaksi&#10;bahwa apa yang kamu bawa adalah benar, atas dasar itu kami telah&#10;menyatakan janji untuk senantiasa taat dan setia kepadamu. Wahai&#10;Rasulullah lakukanlah apa yang kau kehendaki, kami tetap &lt;span class="skimlinks-unlinked"&gt;bersamamu.Tidak&lt;/span&gt;&#10; ada seorangpun diantara kami yang mundur dan kami tidak akan bersedih&#10;jika kamu menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah&#10;menghadapi peperangan dan tidak akan melarikan diri. Semoga Allah akan&#10;memperlihatkan kepada kamu apa yang sangat kamu inginkan dari kami.&#10;Marilah kita berangkat Ilahi. Dalam riwayat lain, bahwa Saad bin Muadz&#10;berkata kepada Rasulullah, “Barang kali kamu khawatir jika kaum Anshar&#10;memandang bahwa mereka wajib menolongmu hanya di negeri mereka. Saya&#10;sebagai wakil kaum Anshar menyatakan, jalankan apa yang kau kehendaki,&#10;jalinlah persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki dan&#10;putuskanlah tali persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki.&#10;Ambillah harta benda kami sebanyak yang kau perlukan dan tinggalkanlah&#10;untuk kami seberapa saja yang kamu sukai, apa saja yang kau ambil dari&#10;kami itu tebih kami sukai daripada yang anda tinggalkan. Apapun yang&#10;kamu perintahkan maka kami akan mengikutinya, demi Allah jika kamu&#10;berangkat sampai ke Barkul Ghimad kami akan berangkat bersamamu, demi&#10;Allah seandainya kamu menghadapkan kami pada lautan kemudian kamu terjun&#10; ke dalamnya maka kamipun akan terjun ke dalamnya bersamamu. (Rakhikul&#10;Makhtum 285-286 ). Hasan AI-Banna berkata da’wah pada tahap pembinaan&#10;(takwin) shufi disisi ruhiyah dan askari (kedisiplinan) dari sisi&#10;amaliyah (operasional), slogannya adalah amrun wa thoatun (perintah dan&#10;laksanakan ) tanpa ada rasa bimbang, ragu, komentar, dan rasa berat’.&#10;(Risalah Pergerakan 2).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Empat Aspek Ruhul Istijabah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;1. Istijabah Fikriyah (Menyambut dengan pikiran /dengan sadar).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&#10;Kader da’wah ketika mendapat tugas dari Murobbi, Pembina, maupun Qiyadah&#10; tidak hanya sekadar melaksanakan perintah dan tugas, tetapi ia sadar&#10;betul apa yang dikerjakannya adalah dalam rangka taat kepada Allah dan&#10;meraih ridho-Nya, bila dilakukan mendapat pahala dan bila tidak&#10;dilakukan dosa.&lt;br /&gt;&#10;Karena itu para kader da’wah harus memahami, bahwa melaksanakan perintah&#10; dan tugas yang datang dari Murobbi, Pembina atau Qiyadah dalam rangka&#10;taat kepada Allah. karena Allah telah mewajibkan taat kepada pemimpin :&#10;“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta&#10;(taatilah) pemimpin kamu… ” (An-Nisaa:59). Demi laksananya tugas secara&#10;maksimal maka seorang kader selalu memikirkan tentang bagaimana cara&#10;melaksanakan tugas dengan baik, maka ia harus memperhatikan waktu, cara&#10;dan sarana yang tepat sehingga pekerjaan dapat diselesaikan sesuai&#10;perintah, rencana, tujuan serta sasaran yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&#10;Bahkan harus memiliki kemampuan memberikan saran, pendapatdan dan&#10;pandangannya demi terselenggaranya program dengan baik, seperti yang&#10;dilakukan oleh sahabat Habab bin AI Mundzir ketika mengusulkan tempat&#10;yang strategis untuk posisi pasukan kaum muslimin pada perang Badar.&#10;Habab berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda&#10;menerima wahyu dari Allah sehingga tidak dapat diubah lagi, ataukah&#10;strategi perang? tempat ini kupilih berdasarkan strategi perang”.&#10;Kemudian Habab berujar kembali “wahai Rasulullah tempat ini tidaklah&#10;strategis. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan&#10;musuh. Kita membuat markas di sana dan menutup sumur-sumur yang ada di&#10;belakangnya, kemudian kita buat kubangan dan kita isi dengan air hingga&#10;penuh. Dengan demikian kita berperang dalam keadaan mempunyai persediaan&#10; air minum”. Rasulullah menjawab, “Pendapatmu sungguh baik “. Begitu&#10;pula, pada saat pasukan koalisi, yang terdiri dari kaum Musyrikin,&#10;bangsa Yahudi dan orang-orang Munafik menyerang Madinah, Sahabat Salman&#10;Al-Farisi menyampaikan usulannya kepada Rasulullah yaitu menggali parit&#10;di sekeliling Mmadinah, kemudian Rasulullah menerima usulan tersebut dan&#10; menjadi strategi perang yang ditetapkannya sehingga perang itu diberi&#10;nama dengan perang Khandak (parit). Pada perang Qodisiah, perang antara&#10;tentara pasukan Persia, yang terjadi di Irak pada masa pemer-intahan&#10;Umar bin Khattab, Qoqo bin Amr terus berpikir untuk menaklukkan pasukan&#10;bergajah yang menjadi andalan pasukan Persia. Sampai akhirnya Qoqo&#10;mendapatkan sebuah ide, untuk membuat patung gajah, agar kuda-kuda milik&#10; kaum Muslimin terbiasa melihat gajah sehingga ketika kuda-kuda itu&#10;berhadapan dengan gajah-gajah yang sebenarnya, tidak takut&#10;menghadapinya. Ternyata ide Qoqo ini menghasilkan buah. Pada perang&#10;Qodisiah tentara kaum Muslimin berhasil menaklukan tentara Persia yang&#10;mengandalkan pasukan bergajahnya. Khalifah Umar bin khattab pernah&#10;berucap, “Tidak akan terkalahkan kaum muslimin selama di sana ada Qoqo&#10;bin Amr”. Dalam surat Ar-Ra’d ayat 19 Allah mengingatkan kita akan&#10;keistimewaan orang¬-orang mengoptimalkan akal pikirannya: “Apakah orang&#10;yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb¬mu itu&#10; benar, sama dengan orang yang buta (tidak menggunakan akal pikirannya).&#10; Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran “.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;b&gt;2. Istijabah Nafsiyah (Menyambut dengan perasaan/emosi).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&#10;Para aktivis dan kader da’wah bila mendapat perintah dan tugas, baik&#10;tarbawi, da’awi maupun tanzhimi harus menyamtbutnya dengan perasaan&#10;senang, gembira, bahagia dan bersemangat untuk melaksanakannya.&#10;Janganlah perintah dan tugas itu disambut dengan rasa berat, malas,&#10;enggan dan tidak bergairah. Apapun kondisi yang terjadi pada diri kita,&#10;baik dalam keadaan susah, berat maupun kekuatan ma’nawiyah tidak&#10;mendukung, apalagi dalam keadaan bergembira.&lt;br /&gt;&#10;Bila datang panggilan da’wah kita tidak boleh menolaknya atau merasa&#10;enggan dan malas memenuhnya. Allah berfirman: ”Berangkatlah kamu dalam&#10;keadaan merasa ringgan ataupun ataupun merasa berat, dan berjihadlah&#10;dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih&#10;baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah :41).&lt;br /&gt;&#10;Kemudian pada ayat yang lain Allah menjelaskan,”Hai orang-orang yang&#10;beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu “Berangkatlah&#10;untuk berperang di jalan Allah “; kamu merasa berat dan ingin di&#10;tempatmu Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti&#10;kehidupan di akhirat? padahal keni’matan hidup di dunia itu dibandingkan&#10; dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat&#10; untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih&#10;dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat&#10;memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala&#10; sesuatu “. (At¬Taubah:38-39).&lt;br /&gt;&#10;Para kader yang dibina oleh Rasulullah ketika mendengar panggilan jihad&#10;mereka berlomba-lomba untuk memenuhinya dengan harapan mendapat&#10;kesempatan mati syahid di jalan Allah. Kelemahan fisik tidak menjadi&#10;alasan untuk tidak berangkat memenuhi panggilan jihad, bahkan bila&#10;mereka tidak dapat memenuhi panggilan jihad karena udzur, mereka&#10;menangis. “Dan tidak berdosa atas orang-orang yang apabila datang&#10;kepadamu sepaya kamu memberi mereka kendaraan. Lalu kamu berkata :”Aku&#10;tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu “. Lalu mereka kembali,&#10;sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka&#10; tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan “. (At-Taubah: 92).&#10;Mereka begitu semangat dalam melaksanakan perintah da’wah, perintah&#10;tersebut dikerjakan dengan suka cita, riang, gembira serta bahagia, bila&#10; mereka dapat melakukannya dengan baik. Sebaliknya, mereka bersedih dan&#10;berduka cita bila tidak dapat menjalankan perintah walaupun disebabkan&#10;udzur.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;3. Istijabah Maaliyah (Menyambut dengan harta).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&#10;Da’wah untuk menegakkan dinul Islam muka bumi adalah kerja besar bahkan&#10;tidak ada pekerjaan yang Iebih besar darinya. Kerja besar ini&#10;membutuhkan dana yang besar pula sebagaimana lazimnya proyek besar.&#10;Dalam proyek da’wah pendanaan ditanggung oleh para da’i sendir-i.&lt;br /&gt;&#10;Berkorban dengan harta dan jiwa sudah menjadi satu paket yang tidak&#10;boleh dipisahkan satu dari yang lainnya. Seperti apa yang Allah rmpaikan&#10; dalam Qur’an, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang&#10;beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… ”&#10;(At-Taubah : 111). Kemudian ayat lain Allah menjelaskan, “Hai&#10;orang¬-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan&#10;yang dapat menyelamatkan imu dari azab yang pedih ?Yaitu, kamu beriman&#10;pada Allah dan RasuINya dan berjihad di jalan Alllah dengan harta dan&#10;jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. ”&#10;(As-Shaff : 10- 11).&lt;br /&gt;&#10;Kader da’wah tidak pelit dengan hartanya untuk pembiayaan berbagai&#10;kegiatan da’wah dalam da’wah para kader dan aktivis siap mengorbankan&#10;hartanya, jangan mengharapkan keuntungan materi serta harta benda dari&#10;da’wah. Khadijah isteri Rasulullah telah memberikan seluruh kekayaannya&#10;untuk kepentingan da’wah. Pada perang tabuk kaum uslimin berlomba-lomba&#10;menginfakkan hartanya dan bersodaqah. Usman bin Affan sebelumnya telah&#10;menyiapkan kafilah dagang yang akan berangkat ke Syam berupa dua ratus&#10;onta lengkap dengan pelana serta barang-barang yang berada di atasnya,&#10;beserta dua ratus uqiyyah. Setelah mendengar pengumuman Rasulullah,&#10;Usman datang pada Rasul kemudian men-shadaqah-kan semua itu. Kemudian&#10;Usman menambah lagi seratus onta dengan pelana dan perlengkapannya.&#10;Kemudian beliau datang lagi membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan&#10;Rasulullah. Rasulullah memperhatikan apa yang dishadaqahkan oleh Usman&#10;itu seraya berkata: “Apa yang diperbuat oleh Usman setelah ini, tidak&#10;akan membahayakannya”. Usman terus bershadaqah hingga jumlahnya mencapai&#10; sembilan ratus ekor onta dan seratus ekor kuda, belum termasuk uang.&#10;Setelah Usman selesai memberikan shadaqah, giliran Abdur Rahman bin Auf&#10;datang membawa Dua ratus uqiyyah perak, tak lama setelah Abdur Rahman,&#10;datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya yang jumlahnya Empat&#10; ribu dirham, sampai-sampai beliau tidak menyisakan hartanya untuk&#10;keluar-ganya kecuali Allah dan Rasulnya. Kemudian shahabat-shahabat yang&#10; lain berdatangan. Umar menyerahkan setengah hartanya. AI-Abbas datang&#10;menyerahkan hartanya yang cukup banyak. Thalhah, Sa’ad bin Ubadah,&#10;Muhammad bin Maslamah semuanya datang menyerahkan shadaqahnya. Tidak&#10;ketinggalan Ashim bin Adi datang menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma.&#10; Kemudian diikuti sahabat yang lain mulai dari yang scdika sedikit&#10;sampai yang banyak. Sampai ada di antara mereka yang berinfaq dengan&#10;segenggam atau dua genggam kurma, karena hanya itu yang mereka mampu&#10;lakukan. Kaum wanitapun menyerahkan berrbagai perhiasan yang yang mereka&#10; miliki, seperti gelang tangan, gelang kaki, anting-anting dan cincin.&#10;Tidak ada seorangpun yang kikir menahan hartanya kecuali orang-orang&#10;Munafq. Allah berfirman : “Orang-orang Munafiq yang mencela orang-orang&#10;Mu’min yang memberi shadaqah dengan sukarela, dan merekapunv menghina&#10;orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dishadaqahkan sekedar&#10;kesanggupannya “. (At -Taubah :79)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;b&gt;4. Istijobah Harakiyah (Menyambut dengan aktivitas)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&#10;Aktivis da’wah adalah yang orang aktif dalam kegiatan da’wah, selalu&#10;hadir dalam kegiatan da’wah dan berusaha untuk berada di barisan&#10;orang-orang mengutamakan kerja daripada berbicara. Bahkan berupaya untuk&#10; berada di garda terdepan dalam mempertahankan dan membela Islam. Perlu&#10;diingat, tugas da’wah yang diemban aktivis sangat banyak., lebih banyak&#10;dari waktu yang tersedia. Tugas antara lain, pertama: Kewajiban dalam&#10;Tarbiyah, tujuannya, agar kualitas dan dan mutu kader semakin baik.&#10;Kedua: Kewajiban dalam Da’wah, tujuannya, agar penyebaran da’wah semakin&#10; luas. Ketiga: Kewajiban yang sifatnya tanzhimiyah, bertujuan, agar amal&#10; jama’i stuktural semakin kokoh.&lt;br /&gt;&#10;Bila kita pelajari siroh Nabawiyah dan siroh As-Salaf As-Shalih, kita&#10;bisa lihat, pola kehidupan mereka. Mereka lebih banyak bekerja untuk&#10;umat dibanding untuk diri dan keluarga mereka karena kesibukan yang&#10;begitu padat hampir tidak ada waktu untuk istirahat, bahkan tidak&#10;menyempatkan diri untu istir-ahat. Para sahabat Rasul tidak pernah&#10;berhenti berjihad di jalan Allah, sebagian ahli sejarah mencatat&#10;sebanyak seratus kali peperangan selama sepuluh tahun Rasul di Madinah,&#10;baik yang dipimpin langsung oleh Rasul dan yang dipimpin oleh&#10;sahabatnya. Baik itu pertempuran besar maupun yangkecil, baik yang jadi&#10;maupun tidak jadi perang. Sehingga jika diambil rata, peperangan terjadi&#10; sebulan sekali, artinya mobilitas jihad sangat tinggi. Begitu pula di&#10;masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq. Peperangan dilakukan&#10;selama dua tahun tiga bulan sepuluh hari, belum lagi peperangan yang&#10;dipimpin oleh Khalid bin Walid yang jumlahnya sebanyak dua puluh kali&#10;peperangan yang dilakukan terus menerus secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;&#10;Melihat kondisi saat ini, dimana tuntutan da’wah begitu besar, yang&#10;disertai ancaman global, tentu hal ini, menuntut kesungguhan, keseriusan&#10; serta mobilitas da’wah dan jihad yang tinggi, jika tidak maka kekuatan&#10;batil yang akan berkuasa di bumi ini. Dalam hal ini, Allah berfirman,&#10;“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang&#10;sebenar¬-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali¬-kali tidak&#10;menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan, ikutilah agama orang&#10; tua Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim&#10; dari dahulu, dan begitu pula dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu&#10;menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas&#10;segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan&#10;berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah&#10;sebaik-baik Pelindung”. (AI-Hajj :76 ).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah pikiran kita terkonsentrasikan dan&#10;terfokuskan untuk memikirkan umat, memikirkan bagaimana cara yang&#10;efektif dalam melakukan da’wah untuk mereka. Sudahkah kita menyumbangkan&#10; pendapat, gagasan dan ide terbaik untuk kemajuan da’wah. Sudahkah kita&#10;mempersembahkan kreatifitas untuk pengembangan da’wah yang lahir dari&#10;hasil kajian, telaah, renungan dan evaluasi kerja da’wah saat ini?!.&lt;br /&gt;&#10;Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita merasa gembira senang dan&#10;bahagia mana kala kita mendengar perintah, menerima tugas dan&#10;mendapatkan amanah da’wah.Apakah kita merasa bersedih, menangis dan&#10;merasa rugi jika kita tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik, tidak&#10;dapat ikut dalam kegiatan da’wah di saat uzur. Menyesalkah kita jika&#10;tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik ?!&lt;br /&gt;&#10;Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita mengeluarkan sebagian dari rizki&#10; yang kita dapatkan untuk kepentingan da’wah. Sudahkah kita berniat dan&#10;ber-Azam untuk menginfaqkan harta kita di jalan Allah? Sudahkah kita&#10;miliki tabungan da’wah?&lt;br /&gt;&#10;Ikhwah dan Akhwat fillah, betulkah kita sebagai aktivis da’wah, apa&#10;buktinya? Apa kontribusi riil kita untuk da’wah? Apa prestasi da’wah&#10;kita selama ini? Sudah berapa orang yang telah kita rekrut melaui da’wah&#10; fardiyah atau da’wah jamahiriyah? sudah berapa orang kader yang kita&#10;tarbiyah? Sudahkah kita menjadikan waktu, kerja, profesi dan seluruh&#10;aktivitas kita sebagai kegiatan da’wah ?!&lt;br /&gt;&#10;Ikhwah dan Akhwat fillah, keimanan kita baru diakui oleh Allah apabila&#10;ada ruhul istijabah pada diri kita, dan baru akan sempurna iman kita&#10;jika aspek-aspek istijabah itu telah terpenuhi. Allah berfirman :&#10;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad&#10;dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang&#10;memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang&#10;muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan terhadap&#10;orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah maka tidak ada&#10;kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah,&#10;akan tetapi jika ¬mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan&#10;pembelaan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap&#10; kaum yang telah ada ikatan perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan&#10;Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. (AI-Anfal : 72). ”Dan&#10;orang-orang yang beriman dan berhijrah serta ¬berjihad pada jalan Allah,&#10; dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi ¬pertolongan&#10;kepada orang-orang muhajirin, mereka itulah orang-orang yang bena-benar&#10;¬beriman. Mereka memperoleh ampunan, rizki (ni’mat ) yang mulia “,&#10;(al-Anfal : 74)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="https://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/07/06/ruhul-istijabah-2/"&gt;Embun Tarbiyah&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;</description></item><item><title>Ambisi Umar bin Abdul Aziz: “Hari Esok Lebih Baik dari Hari Ini”</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/11/ambisi-umar-bin-abdul-aziz-hari-esok.html</link><pubDate>Wed, 26 Nov 2014 18:45:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/11/ambisi-umar-bin-abdul-aziz-hari-esok.html</guid><description>&lt;div&gt;&#10;Raja’ bin Hayat (seorang menteri Umar bin Abdul Aziz yang ikhlas) bercerita, “Saya pernah bersama Umar bin Abdul Aziz ketika beliau menjadi penguasa Madinah. Beliau mengutus saya untuk membelikan pakaian untuknya. Lantas saya membelikan pakaian untuknya seharga lima ratus dirham. Ketika beliau melihatnya, lantas beliau berkomentar, ‘Ini bagus, tapi sayang harganya murah.’&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dan ketika beliau telah menjadi khalifah, beliau pernah mengutusku untuk membelikan pakaian untuknya. Lalu saya membelikan pakaian untuknya seharga lima dirham. Ketika beliau melihat pakaian tersebut, beliau berkomentar. ‘Ini bagus, hanya saja mahal harganya.”&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Raja’ melanjutkan kisahnya, “Tatkala saya mendengar perkataan tersebut kontan saya pun menangis. Lantas Umar bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis, hai Raja’?’ Saya menjawab, ‘Saya teringat pakaianmu beberapa tahun yang lalu dan komentarmu mengenai pakaian tersebut.’ Kemudian Umar mengungkap rahasia hal tersebut kepada Raja’ bin Hayat. Beliau berkata, ‘Wahai Raja’! Sungguh, saya mempunyai jiwa ambisius. Jika saya telah berhasil merealisasikan sesuatu pastilah saya ingin sesuatu yang di atasnya lagi. Saya mempunyai hasrat untuk menikahi putri pamanku, Fatimah binti Abdul Malik. Saya pun berhasil menikahinya. Kemudian saya ingin memegang kepemimpinan. Saya pun berhasil memegang kekuasaan. Kemudian saya ingin memegang khilafah. Saya pun berhasil menjadi khalifah. Dan sekarang wahai Raja’’, saya ingin mendapat surga, maka aku berharap termasuk ahli surga.”&lt;/div&gt;&#10;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Umar bin Abdul Aziz mendengar kabar bahwa salah seorang putranya membuat cincin dan memasang batu mata cincin seharga seribu dirham. Lantas beliau menulis surat kepada putranya tersebut, “Saya dengar bahwa engkau membeli batu cincin untuk cincinmu seharga seribu dirham. Oleh karena itu, juallah lalu uangnya gunakan untuk membuat kenyang seribu orang yang kelaparan. Buatlah cincin dari besi serta tuliskan di atasnya, “Semoga Allah merahmati orang yang menyadari posisi dirinya sendiri.”&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://kisahmuslim.com/kisah-hikmah-ambisi-umar-bin-abdul-aziz-hari-esok-lebih-baik-dari-hari-ini/"&gt;kisahmuslim.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>10 Keutamaan Hari Jum’at</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/11/10-keutamaan-hari-jumat.html</link><pubDate>Fri, 07 Nov 2014 06:06:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/11/10-keutamaan-hari-jumat.html</guid><description>&lt;p&gt;&lt;img src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/11/masjid-bbd90931.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&#10;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Oleh Syaikh Khâlid Abū Shâliĥ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Bahwasanya ia adalah sebaik-baik hari&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam beliau bersabda,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;خير يوم طلعت عليه الشمس يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه أدخل الجنة وفيه أخرج منها ولا تقوم الساعة إلا في يوم الجمعة&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;”Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya (hari cerah) adalah hari Jum’at, (karena) pada hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR Muslim).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Hari ini mengandung kewajiban sholat Jum’at&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Kewajiban sholat Jum’at merupakan sebesar-besar kewajiban Islam yang paling ditekankan dan seagung-agungnya berhimpunnya kaum muslimin. Barangsiapa meninggalkannya (menunaikan sholat Jum’at) karena meremehkannya, niscaya Alloh tutup hatinya sebagaimana di dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Terdapat waktu yang orang berdo’a di dalamnya diijabahi (dikabulkan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;إن في الجمعة ساعة لا يوافقها عبد مسلم وهو قائم يصلى يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;”Sesungguhnya di dalam hari Jum’at ini, ada suatu waktu yang tidaklah seorang Muslim menemuinya (hari Jum’at) sedangkan ia dalam keadaan berdiri sholat memohon sesuatu kepada Alloh, melainkan akan Alloh berikan padanya.” (Muttafaq ’alaihi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Ibnul Qayyim berkata setelah menyebutkan adanya perselisihan tentang penentuan spesifikasi waktu ini, ”Pendapat-pendapat yang paling rajih (kuat) adalah dua pendapat yang keduanya terkandung di dalam sebuah hadits yang tsabit (shahih). Yaitu, Pendapat pertama, bahwasanya (waktu ijabah tersebut) mulai dari duduknya imam hingga ditunaikannya sholat, sebagaimana dalam hadits Ibnu ’Umar bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;”(waktu ijabah tersebut) yaitu diantara duduknya imam sampai ditunaikannya sholat.” (HR Muslim).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Pendapat kedua, yaitu setelah waktu ’Ashar. Dan ini adalah dua pendapat yang paling kuat. (Zaadul Ma’ad I/389-390).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Bersedekah di dalamnya lebih baik daripada bersedekah pada hari lainnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Ibnul Qayyim berkata, ”Bersedekah pada hari Jum’at dibandingkan hari-hari lainnya dalam sepekan, seperti bersedekah pada bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dan di dalam hadits Ka’ab (dikatakan),&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;والصدقة فيه  أعظم من الصدقة في سائر الأيام&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;”Bersedekah di dalamnya lebih besar (pahalanya) daripada bersedekah pada hari lainnya.” (hadits mauquf shahih namun memiliki hukum marfu’).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Ia adalah hari dimana Allah Azza wa Jalla memuliakan di dalamnya para wali-wali-Nya kaum mukminin di dalam surga.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata tentang firman Allah Azza wa Jalla,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;(( وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ ))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;”Dan pada sisi kami ada tambahannya.” (QS Qaf, 35)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Beliau berkata, ”Allah muliakan mereka pada tiap hari Jum’at.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Ia adalah hari ’Ied (perayaan) yang berulang-ulang setiap pekan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dari Ibnu ’Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;إن هذا يوم عيد جعله الله للمسلمين فمن جاء الجمعة فليغتسل…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;”Sesungguhnya hari ini adalah hari ’Ied yang Alloh jadikan bagi kaum Muslimin, barangsiapa yang mendapati hari Jum’at hendaknya ia mandi…” (HR Ibnu Majah dalam Shahih at-Targhib I/298).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Ia adalah hari yang menghapuskan dosa-dosa.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dari Salman beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;لا يغتسل  رجل يوم الجمعة ويتطهر ما استطاع من طهر ويدهن من دهنه أو يمس من طيب بيته ثم يخرج فلا يفرق بين اثنين ثم يصلي ما كتب له ثم ينصت إذا تكلم  الإمام إلا غفر له ما  بينه وبين الجمعة الأخرى&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;”Tidaklah seorang hamba mandi pada hari Jum’at dan bersuci dengan sebaik-baik bersuci, lalu ia meminyaki rambutnya atau berparfum dengan minyak wangi, kemudian ia keluar (menunaikan sholat Jum’at) dan tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk), kemudian ia melakukan sholat apa yang diwajibkan atasnya dan ia diam ketika Imam berkhutbah, melainkan segala dosanya akan diampuni antara hari Jum’at ini dengan Jum’at lainnya.” (HR Bukhari).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Orang yang berjalan untuk menunaikan sholat Jum’at, pada tiap langkah kakinya ada pahala puasa dan sholat setahun.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Ssebagaimana hadits Aus bin Aus radhiyallahu ’anhu beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;من غسل واغتسل يوم الجمعة وبكر وابتكر ودنا من الإمام فأنصت, كان له بكل خطوة يخطوها صيام سنة وقيامها وذلك على الله يسير&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;”Barangsiapa yang mandi lalu berwudhu pada hari Jum’at, lalu ia bersegera dan bergegas (untuk sholat), kemudian ia mendekat kepada imam dan diam, maka baginya pada setiap langkah kaki yang ia langkahkan (ada pahala) puasa dan sholat setahun, dan yang demikian ini adalah sesuatu yang mudah bagi Alloh.” (HR Ahmad dan Ashhabus Sunnan, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Allohu Akbar! Setiap langkah yang diayun menuju sholat Jum’at sepadan dengan puasa dan sholat setahun?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dimana orang-orang yang mau berlekas untuk menuju kebesaran ini?! Dimana orang-orang yang menginginkan anugerah ini?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;(( ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُوْ الفَضْلِ العَظِيْمِ ))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;”Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS al-Hadiid, 21)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9. Jahannam itu dinyalakan –yaitu dikobarkan apinya- setiap hari dalam sepekan kecuali pada hari Jum’at.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Yang mana hal ini sebagai (salah satu bentuk) pemuliaan terhadap hari yang agung ini. (Lihat Zaadul Ma’ad I/387).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. Meninggal pada hari Jum’at atau malamnya merupakan tanda-tanda husnul khotimah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dimana orang yang wafat pada hari ini akan aman dari siksa kubur dan dari pertanyaan dua Malaikat. Dari Ibnu ’Amr radhiyallahu ’anhuma beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله تعالى فتنة القبر&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;”Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau pada malam Jum’at, kecuali Alloh Ta’ala lindungi dari fitnah kubur.” (R Ahmad dan Turmudi, dishahihkan oleh al-Albani).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;sumber: fimadani.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Amalan-Amalan yang Disyari’atkan pada Hari Jum’at&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;1. Memperbanyak shalawat&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;2. Membaca surat Al Kahfi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua jum’at.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;3. Memperbanyak do’a&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;4. Amalan-amalan shalat jum’at&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;- Mandi, bersiwak, dan memakai wangi-wangian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;- Berpagi-pagi menuju tempat shalat jum’at.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;- Diam mendengarkan khatib berkhutbah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;- Memakai pakaian yang terbaik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;- Melakukan shalat sunnah selama imam belum naik ke atas mimbar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Duri-Duri Yang Merusak Ukhuwah</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/duri-duri-yang-merusak-ukhuwah.html</link><pubDate>Sat, 20 Sep 2014 06:37:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/duri-duri-yang-merusak-ukhuwah.html</guid><description>&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Mencintai &lt;/b&gt;sesama mukmin dan mengikat tali ukhuwah (persaudaraan) merupakan suatu perbuatan yang amat mulia dan sangat penting. Allah SWT menyatakan persaudaraan sebagai sifat kaum mukminin dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, seperti dalam firman-Nya :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(Al Hujuraat : 10)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Persaudaraan yang terjalin di antara kaum mukmin sesungguhnya merupakan anugrah nikmat yang sangat besar dari Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;( Ali Imran : 103)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ . وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan para mu’min, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;( Al-Anfaal : 62-63)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Seiring perjalanan waktu, tali ukhuwah yang telah terjalin terkadang bisa mengendur, bahkan putus sama sekali dikarenakan virus-virus yang berjangkit di hati, antara lain :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;1. Tamak akan kenikmatan dunia&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Banyak kasus dua orang sahabat yang saling mencintai dengan tulus sehingga masing-masing merasa berat untuk berpisah dari kawannya, tiba-tiba sikap mereka berubah ketika tergiur dengan gemerlap dunia dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Apa yang akan kita lakukan seandainya ada peluang rizki di mana kita dan saudara kita sama-sama membutuhkan? Sering terjadi dua orang sahabat saling bersaing, saling jegal demi mendapatkan satu pekerjaan. Di sinilah sifat itsar (mendahulukan saudara) kita diuji.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sebaik-sebaik sifat itsar adalah yang seperti dilakukan oleh kaumAnshar terhadap kaum Muhajirin sebagaimana diabadikan dalam Al Hasyr : 9 berikut ini.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”&lt;/em&gt;(Al-Hasyr:9)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;2. Tidak santun dalam berbicara&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Hal ini merupakan pintu yang paling leluasa bagi setan untuk masuk menebar bibit-bibit perselisihan dan permusuhan di antara sahabat. Banyak yang beranggapan, hubungan istimewa yang terjalin dengan sahabatnya membebaskannya dari tutur kata yang sopan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Contoh gaya bicara kepada saudara kita yang harus dihindari adalah :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;a. Berbicara dengan nada suara tinggi dan menggunakan kata-kata kasar&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Di dalam Al Qur’an, Allah mengisahkan wasiatLuqman dalam mendidik anaknya :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”&lt;/em&gt;(Luqman : 19).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ali binThalib berkata : “Barangsiapa lembut tutur katanya, niscaya manusia suka dengannya”.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;b. Tidak mendengar saran saudaranya, enggan menatap ketika berbicara atau memberi salam, tidak menghargai keberadaannya.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Seorang ulama salaf berkata : “Ada orang yang memberitahuku tentang suatu hadits, padahal saya telah mengetahuinya sebelum ia dilahirkan, namun kesopanannya mendorongku untuk tetap mendengarnya hingga selesai.”&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kemuliaan akhlakRasulullah membawa beliau untuk tetap mendengar dan tidak memotong kata-kata seorang musyrik bernama ‘Utbah. Ketika berhenti,Rasulullah bertanya kepadanya : “Apakah engkau sudah selesai, hai Abul-Walid (panggilan ‘Utbah)?”&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;c. Bercanda secara berlebihan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Canda ringan dalam batas kesopanan dan tidak keluar dari ruang lingkup yang benar akan menambah kelenturan dan kehangatan hubungan ukhuwah. Sebaliknya, canda yang berlebihan dan melampaui batas kesopanan akan mempercepat kehancuran ukhuwah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;d. Sering mendebat dan membantah&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sering mendebat dan membantah diikuti oleh dampak negatif lainnya seperti menganggap unggul ide, sering mengkritik ide sahabat, sok tahu, menggunakan kata-kata pedas yang bernada merendahkan pemahaman, cara berpikir, dan kekuatan penguasaannya terhadap suatu masalah. Sesungguhnya salah satu faktor paling signifikan yang dapat memicu rasa benci dan dengki antara sahabat adalah kebiasaan berselisih/berbantah-bantahan yang seringkali tanpa didasari oleh ketulusan dalam upaya mencari kebenaran. Perselisihan juga terkadang menjebak keduanya dalam pembicaraan mengenai masalah yang masih samar, tanpa dalih argumen yang jelas. Perselisihan juga mendorong salah seorang di antara kedua sahabat tersebut terus berbicara, kendati tiada hasil yang dicapai, selain memperburuk hubungan dan mengubah sikap. Sabda Rasulullah :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;“&lt;em&gt;Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan suka membantah”&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Tiada kaum yang menjadi sesat setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka suka saling berbantah-bantahan”&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Aku adalah penghulu (kepala) rumah di taman surga – yang diperuntukkan – bagi orang-orang yang menghindari perdebatan (perselisihan) , sekalipun dalam posisi yang benar”&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(HR. Abu Dawud)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;e. Kritikan keras yang melukai perasaan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Salah satu faktor yang dapat merusak suasana pembicaraan dan hubungan ukhuwah adalah menyerang dengan kritikan bernada keras atau kritikan yang tidak argumentatif. Seperti ungkapan : “Semua yang kamu katakan adalah salah, tidak memiliki dalil yang menguatkan.” Atau : “Kamu berseberangan dengan saya.”&lt;br /&gt;&#10;Jika antum seorang yang beretika baik, seharusnya yang antum katakan adalah : “Beberapa sisi dalam pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi”, “Menurut hemat saya….”, “Saya mempunyai ide lain, harap antum menyimaknya dan memberi penilaian”, dan ungkapan-ungkapan serupa lainnya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;3. Sikap Acuh/tidak care atau cuek&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ukhuwah yang tidak dihiasi dengan kehangatan perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yang kering. Ia akan segera gugur dan luntur.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Imam Ahmad dalam bukunya az-Zuhd dan&lt;span class="sni17ax"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dunya, menceritakan bahwa pada suatu malamUmar bin Khaththab teringat kepada seorang sahabatnya, dan ia terus bergumam lirih : “Mengapa malam ini terasa begitu panjang.” Maka setelah menunaikan shalat Subuh, Umar segera menemui sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat. Subhanallah…..Itulah perasaan yang membuat seseorang merindukan saudaranya, sehingga berangan-angan agar tidak berpisah darinya, baik di dunia maupun di akhirat.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Berempati atas semua musibah dan penderitaan yang dialami saudara atau sahabat serta memperhatikan keperluan-keperluannya merupakan salah satu hal yang bisa mempererat ukhuwah. Seorang ulama salaf berkata :&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Jika seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku benar-benar tidak bisa tinggal diam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhtar minash Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 143).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Perasaan yang tulus juga akan mendorong seseorang untuk mendoakan sahabatnya ketika berpisah dan menyebut namanya dalam waktu-waktu terkabulnya do’a.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sabda Rasulullah :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Doa seorang muslim untuk kebaikan saudaranya yang dilakukan dari kejauhan, niscaya akan dikabulkan”.&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;4. Mengadakan Pembicaraan Rahasia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آَمَنُوا&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, agar orang-orang yang beriman itu berduka cita”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(Al-Mujadilah : 10)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dalam riwayat Ibnu ‘Umar ra dinyatakan bahwaRasulullah saw bersabda :&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara kamu membuat pembicaraan rahasia , kecuali jika orang ketiga mengizinkan, karena perbuatan itu dapat membuatnya sedih”.&lt;/em&gt;(Ahmad)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;5. Keras kepala, enggan menerima nasihat dan saran&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sikap keras kepala dan enggan mnerima nasihat, membuat seorang sahabat merasakan adanya dinding pemisah antara diri antum dan dirinya. Ia merasa sulit untuk terbuka dalam setiap pembicaraan dengan antum, bahkan -mungkin- menganggapmu sombong.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Rasulullah saw sering didatangi oleh para sahabat dan istri-istri beliau untuk memberikan ide dan saran dalam berbagai hal. Beliau mau menerima dan menuruti saran mereka dengan senang hati, sekalipun dalam bentuk pernyataan keberatan, kritik, atau sekedar pertanyaan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.al-intima.com/nasehat/duri-duri-yang-merusak-ukhuwah-bag-1"&gt;al-intima.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Makna Sesungguhnya Politik Kita | Taujih Ustadz Salim Segaf Al Jufri</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/makna-sesungguhnya-politik-kita-taujih.html</link><pubDate>Mon, 15 Sep 2014 17:19:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/makna-sesungguhnya-politik-kita-taujih.html</guid><description>&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Mari kita berharap keberkahan Allah pada dakwah ini. Keberkahan itu datangnya dari keyakinan kita kepada Allah, bahwa semua kekuasaan atau kemenangan dan kekalahan itu terjadi atas kehendak Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Kita tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa konspirasi musuh menyebabkan kekalahan kita. Mau konspirasi apapun kalau Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi.mari kita melihat amal&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;ini dg pendekatan dakwah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Yang menjadi evaluasi bagi kita adalah bahwa kita tergiring secara tidak sadar menjadikan politik sebagai panglima, lalu dakwah dan kaderisasi kita lupakan. Maka tolonglah slogan obah kabeh mundak akeh itu jangan dimaknai akeh (banyak) kursi dan suaranya, tapi akeh dan mundak keberkahannya. Dan itu denga tetap menjadikan dakwah sebagai misi utama kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Kursi itu bukan tujuan kita, kalau kita pantas menerimanya Allah akan berikan. Saya membayangkan andai seluruh anggota dewan kita di indonesia ini di sebar merata ke desa desa yang ada di seluruh negeri. Lalu berdakwah dan membina masyarakat. Kita punya kemampuan untuk itu. Insya allah keberkahan akan turun drngan cara itu, tidak ada urusannya dapat kursi atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Yang selanjutnya, menjadi evaluasi besar bagi kita adalah bahwa kita sering membuat target target yang sebenarnya tau itu diluar kemampuan kita. Lalu kita terjebak dengan cara cara yang jauh dari keberkahan untuk memaksakan mencapai target itu. Apakah kita ini lebih sibuk dari Rasulullah? beliau selalu tertib dalam hal tidur dan bangun pagi. Di malam hari beliau serahkan dakwah di tangan Allah.beliau tidur dan qiyamullail. Sesekali bolehlah begadang. Tapi kalau menjadi politic style kita itu sudah hal yang salah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Allah hanya ingin kita ini bekerja srmaksimal kemampuan kita. Laa yukallifullahu nafsan illa wus'ahaa. Tidak perlu memaksakan pola pola dan cara cara yg diluar kemampuan kita. Mari kita semakin tawadhu' dihadapan allah. Semakin kita tawadhu' dan merasa butuh pertolongan-Nya, maka pertolongan akan mendekat. Jangan terlalu ngoyo mrnampakkaan bahwa kita ini punya kekuatan. Semakin kita berpikir kita punya kekuatan, lalu melupakan Allah, maka justru pertolongan semakin menjauh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Itulah sebabnya para ulama mengajari kita doa, Allahummarzuqnaa ma'rifatan yas habuha bil adabi, yang artinya Ya Allah beri kami ma'rifat kepadamu, yang diiringi dengan adab terhadapMu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Hari ini, barangkali kita mengenal Allah tapi kita tidak punya adab dan sopan santun terhadapNya. Lalu kita merasa sudah punya kekuatan, dan mulai melupakanNya. Ini namanya kita tidak beradab dan sopan santun terhadap Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Jangan lupa juga, gara - gara jabatan politik lantas life style dan perilaku kita berubah. terbiasa dilayani, kesenggol dikit marah – marah, dimana mana seolah ingin menunjukkan kita ini kuat. Kita lupa berapa ton nikmat Allah yang sudah kita makan melalui mulut kita. Mari jadi orang yang biasa biasa saja, dan mrngingat bahwa semua ini pemberian Allah yang tidak akan kekal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Pada akhirnya, mari memperbanyak dzikrullah. Imam ali berkata, inna lillahi fil ardhi aaniyatun wa huwa al qolbu. Sesungguhnya Allah itu memiliki tempat di bumi, yaitu dalam hati kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Kita ini standar nya ma'tsurot sughro. itupun masih suka nanya : ada yg lebih sughro lagi nggak tadz? insya Allah dengan dzikir yg banyak itu keberkahan akan turun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;span&gt;Wallahu Al musta'aan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;&lt;em&gt;(Taujih ini disampaikan oleh Ustadz Salim Segaf Aljufri, anggota majelis Syuro PKS, dalam forum para kader bakda subuh hari sabtu 13 september 2014, di sela sela kunjungan beliau ke kaki gunung merbabu di Desa Batur, Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&#10;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://pksjateng.or.id/index.php/read/news/detail/1787/-Makna-Sesungguhnya-Politik-Kita"&gt;PKS Jateng&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Mengenal Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/mengenal-hadratus-syaikh-hasyim-asyari.html</link><pubDate>Sat, 13 Sep 2014 06:59:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/mengenal-hadratus-syaikh-hasyim-asyari.html</guid><description>&lt;div&gt;&#10;Sesepuh&amp;nbsp;&lt;em&gt;Nahdhatul Ulama,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;ormas Islam terbesar di Indonesia ini, lahir pada 24 Dzul Qaidah 1287 Hijriah atau 14 Februari l871 Masehi. Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasannya memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Menuntut Ilmu&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Saat usia 15 tahun Hasyim mulai berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Pindah lagi ke Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan ke Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Kiai Cholil. Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi ke Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kiai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kiai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Selama 5 tahun Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kiai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kiai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.&lt;br /&gt;&#10;&lt;strong&gt;Mendirikan Pesantren Tebuireng&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kiai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kiai Hasyim Asyari terkenal mumpuni dalam kajian Hadits. Setiap Ramadhan Kiai Hasyim punya ‘tradisi’ menggelar kajian hadits Bukhari dan Muslim selama sebulan penuh. Kemampuannya dalam ilmu hadits itu diwarisi dari gurunya, Syekh Mahfudh at-Tarmisi di Mekkah. Selama 7 tahun Hasyim berguru kepada Syekh ternama asal Pacitan, Jawa Timur itu. Disamping Syekh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabau. Kepada dua guru besar itu pulalah Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru. Jadi, antara KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya satu guru.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kajian hadits Kiai Hasyim mampu menyedot perhatian ummat Islam, pesertanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mantan gurunya sendiri, Kiai Cholil. Ribuan santri menimba ilmu kepada Kiai Hasyim. Setelah lulus dari Tebuireng, tak sedikit di antara santri Kiai Hasyim kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syamsuri, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Wahid Hasyim (anaknya) dan KH Achmad Siddiq adalah beberapa ulama terkenal yang pernah menjadi santri Kiai Hasyim.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Tak pelak lagi pada abad 20 Tebuireng merupakan pesantren paling besar dan paling penting di Jawa. Zamakhsyari Dhofier, penulis buku ‘Tradisi Pesantren’, mencatat bahwa pesantren Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura. Tak heran bila para pengikutnya kemudian memberi gelar&amp;nbsp;&lt;em&gt;Hadratus-Syaikh&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(tuan guru besar) kepada Kiai Hasyim.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Petani dan Pedagang yang Sukses&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Syaikh Hasyim bukan saja kiai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kiai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi ke Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kiai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Karena pengaruhnya yang demikian kuat itu, keberadaan Kiai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah. Baik penjajah Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya. Di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kiai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Pertama,&lt;/em&gt;&amp;nbsp;ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad. Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Kedua,&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Kiai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas. Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kiai Hasyim sempat mencicipi penjara selama 3 bulan pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kiai Hasyim. Mungkin, karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah. Uniknya, saking khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta ikut dipenjarakan bersama kiainya itu.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Latar Belakang berdirinya NU&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Saat Hasyim belajar di Mekkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam. Buah pikiran Abduh itu sangat mempengaruhi proses perjalanan ummat Islam selanjutnya. Ide-ide reformasi Islam yang dianjurkan oleh Abduh yang dilancarkan dari Mesir, telah menarik perhatian santri-santri Indonesia yang sedang belajar di Mekkah. Termasuk Hasyim tentu saja.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ide reformasi Abduh itu ialah:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, mengajak ummat Islam untuk memurnikan kembali Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang sebenarnya bukan berasal dari Islam.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Kedua,&lt;/em&gt;reformasi pendidikan Islam; dan&amp;nbsp;&lt;em&gt;ketiga&lt;/em&gt;, mengkaji dan merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan modern; dan&amp;nbsp;&lt;em&gt;keempat&lt;/em&gt;, mempertahankan Islam. Usaha Abduh merumuskan doktrin-doktrin Islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern pertama dimaksudkan agar supaya Islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih besar dalam lapangan sosial, politik dan pendidikan. Dengan alasan inilah Abduh melancarkan ide agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada pola pikiran mazhab dan agar ummat Islam meninggalkan segala bentuk praktek tarekat.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Syekh Ahmad Khatib mendukung beberapa pemikiran Abduh, walaupun ia berbeda dalam beberapa hal. Beberapa santri Syekh Khatib ketika kembali ke Indonesia ada yang mengembangkan ide-ide Abduh itu. Di antaranya adalah KH Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah. Tidak demikian dengan Hasyim. Ia sebenarnya juga menerima ide-ide Abduh untuk menyemangatkan kembali Islam, tetapi ia menolak pikiran Abduh agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mazhab. Ia berkeyakinan bahwa adalah tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran al-Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama mazhab. Untuk menafsirkan al-Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama mazhab hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Dalam hal tarekat, Hasyim tidak menganggap bahwa semua bentuk praktek keagamaan waktu itu salah dan bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya, ia berpesan agar ummat Islam berhati-hati bila memasuki kehidupan tarekat.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dalam perkembangannya, benturan pendapat antara golongan bermazhab yang diwakili kalangan pesantren, dengan yang tidak bermazhab itu memang kerap tidak terelakkan. Puncaknya adalah saat Konggres Al Islam IV yang diselenggarakan di Bandung. Konggres itu diadakan dalam rangka mencari masukan dari berbagai kelompok ummat Islam, untuk dibawa ke Konggres Ummat Islam di Mekkah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Karena aspirasi golongan tradisional tidak tertampung (di antaranya: tradisi bermazhab agar tetap diberi kebebasan, terpeliharanya tempat-tempat penting, mulai makam Rasulullah sampai para sahabat) kelompok ini kemudian membentuk Komite Hijaz. Komite yang dipelopori KH Abdullah Wahab Chasbullah ini bertugas menyampaikan aspirasi kelompok tradisional kepada penguasa Arab Saudi. Atas restu Kiai Hasyim, Komite inilah yang pada 31 Februari l926 menjelma jadi Nahdlatul Ulama (NU) yang artinya kebangkitan ulama.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Setelah NU berdiri posisi kelompok tradisional kian kuat. Terbukti, pada l937 ketika beberapa ormas Islam membentuk badan federasi partai dan perhimpunan Islam Indonesia yang terkenal dengan sebutan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) Kiai Hasyim diminta jadi ketuanya. Ia juga pernah memimpin Masyumi, partai politik Islam terbesar yang pernah ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&#10;&lt;strong&gt;Beberapa Pandangan Kiai Hasyim Asyari&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kyai Hasyim tidak segan melawan kemungkaran dalam beragama. Dalam kitabnya&amp;nbsp;&lt;em&gt;Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Kyai Hasyim mengisahkan pengalamannya. Tepatnya pada Senin 25 Rabi’ul Awwal 1355 H, Kyai Hayim berjumpa dengan orang-orang yang merayakan Maulid Nabi SAW. Mereka berkumpul membaca Al-Qur’an, dan sirah Nabi. Akan tetapi, perayaan itu disertai aktivitas dan ritual-ritual yang tidak sesuai syari’at. Misalnya,&amp;nbsp;&lt;em&gt;ikhtilath&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu tempat tanpa hijab), menabuh alat-alat musik, tarian, tertawa-tawa, dan permainanan yang tidak bermanfaat. Kenyataan ini membuat Kyai Hasyim geram.&amp;nbsp; Kyai Hasyim pun melarang dan membubarkan ritual tersebut.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Pada Muktamar NU ke-XI pada 9 Juni 1936, Kyai Hasyim dalam pidatonya menyampaikan nasihat-nasihat penting berkaitan dengan kewaspadaan terhadap invasi Barat. Dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Arab, beliau&amp;nbsp; mengingatkan,&lt;em&gt;&amp;nbsp;“Wahai kaum muslimin, di tengah-tengah kalian ada orang-orang kafir yang telah merambah ke segala penjuru negeri, maka siapkan diri kalian yang mau bangkit untuk…dan peduli membimbing umat ke jalan petunjuk.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dalam pidato tersebut, warga NU diingatkan untuk bersatu merapatkan diri melakukan pembelaan, saat ajaran Islam dinodai,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Belalah agama Islam. Berjihadlah terhadap orang yang melecehkan Al-Qur’an dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kasih, juga terhadap penganut ilmu-ilmu batil dan akidah-akidah sesat”&lt;/em&gt;,&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Untuk menghadapi tantangan tersebut, menurut Kyai Hasyim, para ulama harus meninggalkan kefanatikan pada golongan, terutama fanatik dalam masalah&amp;nbsp;&lt;em&gt;furu’iyah&lt;/em&gt;.&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Janganlah perbedaan itu (perbedaan furu’) kalian jadikan sebab perpecahan, pertentangan, dan permusuhan,”&lt;/em&gt;tegasnya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Situasi aktual yang akan dihadapi kaum muslim ke depan sudah menjadi bahan renungan Kyai Hasyim. Dalam kitab&amp;nbsp;&lt;em&gt;Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah&lt;/em&gt;, beliau mengutip hadis dari kitab&lt;em&gt;Fathul Baariy&lt;/em&gt;&amp;nbsp;bahwa akan datang suatu masa bahwa keburukannya melebihi keburukan zaman sebelumnya. Para ulama dan pakar hukum telah banyak yang tiada. Yang tersisa adalah segolongan yang mengedepan rasio dalam berfatwa. Mereka ini yang merusak Islam dan membinasakannya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dalam kitab yang sama, Kiai Hasyim menyinggung persoalan aliran-aliran pemikiran yang dikhawatirkan akan mempengaruhi umat Islam Indonesia. Misalnya, kelompok yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad,&amp;nbsp;&lt;em&gt;Rafidlah&lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang mencaci sahabat, kelompok&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ibahiyyun&lt;/em&gt;&amp;nbsp;– yaitu kelompok sempalan sufi&amp;nbsp;&lt;em&gt;mulhid&lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang menggugurkan kewajiban bagi orang yang mencapai&lt;em&gt;maqam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;tertentu – , dan kelompok yang mengaku-ngaku pengikut sufi beraliran&amp;nbsp;&lt;em&gt;wihdatul wujud&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;&lt;em&gt;hulul&lt;/em&gt;, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dalam kitabnya&amp;nbsp;&lt;em&gt;Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah&lt;/em&gt;&amp;nbsp;itu Kyai Hasyim banyak menulis tentang kondisi pemikiran umat pada akhir zaman. Oleh sebab itu, Kyai Hasyim mewanti-wanti agar tidak fanatik pada golongan, yang menyebabkan perpecahan dan hilangnya wibawa kaum muslim. Jika ditemukan amalan orang lain yang memiliki dalil-dalil&amp;nbsp;&lt;em&gt;mu’tabarah&lt;/em&gt;, akan tetapi berbeda dengan amalan&amp;nbsp;&lt;em&gt;syafi’iyyah&lt;/em&gt;, maka mereka tidak boleh diperlakukan keras menentangnya. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan&amp;nbsp;&lt;em&gt;qath’i&lt;/em&gt;&amp;nbsp;tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama terdahulu.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dalam Muqaddimah&amp;nbsp;&lt;em&gt;al-Qanun al-Asasi li Jam’iyati Nadlatu al-‘Ulama&lt;/em&gt;, Hadratu Syaikh mewanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah – yakni orang yang tenggelam dalam laut fitnah, bid’ah, dan dakwah mengajak kepada Allah, padahal mengingkari-Nya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Wafatnya Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Beliau wafat pada 25 Juli 1947. Semoga Allah Ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat dan ampunan kepadanya. Semoga kita dapat meneladani kebaikan-kebaikannya. Amin…&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.al-intima.com/qudwah/mengenal-hadratus-syaikh-hasyim-asyari"&gt;Al Intima&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Di Dalam Dakwah Tidak Ada Kata Menyerah!</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/di-dalam-dakwah-tidak-ada-kata-menyerah.html</link><pubDate>Sat, 06 Sep 2014 06:24:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/di-dalam-dakwah-tidak-ada-kata-menyerah.html</guid><description>&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Lihatlah &lt;/b&gt;dua orang laki-laki yang sedang berjalan setengah berlari itu. Mereka bukan pelancong yang sedang menikmati sejuknya udara Kota Thaif ini. Mereka bukan pula pedagang yang sedang mencari barang pertanian di kota puncak gunung ini. Siapakah dua orang laki-laki itu? Apa yang sedang mereka kerjakan di Kota Thaif ini?&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Mereka adalah Rasulullah Muhammad&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dan sahabatnya yang mulia Zaid bin Haritsah. Rasulullah&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;datang ke Thaif dengan berjuta harapan. Beliau datang menemui para pemuka Thaif untuk mencari pembelaan dalam menyebarkan Islam dan menghadapi kaumnya yang telah menentangnya. Namun para pemuka Thaif itu malah menolaknya mentah-mentah,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Pergilah kamu dari negeri kami!”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Lalu mereka mengerahkan orang-orang bodoh dan para budak mereka untuk menyerbu Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;; mencela dan meneriakinya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Lihatlah, orang-orang dungu itu melempari kedua kaki Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, hingga kedua alas kakinya berlumuran darah. Sementara Zaid berusaha melindungi beliau sampai ia sendiri mengalami beberapa luka berdarah di kepalanya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Mereka terus melempar. Sesekali Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;merasakan sakitnya lemparan batu itu, beliau kemudian bersimpuh di tanah. Kumpulan orang-orang tolol itu segera memegang lengan beliau dan menegakkannya, menyuruh beliau berdiri. Ketika Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;berjalan kembali, mereka langsung melemparinya lagi seraya tertawa terkekeh-kekeh.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Rasulullah&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;dan Zaid terkepung di antara mereka, dan segera berlindung memasuki kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah. Di kebun ini, Rasulullah&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;berteduh dan duduk di bawah pohon anggur dengan disaksikan oleh kedua anak Rabi’ah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Setelah merasa tenang dan aman, beliau memanjatkan untaian do’a,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia…”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Saat itu mungkin masih terngiang di telinga beliau penolakan yang baru saja dialaminya dari para pemuka Bani Tsaqif, tiga orang bersaudara, Abdu Yalil bin Amer, Mas’ud bin Amer dan Habib bin Amer.Salah seorang mereka berkata kasar,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Tercabik-cabiklah kain Ka’bah jika benar Allah telah mengutusmu!”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Yang lainnya menyahut seraya menghina,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Apakah Allah tidak menemukan orang selainmu untuk diutus-Nya?”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Yang ketiga menimpali,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya. Jika benar kamu seorang Rasul sebagaimana yang kamu katakan, niscaya aku tidak pantas berbicara denganmu. Jika kamu berdusta kepada Allah, maka tidak patut kamu kuajak bicara…”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sungguh penolakan yang mengecewakan. Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;tadinya berharap mereka akan menyambut dan memberikan perlindungan. Betapa tidak, di kalangan Bani Tsaqif banyak kerabat yang memiliki hubungan dengan beliau, yakni saudara-saudara ibundanya tercinta yang telah tiada sejak ia berusia 6 tahun.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Beliau lantunkan terus do’anya dengan khusyu.&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;***&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;memang telah mengalami ujian dan cobaan yang panjang. Semua berawal saat beban berat risalah dakwah tersimpan di atas pundaknya. Semua berawal saat kalam mulia Allah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Azza wa Jalla&lt;/em&gt;&amp;nbsp;mendekap jiwanya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”&lt;strong&gt;[1]&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Semua berawal saat Rabb-nya berseru kepadanya,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”&lt;strong&gt;[2]&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Mulailah penolakan demi penolakan menghantam dirinya. Penolakan pertama datang dari pamannya sendiri, Abu Lahab, saat beliau mengumpulkan orang-orang Quraisy di sekitar bukit Shafa.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;“Celakalah engkau selama-lamanya! Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;begitulah teriaknya waktu itu.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Berikutnya, Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;mulai mendapatkan berbagai macam penghinaan. Saat beliau beribadah mereka selalu mengejeknya. Ada pula orang yang iseng menyimpan kotoran di depan rumahnya; ada yang melempar kotoran; menjerat lehernya; atau menaburkan kotoran dan tanah ke atas kepalanya yang mulia.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Abu Lahab dan istrinya juga Amr bin Hisyam (Abu Jahl), mencoba menghalang-halangi dakwah Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Mereka menghasut masyarakat Makkah agar tidak menyenangi Islam. Mereka bersekongkol menahan laju gerak dakwah Islam yang dibawa Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Mereka menyebarkan berita-berita buruk tentang beliau; mereka menyebut beliau itu penghina nenek moyang; pemecah belah persatuan bangsa Quraisy; orang gila!&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Namun cara-cara busuk itu tidak menyebabkan Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;berhenti bergerak dan menyerah; bahkan pengikut Islam dari hari ke hari malah semakin bertambah. Para tokoh Quraisy jadi semakin jengkel karenanya. Mereka kemudian menawarkan kompromi. Mereka siap memberikan harta, tahta dan wanita kepada Rasulullah dengan syarat beliau menghentikan dakwahnya. Untuk keperluan ini mereka mengutus Utbah bin Rabi’ah. Namun diplomasi Utbah mengalami kegagalan karena ditolak mentah-mentah oleh beliau.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Para tokoh Quraisy tidak berhenti sampai disana, mereka kemudian melakukan tekanan kepada Abu Thalib agar tidak melindungi Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Karena tekanan dari kaumnya demikian kuat Abu Thalib akhirnya berusaha membujuk Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, tapi beliau tetap bersikukuh untuk terus melanjutkan perjuangan dakwah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Akhirnya orang-orang Quraisy menggunakan cara kekerasan, dengan menyiksa para pengikut Islam yang lemah, yakni mereka yang tidak memiliki kabilah pelindung: Bilal bin Rabah, Sumayyah, Amr bin Yasir, Yasir, dll. Karena semakin kerasnya siksaan dan penghinaan akhirnya Rasulullah&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;memerintahkan sebagian sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Setelah itu Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;melakukan strategi dakwah yang baru dengan menggencarkan dakwah Islam kepada kabilah-kabilah yang datang ke Mekkah ketika musim haji. Upaya ini dihambat oleh orang-orang Quraisy dengan caramenyebarkan berita-berita bohong tentang Islam kepada para pemimpin kabilah (Contoh: menyebut Muhammad sebagai penyihir, penyair, peramal, dukun, dll).&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sadar upaya-upaya penentangannya tidak membuat Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;menyerah dalam berdakwah, Quraisy akhirnya merencanakan pembunuhan terhadap beliau. Akan tetapi rencana ini ditentang oleh Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang merupakan kerabat Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Maka berubahlah rencana itu menjadi pemboikotan yang dituangkan dalam naskah kesepakatan bersama. Mereka memboikot Rasulullah dan para sahabatnya, termasuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang memberikan perlindungan kepada Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Para pemuka Quraisy sepakat untuk tidak mengadakan jual beli, kawin mengawini dan transaksi lainnya dengan mereka. Pemboikotan berlangsung 3 tahun.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Selama pemboikotan tersebut kaum muslimin berada dalam kesengsaraan, mereka hanya makan daun-daunan dan kulit pohon, walaupun sesekali dikirimi makanan oleh orang-orang yang tersentuh hati nuraninya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Beberapa bulan setelah peristiwa pemboikotan terjadilah peristiwa yang menyedihkan bagi Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Paman beliau, Abu Thalib wafat. Tidak lama kemudian isterinya tercinta, Khadijah pun wafat. Karenanya Quraisy lebih berani melakukan tekanan-tekanan dengan lebih brutal karena Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;tak lagi memiliki seseorang pun yang dapat melindunginya. Kondisi inilah yang membuat Rasulullah pergi ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah. Namun para pemuka Thaif malah menolak dan menganiayanya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;***&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;semakin khusyuk berdo’a,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, semuanya itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku!”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;”Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan dunia dan akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau tumpahkan kepadaku…hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau ridha. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Beliau bersama Zaid dapat kembali ke Makkah di bawah jaminan keamanan yang diberikan Muth’im bin Adiy. Sebelumnya beliau mencoba meminta jaminan keamanan kepada Akhnas bin Syuraiq dan Suhail bin Amer, namun keduanya menolak memberikannya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Setelah rentetan peristiwa ujian dan cobaan serta penolakan-penolakan yang menyakitkan hati tersebut, Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ’alaihi wa salam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;terus melangkah dan tidak menyerah. Beliau meneruskan kembali aktivitas dakwahnya. Sebelumnya beliau telah mendatangi kabilah-kabilah di acara-acara musiman. Mereka yang didatanginya ialah Ghassan, Bani Fazarah, Bani Murrah, Bani Sulaim, Bani Abbas, Bani Nasher, Tsa’labah bin Ukabah, Bani al-Harits bin Ka’ab, Bani Udzarah, Qais bin al-Khathim, dan Abu Haisar Anas bin Abu Rafi’.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Pada tahun ke 11 kenabian dan setelahnya, Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ’alaihi wa salam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;kembali menyeru kabilah-kabilah untuk memeluk Islam dan atau dimintai pembelaannya terhadap penyebaran dakwah Islam. Beliau ditemani Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib mendatangi Bani Amir, Syaiban bin Tsa’labah, Bani Kalb, Bani Hanifah, dan Bani Kindah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Bani Hanifah, Bani Kalb, dan Bani Kindah menolak Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ’alaihi wa salam&lt;/em&gt;secara halus. Sementara Bani Amir bin Sha’sha’ah menyatakan siap membela Rasulullah&lt;em&gt;shalallahu ’alaihi wa salam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;dengan syarat setelah memenangkan dakwah merekalah yang harus memegang kekuasaan. Menanggapi hal itu Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ’alaihi wa salam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;tak memberikan jaminan,&amp;nbsp;&lt;em&gt;”Urusan itu terserah kepada Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki.”&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Maka salah seorang dari mereka yang bernama Baihah bin Firas berkata,&amp;nbsp;&lt;em&gt;”Apakah kami serahkan leher-leher kami kepada bangsa Arab demi membelamu kemudian setelah Allah memenangkan kamu kekuasaan itu diserahkan kepada selain kami? Kami tidak punya urusan denganmu!”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Lain halnya dengan Bani Syaiban, mereka menolak membela Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ’alaihi wa salam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;dengan alasan mereka hanya siap membela beliaudalam menghadapi orang-orang Arab saja, tapi tidak siap menghadapi Kisra Persia karena mereka telah melakukan perjanjian tidak akan melakukan pemberontakan terhadap Kisra dan tidak boleh melindungi pemberontak, sedangkan apa yang diserukan Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ’alaihi wa salam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;tidak akan disenangi oleh para raja.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Selanjutnya Ali yang menyaksikan peristiwa itu berkata,&amp;nbsp;&lt;em&gt;”Kemudian kami datang ke majelis orang-orang Khazraj sehingga mereka membaiat Nabi shalallahu ’alaihi wa salam. Mereka adalah orang-orang jujur dan bersabar.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ya…setelah berbagai peristiwa ujian dan cobaan serta penolakan-penolakan yang menyakitkan hati, Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ’alaihi wa salam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;akhirnya memperoleh dukungan dan pembelaan dari kaum Aus dan Khazraj—penduduk Yatsrib. Disinilah babak baru dakwah Islam dimulai hingga tegaklah daulah Islam di Madinah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;***&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Pergerakan dakwah Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shalallahu ’alaihi wa salam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;sejak beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul hingga beliau hijrah, memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa dalam dakwah tidak ada kata menyerah. Seorang da’i harus terus melangkah maju ke depan apa pun yang terjadi. Mereka tidak sepantasnya melemah dan mundur hanya karena ada rintangan yang menghadang. Mereka tidak layak menjadi mandeg hanya karena kesedihan demi kesedihan yang dihadapinya. Mereka tidak perlu terganggu oleh hinaan dan cibiran orang hingga merasa galau dan jengkel berkepanjangan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Para da’i harus terus melaju, karena di dalam dakwah tidak ada kata menyerah…&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;strong&gt;Sumber bacaan:&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Manhaj Haraki,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Syaikh Munir Muhammad Ghadban&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Sumber&lt;/b&gt;:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.al-intima.com/sirah/di-dalam-dakwah-tidak-ada-kata-menyerah"&gt;Al Intima&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Mengokohkan Karakter Al-Jundiyah (Keprajuritan)</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/mengokohkan-karakter-al-jundiyah.html</link><pubDate>Wed, 03 Sep 2014 06:13:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/mengokohkan-karakter-al-jundiyah.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/09/jundi-8e8cde17.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/09/jundi-8e8cde17.jpg" height="320" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Adalah &lt;/b&gt;sudah selayaknya bila umat Islam—terlebih lagi aktivis dakwah—menjadikan hidupnya sebagai prajurit yang senantiasa siap menghadapi perjuangan di jalan Allah. Sejarah umat Islam adalah sejarah perjuangan yang terus-menerus berkesinambungan dalam menjunjung tinggi kebenaran agama Allah dan menjaga kelestarian dakwahnya, serta menjauhi segala godaan dunia lahir dan batin.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Karakter&amp;nbsp;&lt;em&gt;al-jundiyah&amp;nbsp;&lt;/em&gt;diantaranya termanifestasikan dalam bentuk&amp;nbsp;&lt;em&gt;amal&lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang berkesinambungan tanpa lelah dan tanpa bosan. Sedangkan&amp;nbsp;&lt;em&gt;maratibul amal&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(rangkaian amal)-nya adalah:&lt;/div&gt;&#10;&lt;ol&gt;&#10;&lt;li&gt;Perbaikan individu (&lt;em&gt;ishlah al-fard&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&#10;&lt;li&gt;Perbaikan rumah tangga (&lt;em&gt;ishlahul al-bait&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&#10;&lt;li&gt;Perbaikan masyarakat (&lt;em&gt;ishlah al-mujtama’&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&#10;&lt;li&gt;Pembebasan negeri (&lt;em&gt;tahrir al-wathan&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&#10;&lt;li&gt;Perbaikan pemerintahan (&lt;em&gt;ishlah al-hukumah&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&#10;&lt;li&gt;Penyiapan tegaknya khilafah (&lt;em&gt;bina al-khilafah&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&#10;&lt;li&gt;Pemanduan dunia (&lt;em&gt;ustadziah al-alam&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&#10;&lt;/ol&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Karakter keprajuritan yang lainnya adalah senantiasa berkobarnya&amp;nbsp;&lt;em&gt;ruhul jihad&lt;/em&gt;. Urutan jihad yang pertama dituntut dari para aktivis dakwah adalah pengingkaran hati terhadap kemaksiatan pada Allah, dan puncaknya adalah berperang di jalan Allah ta’ala. Diantara keduanya ada jihad dengan lisan, pena, tangan, dan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Allah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ta’ala&amp;nbsp;&lt;/em&gt;berfirman,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;&lt;em&gt;Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(QS. Al-Hajj, 22: 78)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ibnu Abbas ra berkata tentang pengertian jihad,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Jihad adalah menguras potensi dalam membela agama Allah, dan tidak takut cercaan orang yang mencerca dalam melaksanakan agama Allah.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Muqatil berkata, “Makna jihad adalah:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Bekerjalah untuk Allah dengan sebenar-benar kerja, dan beribadahlah dengan sebenar-benar ibadah.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ibnul Mubarak berkata,&lt;em&gt;“Jihad adalah mujahadah terhadap jiwa dan hawa nafsu.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthi berkata,&lt;em&gt;“Jihad adalah mencurahkan potensi dalam rangka meninggikan kalimat Allah, dan membentuk masyarakat muslim. Sedangkan mencurahkan tenaga dengan melakukan perang adalah salah satu jenis dari jihad. Tujuan jihad adalah membentuk masyarakat yang islami, dan membentuk negara Islam yang benar.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sifat keprajuritan ditunjukkan pula dengan&amp;nbsp;&lt;em&gt;at-tadhiyah&lt;/em&gt;, yakni mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala-galanya demi mencapai tujuan.Allah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ta’ala&amp;nbsp;&lt;/em&gt;berfirman,&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(QS. At-Taubah, 9: 111)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Berikutnya ditunjukkan pula dengan ketaatan kepada&amp;nbsp;&lt;em&gt;qiyadah&lt;/em&gt;. Karena itu para aktivis dakwah harus senantiasa siap melaksanakan perintah&amp;nbsp;&lt;em&gt;qiyadah&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dan merealisir dengan segera, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Seorang mujahid dakwah sejati akan senantiasa&amp;nbsp;&lt;em&gt;tsabat&lt;/em&gt;, yakni teguh beramal sebagai mujahid dalam memperjuangkan tujuannya, betapa pun jauh jangkauan dan lama waktunya. Ia tetap dalam keadaan seperti itu sampai bertemu Allah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;em&gt;Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya),&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(QS. Al-Ahzab, 33: 23)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Selain itu, sebagai prajurit dakwah mereka akan selalu bersungguh-sungguh pada suatu urusan. Iatidak merasa berat mempersembahkan jiwa di jalan Allah&amp;nbsp;&lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dan mengatur segala urusannya serta seluruh kehidupannya sejalan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Allah ta’ala. Para aktivis dakwah harus mampu menegakkan al-haq di dalam jiwa, nurani, dan kehidupan mereka, dalam bentuk aqidah, akhlak, ibadah, dan perilaku sehari-hari. Hasan Hudhaibi berkata:&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Wahai Ikhwan, tegakkanlah Islam di dalam hatimu, tentu ia akan tegak di bumimu.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sifat keprajuritan yang tak kalah penting adalah&amp;nbsp;&lt;em&gt;tsiqah,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;yakni rasa puasnya seorang prajurit atas komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.al-intima.com/harakatuna/mengokohkan-karakter-al-jundiyah-keprajuritan"&gt;Al Intima&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Kapan Masa Bertahan Jamaah Dakwah Umat Islam Berakhir?</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/kapan-masa-bertahan-jamaah-dakwah-umat.html</link><pubDate>Mon, 01 Sep 2014 07:29:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/09/kapan-masa-bertahan-jamaah-dakwah-umat.html</guid><description>&lt;br /&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;b&gt;Oleh: Ahmad Mifdlol Muthohar, Lc.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;Luka, memang. Perih, iya. Capek, tidak terhitung. Demikian nyanyian para aktifis dakwah di sepanjang jalan terjal yang mereka lalui. Karenanya, Allah ta’ala senantiasa menghibur mereka dengan hal-hal yang membesarkan hati dan mendewasakan mereka semua dalam banyak ayat. Salah satunya adalah firman Allah ta’ala:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;“Tidak pantas bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak pantas (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada (mencintai) diri Rasulullah. Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan tidaklah mereka memberikan infak baik yang kecil maupun yang besar dan tidak (pula) melintasi suatu lembah (dalam rangka berjihad), kecuali akan dituliskan bagi mereka (sebagai amal kebajikan), untuk diberi balasan oleh Allah (dengan) yang lebih baik dari pada apa yang telah mereka kerjakan” (QS. At-Taubah: 120-121)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;div&gt;&#10;Semenjak eksistensi dakwah dideklarasikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, banyak serangan bertubi-tubi dilancarkan para musuh kepada umat Islam di Madinah. Ada tiga perang besar yang menggoncang eksistensi dakwah saat itu dan umat Islam hanyalah bertahan, demi menguatkan eksistensi sebagai komunitas baru pembawa perubahan, yang membawa risalah dari Allah ta’ala. Tiga perang besar itu adalah perang Badar (Tahun 2 Hijriyah), perang Uhud (Tahun 3 Hijriyah) dan perang Ahzab atau perang Khandaq (Tahun 5 Hijriyah).&lt;/div&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Mengapa Keajaiban Shalat Dhuha Memperlancar Rezeki?</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/08/mengapa-keajaiban-shalat-dhuha.html</link><pubDate>Fri, 22 Aug 2014 05:24:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/08/mengapa-keajaiban-shalat-dhuha.html</guid><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container"&gt;&lt;tbody&gt;&#10;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;img alt="Keajaiban Shalat Dhuha Memperlancar Rezeki (ilustrasi)" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/08/shalat-dhuha-anjumfz-info-ff0a34e0.jpg" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&#10;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&#10;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;Banyak &lt;/b&gt;Muslim yang meyakini bahwa salah satu keajaiban shalat Dhuha adalah memperlancar rezeki. Lebih dari itu, banyak pula Muslim yang telah membuktikan bahwa setelah rutin mengerjakan shalat Dhuha, rezekinya menjadi lebih lancar.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Mengapa demikian? Mari kita perhatikan hadits-hadits yang mengaitkan shalat Dhuha dengan rezeki berikut ini:&lt;br /&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;i&gt;“Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan shadaqahnya. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, dan melarang berbuat munkar adalah shadaqah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(HR. Muslim)&lt;br /&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ. قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;i&gt;“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan shadaqahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah shadaqah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah shadaqah. Maka jika engkau tidak menemukannya (shadaqah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Dalam dua hadits ini dan hadits-hadits lain yang senada, Shalat Dhuha bernilai sedekah. Bukan sembarang sedekah, tetapi 360 sedekah. Sedangkan tiap sedekah akan dilipatgandakan oleh Allah. Subhanallah.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Berikutnya, dalam hadits Qudsi Allah berfirman akan menjamin rezeki hamba-hambaNya yang menjaga shalat Dhuha.&lt;br /&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تُعْجِزْنِى مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِى أَوَّلِ نَهَارِكَ أَكْفِكَ آخِرَهُ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;i&gt;Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Ketiga, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan derajatnya hasan shahih menurut Syaikh Al Albani.&lt;br /&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَرِيَّةً فَغَنِمُوا وَأَسْرَعُوا الرَّجْعَةَ فَتَحَدَّثَ النَّاسُ بِقُرْبِ مَغْزَاهُمْ وَكَثْرَةِ غَنِيمَتِهِمْ وَسُرْعَةِ رَجْعَتِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَقْرَبَ مِنْهُ مَغْزًى وَأَكْثَرَ غَنِيمَةً وَأَوْشَكَ رَجْعَةً مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لِسُبْحَةِ الضُّحَى فَهُوَ أَقْرَبُ مَغْزًى وَأَكْثَرُ غَنِيمَةً وَأَوْشَكُ رَجْعَةً&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan sepasukan tentara, lalu mereka berhasil memperoleh harta rampasan perang yang banyak dan bergegas pulang. Kesuksesan perang, harta rampasan yang banyak dan pasukan kembali dengan selamat menjadi buah bibir di masyarakat. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang lebih banyak memperoleh harta rampasan, bahkan keberhasilannya lebih cepat dibandingkan pasukan tentara itu? Hendaklah seseorang berwudhu lalu pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Dhuha. Maka orang itulah yang lebih cepat memenangkan peperangan, lebih banyak meraih harta rampasan dan lebih segera meraih kesuksesan.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(HR. Ahmad; hasan shahih)&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Jika pada hadits-hadits sebelumnya shalat Dhuha dikaitkan dengan sedekah dan rezeki, pada hadits ini shalat Dhuha bahkan membuat orang yang mengerjakannya dapat meraih kesuksesan dengan segera. Subhanallah, demikianlah&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.bersamadakwah.com/2014/02/keajaiban-shalat-dhuha.html"&gt;keajaiban shalat dhuha&lt;/a&gt;. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.bersamadakwah.com/2014/02/keajaiban-shalat-dhuha.html"&gt;bersamadakwah.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Kisah Nabi Yusuf: Ketika Penjara Berbuah Mulia</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/06/kisah-nabi-yusuf-ketika-penjara-berbuah.html</link><pubDate>Tue, 10 Jun 2014 16:45:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/06/kisah-nabi-yusuf-ketika-penjara-berbuah.html</guid><description>&lt;div class="entry-content"&gt;&#10;&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/06/kisah-nabi-yusuf-95f6dd80.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/06/kisah-nabi-yusuf-95f6dd80.jpg" height="280" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Oleh: Ahmad Mifdlol Muthohar, Lc.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Siapapun yang memiliki sebuah ideologi dan hendak&#10;mempertahankannya, umumnya ia akan mengalami perjuangan berat yang tidak&#10; semua orang dapat bertahan. Di sinilah akan berbeda antara emas dan&#10;loyang. Siapa yang benar-benar berjuang dan siapa yang hanya&#10;berpura-pura. Apalagi jika ideologi yang diusung tersebut adalah&#10;ideologi yang terinspirasi oleh pengamalan ajaran Islam. Bahkan Allah&#10;ta’ala dengan jelas menyebutkan bahwa siapa yang mengatakan dirinya&#10;beriman maka akan diuji (QS. Al-Ankabut: 2), bahkan akan digoncang&#10;dengan dahsyat (QS. Al-Baqarah: 214).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;“Sejarah selalu berulang”, demikian ungkap Ibnu Khaldun, sosiolog&#10;muslim berabad-abad lampau. Berapa banyak tokoh-tokoh muslim yang&#10;dijebloskan penjara oleh rezim-rezim zalim. Nabi Yusuf ‘alaihissalam&#10;adalah salah satu korban keteguhan memegang sebuah prinsip, yakni&#10;prinsip menjauhi dosa besar zina yang telah di hadapan mata. “Wahai&#10;Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka&#10;kepadaku”, demikian ungkap Yusuf ‘alaihissalam ketika menolak sandiwara&#10;perzinaan dari seorang wanita (QS. Yusuf: 32-33).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Di sini sudah tidak berlaku logika pengadilan murni, yang ada&#10;hanyalah logika syahwat emosional seorang isteri penguasa. Jika&#10;dipikir-pikir, tidak akan pernah ada bukti-bukti yang dapat&#10;menjebloskannya ke penjara. Bahkan ada saksi ahli dari keluarga penguasa&#10; yang menyatakan bahwa jika pakaian Yusuf ‘alaihissalam yang robek&#10;adalah bagian depan, maka Yusuf ‘alaihissalam salah. Namun jika bagian&#10;belakang yang robek, maka wanita itu yang salah. Faktanya ternyata yang&#10;robek adalah bagian belakang dari pakaian Yusuf ‘alaihissalam. Namun&#10;demikian, fakta itu tidak penting di tangan pemegang otoritas, sang&#10;penguasa tirani. Yusuf ‘alaihissalam tetap saja di penjara. Menurut&#10;Ikrimah, akhirnya Yusuf ‘alaihissalam dipenjara selama 7 tahun.&#10;Sedangkan al-Kalby menyebutkan, bahwa Yusuf ‘alaihissalam dipenjara&#10;selama 5 tahun. Demikian penjelasan mereka dalam tafsir al-Baghawy.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Tentu semua itu tidak luput dari skenario Allah ta’ala. Tidak ada&#10;kata dendam sedikit pun pada diri Yusuf ‘alaihissalam ketika itu memang&#10;telah diputuskan oleh penguasa. Yusuf ‘alaihissalam berusaha menikmati&#10;kehidupan barunya dengan penuh suka cita, karena telah terbebas dari&#10;fitnah yang sangat besar. Dalam penjara, Allah ta’ala menyempurnakan&#10;karakter Yusuf ‘alaihissalam dalam hal kedermawanan, amanah, kejujuran,&#10;perilaku baik, memperbanyak ibadah dan mengetahui ta’wil mimpi, untuk&#10;sebuah rencana besar di masa mendatang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Singkat cerita, lalu Allah ta’ala membuka cerita yang sesungguhnya,&#10;setelah tujuh tahun di penjara tadi, dan berlakulah hukum Allah ta’ala&#10;yang juga akan berlaku sepanjang zaman, “Mereka membuat skenario (makar)&#10; dan Allah juga membuat skenario. Dan Allahlah sebaik-baik pembuat&#10;skenario” (QS. Ali ‘Imran: 54). Sejarah lalu berbalik membela dan&#10;meninggikan Yusuf ‘alaihissalam. Makar Allah ta’ala yang sangat tampak&#10;dalam hal ini adalah mengajarkan pada Yusuf tentang ta’wil mimpi, lalu&#10;memberikan sebuah mimpi pada raja yang tidak bisa dita’wilkan oleh&#10;siapapun kecuali Dzat Yang Memberi mimpi. Di sini sangat kentara antara&#10;mimpi raja dan kemampuan ta’wil mimpi Yusuf, yang keduanya sama-sama&#10;dari Allah ta’ala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Dan kemudian Yusuf ‘alaihissalam menjadi menteri yang berkuasa,&#10;melalui intervensi dari Allah ta’ala. Menurut Ibnu Katsir, tujuh tahun&#10;pertama Yusuf ‘alaihissalam berkuasa, Mesir dalam kondisi subur dan&#10;hasil bumi melimpah ruah. Lalu tujuh tahun berikutnya terjadilah&#10;paceklik. Pada masa inilah saudara-saudara Yusuf datang untuk membeli&#10;makanan pokok di istana Yusuf.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Ar-razy menambahkan bahwa masa Nabi Ya’qub ‘alaihissalam tinggal&#10;bersama Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah 24 tahun. Setelah itu Nabi Yusuf&#10; ‘alaihissalam masih berkuasa lagi di Mesir selama 23 tahun berikutnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Jadi, dari pernyataan Ibnu Katsir dan Ar-Razy di atas, dapat&#10;diperkirakan, bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam berkuasa di Mesir lebih&#10;dari 55 tahun, dengan asumsi kedatangan saudara-saudara Yusuf&#10;‘alaihissalam adalah pada tahun pertama paceklik (8 tahun)+(24&#10;tahun)+(23 tahun).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Nabi Yusuf ‘alaihissalam masuk penjara selama 7 tahun karena&#10;terzalimi, lalu Allah ta’ala memuliakan yang bersangkutan berkuasa&#10;selama 55 tahun, yang berarti 7 kali lipatnya lebih. Demikianlah&#10;sunnatullah dalam perjuangan. Wamakaruu wamakarallah, wallahu khairul&#10;makirin. Wallahu a’lam bishshawab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Pintu Keluar dari Masalah</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/05/pintu-keluar-dari-masalah.html</link><pubDate>Sat, 31 May 2014 11:40:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/05/pintu-keluar-dari-masalah.html</guid><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/05/allah-by-lil-layntahe-94661e8b.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;b&gt;Oleh Zulfi Akmal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Salah seorang raja menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang tukang kayu yang tidak jelas kesalahannya apa.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Berita tentang keputusan itu bocor kepada si tukang kayu sebelum&#10;pengumuman resmi keluar. Akibatnya ia tidak bisa memejamkan mata untuk&#10;tidur di malam itu.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Istrinya menasehati: &lt;i&gt;&amp;ldquo;Tidurlah di malam ini seperti malam-malam&#10;sebelumnya. Tuhan itu hanya satu, sementara pintu keluar dari suatu&#10;masalah sangat banyak&amp;rdquo;.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Kalimat yang menentramkan itu tepat masuk ke dalam hatinya, hingga ia&#10;bisa menenangkan diri, dan ia pun bisa tidur di malam itu. Dia baru&#10;terbangun di pagi hari ketika pintu rumahnya diketuk oleh beberapa orang&#10;prajurit.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Wajahnya langsung menjadi pucat. Dia melihat kepada istrinya dengan&#10;pandangan putus asa, menyesal, dan sedih karena telah mempercayai&#10;kata-katanya semalam.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Dia membuka pintu dengan kedua tangan menggigil. Dia ulurkan tangannya ke arah pengawal supaya diikat.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Para pengawal yang datang itu berkata kepadanya penuh keheranan: &amp;ldquo;Raja&#10;sudah wafat, kami meminta kamu untuk membuatkan sebuah peti mati untuk&#10;baginda&amp;rdquo;.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Waktu itu juga wajahnya berubah menjadi ceria. Kemudian ia melemparkan pandangan tanda mohon maaf ke arah istrinya.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Istrinya tersenyum. &lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Karena itu kadangkala seorang hamba sampai letih karena berfikir, sementara Allah yang memiliki semua rencana dan aturan.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Siapa yang merasa hebat karena jabatan, hendaklah ia mengingat Fir&amp;rsquo;aun.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Siapa yang merasa hebat karena harta, hendaklah ia mengingat Qarun.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Siapa yang merasa hebat karena keturunan, hendaklah ia mengingat Abu Lahab.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Kehebatan, kekuasaan dan kemuliaan hanya milik Allah satu-satunya.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia cabut dari siapa yang Dia kehendaki juga.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Jangan hukum masa depanmu dengan kondisi hari ini, Allah Maha Kuasa&#10;merubahnya dalam waktu sekejap. Tugas kita hanya berusaha dan terus&#10;berdo&amp;rsquo;a.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Pentingnya Seorang Muslim Berpartisipasi Dalam Pemilu dan Menentukan Parlemen yang Ideal</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/03/pentingnya-seorang-muslim.html</link><pubDate>Tue, 25 Mar 2014 10:50:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/03/pentingnya-seorang-muslim.html</guid><description>&lt;br /&gt;&#10;&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;b&gt;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/03/pemilu-2014-8689e600.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/03/pemilu-2014-8689e600.jpg" height="418" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;b&gt;Oleh: A. Mifdlol Muthohar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Beberapa saat lagi kita akan masuk dalam ajang pesta demokrasi,&#10;pemilihan umum (Pemilu) 9 April 2014. Para calon DPD, DPR dan DPRD dari&#10;berbagai partai politik telah mensosialisasikan diri, untuk menyambut&#10;kemenangan pada hari monumental tersebut. Berbagai macam sarana mereka&#10;lakukan, mulai dari pemberian bantuan untuk RT, jalan desa, pembangunan&#10;mushalla/masjid, dan sebagainya. Tentu semuanya berakhir dengan &lt;i&gt;closing&lt;/i&gt;: meraih simpati masyarakat, sehingga warga berkenan memilihnya pada Pemilu nanti.&lt;br /&gt;&#10;&lt;p&gt;Partisipasi masyarakat dalam Pemilu ini sangat penting, karena dari&#10;hasil Pemilu nanti, akan terpilih para anggota parlemen yang dapat&#10;menyambung aspirasi rakyat, dan dapat mengantarkan mulusnya jalan menuju&#10;kursi kepresidenan. Jika kita melihat tingkat partisipasi pemilih dari&#10;Pemilu ke Pemilu, cenderung semakin menurun. Pada Pemilu 1999 mencapai&#10;93%, Pemilu 2004 turun menjadi 85%, dan Pemilu 2009 turun lagi menjadi&#10;71%. Pemilu 2014, diprediksi hanya tinggal 54%, namun prediksi optimis&#10;Lingkaran Survei Indonesia (LSI) masih pada angka 60%. Sedangkan LIPI&#10;mengatakan bahwa angka golput sekitar 35 %. Ini tentu menjadi&#10;keprihatinan yang serius, khususnya buat para anggota DPR, DPRD dan DPD&#10;yang telah ada selama ini. Analisis sederhananya, publik selama ini&#10;menganggap bahwa apa yang dilakukan para anggota parlemen, itu tidak&#10;memuaskan publik. Inilah PR berat buat para anggota parlemen di&#10;masa-masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Apa Yang Telah Kita Siapkan Untuk Menyambut Datangnya Kemenangan?</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/03/apa-yang-telah-kita-siapkan-untuk.html</link><pubDate>Wed, 12 Mar 2014 05:57:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/03/apa-yang-telah-kita-siapkan-untuk.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/03/pks-senayan-5df6d2e0.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/03/pks-senayan-5df6d2e0.jpg" height="360" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Oleh Ustadz Usman Jakfar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;Mereka mau memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka dan Allah tetap akan menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang kafir itu tidak suka. (QS al-Shaf : 8)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;b&gt;Tadabbur ayat:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;1. Keinginan mereka untuk memadam cahaya Allah tidak akan pernah berhenti, sebab itu diungkap dalam bentuk&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;fi'il mudhari`&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;(menunjukkan kontiniu).&amp;nbsp; Ini adalah sunnatullah dalam dakwah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;2. Mereka memadam cahaya Allah ibaratkan memadam cahaya matahari dgn hembusan dari mulut mereka (al-tafsir al-kabir), emangnya bisa? sungguh satu perbuatan yang sia-sia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;3. Allah akan tetap menyempurnakannya, sekalipun mereka tidak suka. Hal ini telah ditetapkan oleh Allah Shubhaanahu wa Ta`aala dalam ayat dibawah ini dimana Allah menyebutkan 3 bentuk taukid: 1. Fiil كتب&amp;nbsp; (menetapkan) 2. Lam taukid dan 3. Adalah nun taukid thaqilah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;Allah telah menetapkan, (Allah berfirman): “Aku dan Rasul-ku akan mengalahkan mereka, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa. (al-Mujadilah:21)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;Sesungguhnya Kami akan menolong para rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan di dunia ini. (Ghafir:51)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;Dalam ayat ini disertai dengan dua bentuk taukid; 1. Inna (sesungguhnya), 2. Lam taukid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;4. Hanya waktu datangnya kemenangan itu tidak diberitahukan oleh Allah, yang pasti akan datang dan hanya Allah yang Maha Mengetahuinya. Sama seperti pertanyaan Umar ibn Khattab kepada Rasulullah shallaahu `alaihi wa sallama saat beliau belum bisa menerima isi perjanjian Hudaibiyyah. Umar berkata: Bukankah baginda rasulullah? “Iya”, jawab baginda. “Bukankah baginda telah mengatakan bahwa kita akan masuk Mekkah?” desak Umar lagi. “Iya”, jawab baginda, akan tetapi aku tidak mengatakan tahun ini kan? Umar pun terdiam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;5. Sama juga seperti pertanyaan sahabat, kapan qiamat itu terjadi? Hanya Allah Yang Maha Mengetahuinya, yang jelas qiamat itu pasti datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;6. Yang penting disini bukan masalah waktu, tetapi adalah masalah&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;ماذا أعتدت لها؟&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;, apa yang telah anda siapakan untuk menyambut kedatangan qiamat? Ini yang semestinya menjadi fokus, dan itu yang ditegaskan oleh baginda Rasulullah terhadap sahabat yang bertanya tentang “kapan hari Qiamat?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span&gt;7.&amp;nbsp; Jika, kita kaitkan hal ini dengan waktu datangnya kemenangan, bahwa sesungguhnya kemenangan itu adalah sesuatu yang pasti, tetapi fokusnya bukan pada waktu datangnya kemenangan itu, akan tetapi adalah “apa yang telah kita siapkan untuk menyambut datangnya kemenangan tersebut?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.pkspiyungan.org/2014/03/apa-yang-telah-kita-siapkan-untuk.html"&gt;pkspiyungan.org&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Akhir Riwayat PKS (3 fakta yang harus direnungkan kader PKS)</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/03/akhir-riwayat-pks-3-fakta-yang-harus.html</link><pubDate>Fri, 07 Mar 2014 10:33:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/03/akhir-riwayat-pks-3-fakta-yang-harus.html</guid><description>&lt;br /&gt;&#10;&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/03/pks-3-da419299.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/03/pks-3-da419299.jpg" height="400" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span id="7990076336929902705"&gt;By: Junaedi Putra&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;Sebenarnya sejak lama saya ingin menulis tentang masalah ini, namun saya&#10; khawatir jika tidak semua orang siap mengetahuinya. namun kemenangan&#10;demi kemenangan dalam setiap pilkada dan pilwalkot terus Allah berikan&#10;kepada PKS, dan insya Allah kemenangan itu juga Allah akan berikan&#10;kepada PKS di pemilu legislatif nanti.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;ketika banyak kader PKS bergembira akan kemenangan yang beruntun pasca&#10;musibah besar yang menimpa PKS, maka hampir semua pertempuran politik&#10;dimenangkan oleh PKS.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;namun izinkan saya memberikan sebuah fakta yang mungkin akan&#10;mencengangkan banyak kader PKS yang sebenarnya fakta ini sudah merupakan&#10; sunnatullah yang juga diisyaratkan dalam banyak ayat, namun ketiga&#10;euforiya kemenangan itu sedemikian besar maka umumnya sensitifitas dalam&#10; memfirasati zaman menjadi semakin mengendur, dan sinyal-sinyal Robbani&#10;makin "hilang sinyal" tertutup oleh percaya diri yang terus menerus.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;ada 3 fakta dibalik setiap kemenangan ini yang perlu direnungkan oleh setiap kader PKS.&lt;br /&gt;&#10;1. Pada setiap futuhat dalam dakwah selalu menghadirkan beban yang semakin berat.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;ikhwah fillah perlu kita sadari bahwa kemenangan yang terus menerus&#10;Allah berikan lebih layak membuat kita menangis dari pada tertawa.&#10;karena pada hakikatnya kepemimpinan adalah amanah. dan menjadi pemimpin&#10;adalah menjadi pelayan bagi rakyatnya.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;menangnya PKS dibanyak wilayah pada kenyataannya adalah mengurangi waktu&#10; tidur kita, memperbanyak kerut diwajah kita, karena sejarah mengajarkan&#10; kepada kita bahwa ummat islam sanggup bertahan menghadapi siksaan untuk&#10; membela keimanan mereka, namun kaum muslimin justru mendapatkan ujian&#10;yang paling besar dalam urusan kepemimpinan.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;pada kenyataannya PKS tidak sekadar membawa nama besar partai, namun&#10;membawa nama besar aktivis dakwah, bahkan membawa nama besar Islam pada&#10;saat yang bersamaan. maka sedikit saja kita melakukan kesalahan, "mata&#10;elang" pun siap menjadikan kita hidangan untuk disantap bersama sama&#10;dalam sebuah piring.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;karenanya kita perlu ingat bahwa semakin besar amanah yang Allah berikan&#10; kepada kita selayaknya membuat kita semakin dekat kepada Allah, semakin&#10; takut akan adzab Allah, dan semakin berharap bantuan hanya kepada&#10;Allah.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;tidak layak orang yang menjadi pemimpin tilawahnya sama dengan rakyat biasa,&lt;br /&gt;&#10;amalnya harus diatas orang awam. sesuatu yang bagi orang awam merupakan&#10;kewajiban, maka bagi kita harus sudah menjadi tabi'at yang melekat,&#10;sesuatu yang bagi orang awam merupakan sunnah, maka bagi kita seharusnya&#10; menjadi kebutuhan. karena dalam setiap ibadah itu merupakan bekal bagi&#10;setiap muslim terlebih lagi bagi setiap aktivis da'wah yang sadar akan&#10;tugas dan tanggungjawabnya. jika sebaliknya, semakin banyak amanah&#10;justru makin jauh dari Allah maka wallahi itu adalah sinyal pertama&#10;menuju kehancuran&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;tidak layak orang yang dipercaya dengan banyak amanah air matanya begitu&#10; mahal untuk keluar menangisi dosanya. orang yang paling dekat kepada&#10;Allah adalah orang yang paling mudah menangisi dosanya. sensitifitasnya&#10;tinggi pada semua hal yang berkaitan dengan dosa yang dengannya ia&#10;berlari dari semua hal yang haram, dan ia sangat sensitif dengan&#10;kelalaian dari mendapat pahala. masih ingat kisah Umar saat terlambat&#10;sholat berjama'ah? ia hukum dirinya sendiri, tak perlu tunggu ditegur.&#10;itulah maqom pemimpin. urusannya bukan lagi dengan manusia, tapi&#10;langsung kepada Allah. gambaran tentang surga dan neraka begitu melekat&#10;di kepalanya, itulah maqom pemimpin.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;dan tidak layak orang yang menjadi pelayan ummat jika tidak menjadikan&#10;Allah sebagai satu-satunya dzat tempat berharap, apapun yang ia hajatkan&#10; maka Allahlah tempat ia melarikan diri.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;suatu ketika syaikh Hasan Al Hudaibi bertanya kepada salah satu kader,&#10;"sudah berapa juz tilawahmu hari ini?" ia menjawab "satu juz". Syaikh&#10;Hasan Al Hudaibi berubah mukanya dan bertanya dengan heran "apa yang&#10;menghalangimu untuk mengkhatamkan 10 juz per hari?"&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;masya Allah, tentunya tilawah beliau lebih banyak lagi dari itu. itulah&#10;potret kader dakwah yang sadar akan amanah yang dipikulnya.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;2. Membesarnya jama'ah memungkinkan kaum munafiqin menyusup kedalam barisan dakwah.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;hal yang paling kita khawatirkan bukan serangan musuh dari luar, namun&#10;keberadaan kaum munafiqin dalam jama'ah dakwah. mereka bisa masuk dengan&#10; berbagai motivasi, dengan berbagai cara, dan dari berbagai latar&#10;belakang. faktanya dihampir setiap episode sejarah yang membuat&#10;Rasulullah sedih disebabkan kelakuan kaum munafiqin. memfitnah Istri&#10;nabi, memecah belah pasukan, menghasut kaum muslimin, menebar desas&#10;desus, sampai membocorkan rahasia kaum muslimin terus dilakukan oleh&#10;kaum munafiq.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;dan perlu diingat, justru keberadaan kaum munafiq itu pada saat dimana jama'ah dakwah mulai membesar.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;modusnya selalu sama. melemahkan, menghasut, dan memecah belah.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;kaum munafiqin disetiap zaman selalu sama cirinya dengan yang Allah gambarkan dalam Al qur'an dan juga ada dalam sejarah rasul.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;menjadi PR kita semua adalah bagaimana cara kita menghadapi mereka.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;3. Tribulasi semakin membesar bersamaan membesarnya jama'ah dakwah.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;kita perlu ingat bahwa proses masuknya Nabi yusuf dalam pemerintahan&#10;merupakan proses naik turun dan pasang surut. jadi jangan bermimpi jika&#10;badai itu tidak akan kembali setelah sebelumnya menerpa kita. bisa jadi&#10;badai itu kembali dengan kekuatan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&#10;syaikh Muhammad assanadi berkata "jika kalian belum merasakan dinginnya&#10;lantai penjara, rumah kalian digeledah, nama baik kalian dihancurkan,&#10;dan berbagai jenis penyiksaan maka engkau belum memahami dakwah yang&#10;sebenarnya."&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;beliau mengatakan hal ini karena beliau telah merasakan semua itu, bukan&#10; merupakan parameter, namun paling tidak kita perlu memahami bahwa&#10;konsekuensi dari dakwah yang memasuki wilayah kekuasaan pasti&#10;bersinggungan dengan kepentingan kaum kufar. dan disitulah pasti muncul&#10;makar.&lt;br /&gt;&#10;Rasulullah pun mengalami pemboikotan, penghinaan, penganiayaan, dan berbagai bentuk makar lainnya.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;jadi silakan pikirkan kemungkinan terburuk dari konsekuensi atas amanah ini.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;bisa jadi suatu saat PKS dibubarkan dengan isu terlibat jaringan teroris&#10; dengan bukti yang dibuat-buat. atau jika itu tak berhasil dan bahkan&#10;mengantarkan PKS ke tampuk presiden maka bisa jadi saat PKS berada pada&#10;jabatan tertinggi mereka akan mengkudeta dan menangkapi seluruh&#10;aktivisnya, lalu memenjarakannya di penjara dengan berbagai siksaan yang&#10; tak manusiawi.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;jika memilih untuk bertahan diluar tanpa senjatapun mereka akan terus&#10;membuat makar seolah-olah PKS bersenjata dan dengan alasan itu PKS akan&#10;dibantai dan tempat pembantaiannya akan menjadi ladang pemakaman masal&#10;yang tercatat dalam sejarah.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;saya tidak sedang mengada-ada, tapi saya ingin memberikan sebuah&#10;penyadaran bahwa jalan yang kita pilih ini bukan jalan yang bertabur&#10;bunga dan kesturi yang dikanan kirinya berhiaskan sanjung puji, dakwah&#10;ini adalah jalan yang dipenuhi onak dan duri, yang didalamnya banyak&#10;caci maki, agar para aktivisnya tidak bergantung kepada selain Allah.&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;terlalu sering kita bicara kemenangan dakwah, maka kini saatnya kita menyadari konsekuensi dari kemenangan itu.&lt;br /&gt;&#10;siapkah kita?&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;wallahu a'lam bisshowwab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;span id="7990076336929902705"&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://muslimina.blogspot.com/2014/03/akhir-riwayat-pks-3-fakta-yang-harus.html"&gt;Muslimina&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;</description></item><item><title>Politik Dan Sejarah</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/02/politik-dan-sejarah.html</link><pubDate>Sun, 09 Feb 2014 06:38:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/02/politik-dan-sejarah.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/02/anis-matta-net-4efd3fa2.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/02/anis-matta-net-4efd3fa2.jpg" height="265" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;POLITIK bisa punya banyak makna dan kebanyakan dari pemaknaan itu bertalian dengan kekuasaan. Tidak salah, tetapi saya ingin membahas politik dari sudut pandang yang berbeda. Saya ingin memahami politik sebagai ”industri” pemikiran.Sebagai bursa pemikiran, politik bertugas memberi arah bagi kehidupan masyarakat. Politik terancam gagal jika masyarakatnya mengalami rasa kehilangan arah yang dituju (sense of direction). Hilangnya sense of direction tersebut tampak dari suasana hati publik (public mood) yang diwarnai kemarahan dan kecemasan kolektif, menggantikan kepercayaan dan harapan kolektif mereka.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Agar dapat menjalankan tugas memberi arah itu, politik—dalam arti kehidupan politik secara keseluruhan—harus mampu memahami, merekam, dan menangkap perubahan fundamental yang terjadi di tengah masyarakat serta memberi arah yang benar bagi perubahan itu.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Jika kita melihat rentang sejarah, dinamika perubahan sosial merupakan interaksi empat elemen: manusia, ide, ruang, dan waktu. Manusia adalah pusat perubahan karena merupakan pelaku atau aktor di mana ruang dan waktu merupakan panggung pertunjukannya. Ide jadi penggerak manusia dalam seluruh ruang dan waktunya. Setiap kali ada perubahan yang penting dalam ide-ide manusia, kita akan menyaksikan perubahan besar dalam masyarakat mengikutinya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Manusia bergerak dalam ruang dan waktu secara dialektis, antara tantangan dan respons terhadap tantangan tersebut. Ide atau gagasan yang memenuhi benak manusia merupakan manifestasi dari dinamika dialektis itu. Hidup manusia bergerak dan terus bertumbuh karena merespons tantangan di sekelilingnya. Hasil dari respons baru tersebut selanjutnya melahirkan tantangan-tantangan baru yang menuntut respons-respons baru. Begitu seterusnya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dalam perspektif itulah, politik bertemu dengan sejarah. Sejarah adalah cerita tentang manusia di tengah seluruh ruangnya dalam rentang waktu yang panjang. Sejarah adalah cerita tentang tiga orang: orang yang sudah meninggal, orang yang masih hidup, dan orang yang akan lahir. Jika politik ingin memahami drama perubahan sosial secara komprehensif, politik harus memahami cerita tentang tiga orang itu. Politik menjadi dangkal jika ia hanya memahami cerita tentang satu orang, yaitu orang yang masih hidup. Itu adalah jebakan kekinian, di mana kita tampak seperti telah menyelesaikan masalah hari ini ketika sebenarnya yang kita lakukan justru memindahkan beban masalah itu kepada generasi yang akan lahir esok hari.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Berpijak pada sejarahJika sejarah adalah cerita tentang hari kemarin, hari ini, dan hari esok, sejarah bukan saja metode untuk memahami masa lalu dan masa kini, melainkan juga menjadi jalan paling efektif menemukan alasan untuk tetap berharap bahwa esok hari cerita hidup kita akan lebih baik.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Membaca sejarah adalah cara menemukan harapan. Harapanlah yang membuat kita rela dan berani melakukan kebajikan-kebajikan hari ini walaupun buah kebajikan itu akan dipetik mereka yang baru akan lahir esok hari. Tugas politik adalah memberi arah bagi kehidupan masyarakat agar mereka merasa memiliki satu arah yang dituju, memiliki orientasi. Rasa memiliki arah ini merupakan sumber kepercayaan diri dan harapan yang kuat bagi masa depan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sebaliknya, chaos dan anomi membuat orang merasa tersesat dan limbung. Untuk dapat menemukan arah itulah, kehidupan politik harus berpijak pada sejarah. Berpijak pada sejarah tidak berarti melulu melihat ke belakang atau memuja kejayaan masa lalu; berpijak pada sejarah harus dimaknai sebagai keyakinan merancang masa depan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Muatan sejarah menghindarkan politik dari kedangkalan dan membawanya pada kedalaman kesadaran. Dengan memahami sejarah, politik akan bergeser dari pandangan sempit sekadar berebut kekuasaan menuju keluasan cakrawala pemikiran, dari sekadar perdebatan mengurusi kenegaraan menjadi perbincangan arsitektur peradaban.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Pertanyaan yang segera menghadang kita adalah apa yang akan terjadi pada Pemilu 2014? Apakah pesta demokrasi tahun depan itu sekadar menjadi ajang peralihan kekuasaan secara damai, sesuatu yang business as usual di dalam demokrasi?&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Pemilu 2014 adalah momentum peralihan sejarah yang didorong oleh perubahan struktur demografis Indonesia. Penduduk berusia 45 tahun ke bawah mencapai sekitar 60 persen dari populasi. Bukan sekadar mendominasi dari segi jumlah, kelompok ini bercirikan pendidikan yang tinggi, kesejahteraan yang membaik, dan terkoneksi dengan dunia luar melalui internet. Kita juga menyaksikan lahirnya native democracy, yaitu mereka yang sejak lahir hanya mengenal demokrasi. Pemilih pemula yang berusia 17 tahun pada 2014 adalah mereka yang lahir pada 1997. Mereka tidak merasakan perbedaan suasana otoriter pada masa Orde Baru dengan kebebasan pada masa kini. Bagi mereka, demokrasi dan kebebasan adalah sesuatu yang terberi (given) dan bukan hasil perjuangan berdarah-darah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Mayoritas baru ini memerlukan jawaban baru dari partai politik. Ada hal-hal yang akan dianggap usang. Mereka ingin melihat visi dan agenda baru. Untuk menjawab tantangan itu, politik harus bisa mendefinisikan di mana kita berada sebagai sebuah bangsa dan sebuah entitas peradaban sekarang ini. Sejumlah gelombang sejarah telah kita lalui sebagai negara-bangsa dan banyak pelajaran penting yang dapat kita sarikan. Pertanyaan mendasar ini menghindarkan kita dari jebakan kedangkalan politik. Sejarah adalah kompas bagi politik dalam mengarungi masa yang akan datang.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;M Anis Matta, Presiden Partai Keadilan Sejahtera&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.anismatta.net/2013/12/07/politik-dan-sejarah/"&gt;anismatta.net&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Buta Politik, Buta Pemimpin</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2014/01/buta-politik-buta-pemimpin.html</link><pubDate>Thu, 30 Jan 2014 06:45:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2014/01/buta-politik-buta-pemimpin.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/01/ilustrasi-pemimpin-dan-anggota-320x240-b1744054.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2014/01/ilustrasi-pemimpin-dan-anggota-320x240-b1744054.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;i&gt;“Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir semua pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional”&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;(Bertolt Bracht, penyair Jerman)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sedikit frontal memang, tapi kenyataannya itulah yang terjadi dewasa ini. Banyak saudara-saudara kita terlalu apatis dengan dunia perpolitikan, terkhusus umat Islam di Indonesia. Lihatlah apa jadinya Islam tanpa dukungan politik. Di Burma, di Thailand, di Vietnam dan di Myanmar misalnya, lihat apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita di sana. Mereka di bantai, di basmi, diberangus, di hapuskan eksistensinya. Apa yang kita lakukan. Lagi-lagi dengan sikap kita yang biasa. Hanya berteriak-teriak marah, protes, mengutuk, mengecam, sedikit doa dan sedikit dana dan setelah itu selesai, kita lupa, berlalu begitu saja. Kita kehilangan legitimasi politik, kehilangan wibawa, kehilangan daya dan kekuatan dan mungkin juga kita kehilangan kepercayaan bahkan dari penganut Islam itu sendiri kita saling tidak percaya. Kebanyakan dari kita malah bahkan malu menampakkan keislamannya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kenyataannya masyarakat Islam di Indonesia yang mayoritas dan banyak ini ternyata tidak bisa memberikan ekses bagi masyarakat Islam di belahan bumi lain. Kita di acuhkan, di anggap bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, kekuatan kita tidak ditakuti bahkan dari penduduk negeri yang jumlah penghuninya hanya seberapa persen dari jumlah penduduk negeri kita.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Bandingkan dengan kisah heroik Al-Mu’tashim khalifah di masa Bani Abbasiyah. Kisah heroik Al-Mu’tashim dicatat dengan tinta emas sejarah Islam. Kisah heroik penaklukan kota Ammuriah (kawasan Turki saat ini) terjadi pada tahun 223 Hijriyah. Catatan sejarah menyatakan bahwa ribuan tentara Muslim bergerak di bulan April, 833 Masehi dari Baghdad menuju Ammuriah. Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Peristiwa ini ternyata dilatarbelakangi oleh teriakan seorang perempuan muslimah yang dilecehkan kafir Romawi dan berteriak ‘Wahai Mu’tasim” yang kebetulan menguasai negeri itu. Konon katanya wanita itu adalah keturunan bani Hasim yang kebetulan sedang berbelanja di pasar. Di saat sedang berjalan itulah, sang muslimah diganggu oleh seorang lelaki Romawi dengan menyentuh ujung jilbabnya hingga dia secara spontan berteriak: “Di mana kau Mu’tasim…Tolonglah Aku”&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Teriakan muslimah tersebut akhirnya sampai ke telinga Khalifah al-Mu’tasim. Maka sang khalifah tersentuh hatinya dan terbakar ghirah Islamnya sehingga dilancarkanlah serangan penaklukan ke Ammuriah hingga sang Muslimah akhirnya bisa dibebaskan. Allahu Akbar&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Bagaimana dengan Islam dewasa ini? Hari ini kita tidak punya kendaraan politik untuk melegitimasi kekuatan kita. Kita bukan siapa-siapa di negeri kita. Selama ini kita selalu kalah, dalam pemilihan pemimpin pun kenyataannya kita kalah. Belum pernah ada pemimpin yang terpilih benar-benar mewakili suara umat Islam.&amp;nbsp; Kita kalah dari kaum nasionalis dan sekuler yang begitu apik membungkus dagelan politiknya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Menyiapkan kader-kader sadar memimpin adalah PR besar kita saat ini, selama proses penantian itu kita juga jangan melalaikan kondisi masyarakat hari ini. Selain pemimpin, kunci utama kejayaan suatu peradaban adalah munculnya kesadaran masyarakat sebagai bagian dari satu sistem, bagian dari satu cerita kejayaan. Kesadaran terpimpin inilah yang selama ini belum terakomodasi dengan baik.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kegagalan kita menyambung tongkat estafet kepemimpinan saat tumbangnya orde baru seharusnya menyadarkan kita, bahwasanya bukan hanya konsep, kekuatan, dan amarah yang harus di bangun. Kita butuh iklim politik yang sehat, kita butuh kesempatan memupuk jiwa-jiwa pemimpin yang berintegritas ketauhidan yang memiliki pemahaman yang lebih transedental. Kita hanya akan berada dalam dua kondisi kepemimpinan sebagaimana yang disabdakan Nabi kita&lt;/div&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;i&gt;&lt;i&gt;“Bila pemimpin kalian adalah orang yang terbaik dari kalian, maka orang-orang kaya di antara kalian adalah orang yang paling dermawan dari kalian, dan semua permasalahan di antara kalian diselesaikan dengan cara syura (musyawarah), maka apa yang di atas bumi ini lebih baik dari apa yang di dalamnya. Kehidupan ini akan lebih baik dari kematian. Tapi sebaliknya, bila pemimpin kalian adalah orang yang paling jahat di antara kalian, maka orang-orang kaya di antara kalian adalah yang paling kikir, dan masalah kalian diserahkan pada wanita, maka apa yang ada di dalam bumi ini lebih baik dari apa yang di atas bumi. Di sinilah kematian lebih baik dari kehidupan. Ketika semua timbangan menjadi terbalik, nilai menjadi rusak, saat itulah tidak ada gunanya lagi kehidupan.(Imam Turmudzi).&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;br /&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dua kondisi di atas adalah cerminan kondisi kita, dan kita pasti sudah bisa menerka saat ini kita dalam kondisi kepemimpinan seperti apa. 2014 ini kesempatan kita terbuka lagi untuk memilih pemimpin yang lebih baik, pemimpin yang tertarbiyah dengan pemahaman Islam yang baik. Islam harus bangkit, Islam harus keluar menyapa dunia, Islam harus memimpin menjadi pemimpin di tanahnya sendiri.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Walahu&lt;/i&gt;&lt;i&gt;’&lt;/i&gt;&lt;i&gt;alam&lt;/i&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;i&gt;Oleh: Asdar Munandar&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;i&gt;Sumber: dakwatuna.com&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Membangun Jamaah</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2013/12/membangun-jamaah.html</link><pubDate>Wed, 11 Dec 2013 04:52:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2013/12/membangun-jamaah.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2013/12/apel-fbf61b19.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2013/12/apel-fbf61b19.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;h4&gt;&#10;&lt;br /&gt;&lt;/h4&gt;&#10;&lt;h4&gt;&#10;Allah swt. berfirman,&lt;/h4&gt;&#10;&lt;div dir="RTL"&gt;&#10;إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيَانٌ مَّرْصُوصٌ&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Bangunan yang tersusun kokoh tentu tidak hanya terdiri dari satu komponen, tetapi terdiri dari beberapa kompenen yang saling kait mengkait dan serasi antara satu dengan lainnya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Seseorang atau perusahaan yang akan membangun gedung, akan memulainya dengan mimpi, doa, membuat rencana, mencari bahan, kemudian mengumpulkan bahan yang dibutuhkan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Bahan yang sudah terkumpul diseleksi sesuai kebutuhan bagian-bagian dari konstruksi bangunan. Pasir disaring, batu dibentuk dengan ukuran-ukuran tertentu, kayu yang kurang lurus, diluruskan terlebih dahulu, dan begitu seterusnya, agar bangunan kokoh dan rapih.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Bahan-bahan yang tidak terpakai untuk konstruksi inti, akan dimanfaatkan untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya, seperti meratakan halaman, hiasan di luar, dan lain sebainya, sehingga tidak ada satu bahan bangunan pun yang terbuang percuma.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sebuah Jamaah yang berjuang untuk mengembalikan manusia pada penghambaan kepada Allah swt. semata, mengembalikan kejayaan umat, menegakkan keadilan, mensejahterakan masyarakat, dan membuktikan bahwa Islam itu rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), tentu tidak mungkin dibangun hanya dengan satu profesi, potensi, dan kemampuan. Sebab Islam yang diperjuangkan adalah “Sistem yang&amp;nbsp;&lt;i&gt;syamil&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(menyeluruh), mencakup seluruh aspek kehidupan. Maka ia adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, wawasan dan undang-undang atau ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam atau penghasilan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; kekayaan,&amp;nbsp; serta jihad dan dakwah atau pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga ia adalah akidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.”&lt;a href="http://www.al-intima.com/harakatuna/membangun-jamaah#_ftn1" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Jamaah membutuhkan ahli politik yang menangani masalah politik dan pemerintahan, dokter dan para medis yang menangani kesehatan, pakar ekonomi, ahli pendidikan, teknokrat, kiyai, dan keahlian lainnya. Namun untuk menghimpun mereka dalam sebuah jamaah, menyatukan mereka semua dalam satu visi dan misi, serta mengikat mereka dalam kerja sama yang rapih, tentu lebih serius dibanding membangun gedung.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sebuah Jamaah yang solid dan produktif dibangun melalui proses yang panjang; dari mulai menjalin komunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat, memilih anggota masyarakat yang siap menerima perubahan dan mengusung perubahan, mentarbiyah yang terpilih, dan begitu seterusnya hingga tergabung dalam jamaah yang solid dan produktif.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Apabila untuk membangun gedung yang kokoh dan indah dibutuhkan waktu yang relatif lama, padahal bahan-bahannya adalah benda yang tidak bergerak dan tidak mempunyai kehendak, maka apalagi membangun Jamaah yang solid dan produktif yang anggotanya adalah manusia. Di mana manusia mempunyai pikiran, keingingan, latar belakang, dan segudang karakteristik yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Proses pembentukan Jamaah yang solid dan produktif itu, bisa disebut dengan istilah tarbiyah atau pembinaan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Dan, karena Jamaah yang berjuang untuk tegaknya agama Allah swt. itu, tidak dibatasi oleh waktu, maka pembinaan pun tidak berhenti. Sebab jika pembinaan berhenti, maka pertanda Jamaah itu pun akan berhenti.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Mushtafa Masyhur berkata, “Berbagai peristiwa dan perjalanan waktu menjadi saksi bahwa perhatian terhadap proses pembinaan&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;menjadi penentu bagi kadar kemurnian, kesinambungan, dan perkembangan sebuah jamaah (pergerakan). Ia juga menjadi ukuran bagi sejauh mana keterpaduan di antara anggota-anggotanya, persatuan barisannya, kerjasamanya, kinerjanya, serta produktivitas dan efektivitas potensi yang dicurahkan, harta yang diinfakkan, dan waktu yang dihabiskan. Sebaliknya, bila aspek pembinaan&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;ditelantarkan atau kurang mendapat perhatian, maka akan nampak kelemahan dan keguncangan dalam barisan, muncul benih-benih permusuhan dan perpecahan, kinerja semakin melemah dan produktivitas semakin menurun.”&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Proses pembinaan sesuangguhnya hanya terdiri dari dua unsur utama, yaitu rekrutmen anggota pembinaan baru dari masyarakat, dan pemeliharaan serta peningkatan anggota yang telah terbina. Di mana dua unsur tersebut saling berkaitan dan satu mempengaruhi yang lainnya.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Rekrutmen berfungsi untuk menambah jumlah anggota yang akan menjadi bahan utama bangunan, sehingga bangunan semakin besar dan tinggi menjulang. Karena itu, apabila kegiatan rekrutmen mengalami kemandegan, maka pertumbuhan jamaah pun akan terhenti.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Kemenangan dakwah di setiap masa selalu ditandai dengan pertumbuhan kader berkualitas dalam jumlah yang mencukupi.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Pada musim Haji tahun ke-11 kenabian, 6 pemuda Yatsrib masuk Islam dan bertekad menyebarkan risalah Islam di Madinah. Mereka melakukan rekrutmen secara masif di derah asalnya. Hasilnya, pada tahun berikutnya, yaitu tahun ke-12 kenabian terjadi bai’atul Aqabah pertama yang diikuti oleh 12 orang Yatsrib yang telah masuk Islam, dan satu orang dari 6 orang yang pertama tidak ikut karena sakit. Berarti jumlah anggota jamaah di Yatsrib saat itu 13 orang dari asalnya 6 orang. Kalau dihitung dengan prosentase, pertumbuhan kader lebih dari 100%&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Setelah itu Rasulullah saw. mengutus Mush’ab bin Umair ra. untuk membantu rekrutmen dan pembinaan kader di Yatsrib. Dan, dengan bantuan Mush’ab, kader-kader Yatsrib berhasil merekrut tokoh-tokoh Yatsrib, hingga tahun berikutnya, yaitu tahun ke-13 kenabian, terjadi Bai’atul Aqabah kedua yang diikuti oleh 73 orang dari penduduk Yatsrib. Dan, kader yang siap berangkat ke Makkah dengan resiko kematian, jika ketahuan kaum kafir Quraisy, tentu bukan kader pemula. Berarti pertumbuhan kader yang siap memikul amanah perjuangan saat itu lebih dari 600%.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Pertumbuhan tersebut terus berlangsung tanpa henti dan ditambah dengan proses hijrah nabawiyah, maka proses pertumbuhan semakin pesat dan tidak pernah mengalami stagnan, apalagi penurunan.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Tujuh tahun kemudian, yaitu ke-6 Hijriah, Rasulullah saw. memobilisasi para shahabat untuk Umrah, yang dikenal dengan Umrah Hudaibiyah. Yang berangkat bersama beliau saw. pada waktu itu sekitar 1500 kader. Meski akhirnya tidak jadi melaksanakan Umrah karena terjadi perjanjian Hudaibiyah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Ketika suasana aman, tidak ada tekanan dan tidak ada pertempuran, maka rekrutmen kader semakin masif, hingga dua tahun berikutnya, yaitu tahun 8 Hijriah, Rasulullah saw. berangkat bersama sekitar 10.000 pasukan untuk membebaskan kota Makkah.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Pada saat kemenangan besar diraih oleh kaum muslimin, maka rekrutmen tidak lagi dilakukan secara personal, tetapi secara berkelompok, bahkan masyarakat secara berbondong-bondong bergabung dalam barisan dakwah. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah swt. dalam firman-Nya, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (An-Nashr: 1-3)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Pertumbuhan itu terus berlangsung, hingga pada musim Haji Wada’, 10 Hijriah, peserta yang hadir saat itu sekitar 100.000 shahabat.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Di antara faktor suksesnya pertumbuhan itu adalah semangat masing-masing kader untuk melakukan rekruitmen dan pembinaan. Dan, semangat untuk merekrut dan membina pun selalu dihembuskan oleh Rasulullah saw. melalui janji-janji menarik, antara lain,&lt;/div&gt;&#10;&lt;div dir="RTL"&gt;&#10;فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;“Maka demi Allah, sesungguhnya jika Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan (perantaraan) kamu, maka itu lebih baik bagimu daripada kamu mempunyai unta merah (kendaraan termewah saat itu, pent.)” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Rasulullah saw. bersabda,&lt;/div&gt;&#10;&lt;div dir="RTL"&gt;&#10;مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;“Barangsiapa menunjukkan pada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala yang melakukannya.” (HR. Muslim)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Memang tidak semua kader memiliki kemampuan rekrutmen dan pembinaan yang memadai. Oleh karena itu, apabila seorang kader memiliki berbagai keterbatasan (udzur syar’i), hingga tidak bisa merekrut atau membina, maka memfasilitasi kader lain agar dapat melakukan rekrutmen atau pembinaan, dengan cara memberikan kontribusi dana pada kader yang mempunyai kemampuan merekrut atau membina, tetapi tidak dapat optimal karena sarana, maka pahalanya sama dengan yang melakukan rekrutmen atau pembinaan secara langsung.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div dir="RTL"&gt;&#10;مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الْغَازِي شَيْئًا&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;“Siapa yang membekali pejuang di jalan Allah, maka ia mendapat pahala seperti pahala pejuang tersebut, tanpa mengurangi pahala pejuang itu sedikit pun.” (HR. Ibnu Majah)&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Tentunya masih banyak dalil dari Al-Qur’an, Hadits, Sirah Nabawiyah, dan lain-lainnya tentang pentingnya rekruitmen dan pertumbuhan kader. Wallahu a’lam bishawab.&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber: al-intima.com&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Sabar Adalah Tuntutan Setiap Mihwar Dakwah</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2013/12/sabar-adalah-tuntutan-setiap-mihwar.html</link><pubDate>Tue, 10 Dec 2013 07:22:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2013/12/sabar-adalah-tuntutan-setiap-mihwar.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2013/12/sabar-4c0ff706.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2013/12/sabar-4c0ff706.jpg" width="315" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kamis (21 Nopember 2013) kemarin, ustadz Anis Matta memberikan taujih kepada para aktivis dan qiyadah dakwah yang berkumpul di Jakarta Convention Center (JCC). Di antara isi taujih beliau adalah tentang pentingnya kita menguatkan kesabaran dalam menapaki jalan perjuangan. Menurut beliau, sabar adalah karakter dan akhlaq yang paling banyak disebut di dalam Al Qur’an, sampai para ulama menyebut sabar sebagai induknya semua akhlaq terpuji.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Tiada hentinya kita harus mengingatkan diri tentang kesabaran. Bukan hanya karena di jalan dakwah akan banyak tantangan dan hambatan dari luar. Makar, konspirasi, pembusukan karakter, pengadilan yang tidak adil, persepsi publik yang negatif, penyelewengan opini lewat berbagai media, dan lain sebagainya. Namun kesabaran ini diperlukan di setiap mihwar, karena secara internal pun dakwah ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang sabar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Sabar, sabar, sabar&amp;hellip; Beginilah jalan dakwah telah kita lalui. Berkomunitas bersama orang-orang salih bukannya tanpa masalah, maka Allah memerintahkan agar kita selalu bersabar bersama mereka :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Al Kahfi : 28).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Bisa jadi ada salah paham di antara para aktivis. Bisa jadi ada ketidaknyamanan perasaan di antara para pelaku dakwah. Bisa jadi ada gesekan-gesekan antar aktivis dakwah dalam kancah politik praktis. Bisa jadi ada data yang kurang valid, namun digunakan untuk pengambilan keputusan. Bisa jadi ada stigma yang menganga, dan tidak pernah ada pengadilan yang memberikan klarifikasi. Bisa jadi ada persepsi yang keliru terhadap seorang aktivis namun diyakini dan digunakan untuk memberikan penilaian kepadanya. Bisa jadi ada ketidaktepatan dalam menerapkan teori-teori fiqih dakwah yang telah dipelajari selama ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Capek, lelah mendera jiwa dan raga. Namun ini adalah pilihan, yang tidak ada sedikitpun paksaan kita bersamanya. Bisa jadi di sepanjang perjalanan dakwah ini ada ketidakpahaman, ada ketidakmengertian, dan kita tidak pernah menemukan jawaban. Bisa jadi Khalid bin Walid tidak pernah mengerti mengapa dirinya diganti dari posisi panglima perang yang demikian dihormati. Namun toh kehormatan dirinya tidak runtuh karena posisi itu tidak lagi dia miliki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Kehormatan diri kita adanya pada konsistensi. Konsisten menapaki kebenaran. Konsisten menapaki jalan kebaikan. Komitmen pada peraturan. Teguh memegang keputusan. Mendengar dan taat, itulah karakter kader teladan. Bukankah ini ujian, karena yang kita dengar dan kita taati bisa jadi berbeda dengan suara hati nurani. “Qum Ya Hudzaifah !” Menggelegar suara perintah. Dan Hudzaifah segera bangkit berdiri. Taat tanpa kompromi kepada Sang Nabi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Kehormatan diri bukan terletak pada posisi kita sebagai apa. Tidak menjadi apa-apa, tetap bisa dihormati. Kita terhormat karena karakter yang kuat, kita terhormat karena karya yang tiada pernah berhenti, kita terhormat karena kerja yang terus menerus, kita terhormat karena keteladanan, kita terhormat karena konsisten, kita terhormat karena kesabaran dan kesetiaan di jalanNya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Sabar, itulah kunci keberhasilan dakwah di setiap mihwar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cahyadi Takariawan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Kader Dakwah Bergeraklah.!!!</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2013/12/kader-dakwah-bergeraklah.html</link><pubDate>Sat, 07 Dec 2013 06:08:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2013/12/kader-dakwah-bergeraklah.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2013/12/bergeraklah-bc201297.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="272" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2013/12/bergeraklah-bc201297.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Alam mengajarkan kita untuk senantiasa bergerak agar tercipta sebuah kesempurnaan sebagaimana fungsinya ia diciptakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Seperti air, apabila ia terus tergenang dalam sebuah wadah, maka ia akan jauh dari manfa&amp;rsquo;at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi &lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;lsquo;ada&amp;rsquo;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; adalah karunia, sebab kita tidak dapat meng&lt;i&gt;&amp;lsquo;ada&amp;rsquo;&lt;/i&gt;kan diri kita sendiri. Tapi menjadi &lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;lsquo;ada&amp;rsquo;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; saja tidaklah cukup, kita &lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;lsquo;ada&amp;rsquo;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;karena diperintahkan untuk memiliki &amp;lsquo;makna&amp;rsquo;, untuk bisa ber&amp;rsquo;arti&amp;rsquo;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat sebuah penciptaan adalah untuk terus bergerak menghadirkan manfaat dan perubahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Seperti bumi dan matahari yang tak pernah malas untuk bergerak dan terus berputar pada porosnya sehingga tercipta keseimbangan alam, sebagaimana Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;ldquo;Dan matahari berjalan di tempat peredarannya…&amp;quot;&lt;/i&gt;(Yaa Siin: 38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;ldquo;Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya ber-tumpuk2, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah2-nya..&amp;quot;&lt;/i&gt; (An-Nuur: 43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergerak adalah &amp;lsquo;keberkahan&amp;rsquo;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Mukmin yang cerdas adalah yang senantiasa mampu mengendalikan diri dan menata dirinya untuk hari esok. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah pada salah satu hadist-nya, bahwa &lt;i&gt;&amp;lsquo;hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi&amp;rsquo;. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;ldquo;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&amp;rdquo; (Al Hasyr: 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat jika enggan untuk bergerak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menciptakan kita, bukan untuk menjadi sia-sia tak berguna, tapi agar dapat bermakna, bermanfaat, baik bagi agama, bangsa dan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, teruslah bergerak dengan niat yang baik &lt;i&gt;lillahi ta&amp;rsquo;ala&lt;/i&gt;, agar menghasilkan sebuah kebaikan. Jadikan diri kita bermakna dan jangan sia-siakan karunia hidup yang telah diberikan Allah.&lt;span&gt;&lt;i&gt;[frd/bbm/im]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Nasihat Cinta untukmu Kader Dakwah</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2013/12/nasihat-cinta-untukmu-kader-dakwah.html</link><pubDate>Fri, 06 Dec 2013 07:20:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2013/12/nasihat-cinta-untukmu-kader-dakwah.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2013/12/love-islam-wallpapers-01084b3d.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2013/12/love-islam-wallpapers-01084b3d.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Ikhwati fillah... Semoga keridhaan Allah SWT beserta kita semua...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwati fillah, saat ini kondisi ummat sebenarnya sedang parah-parah nya. Kemaksiatan itu sudah makanan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang menyedihkan bukan itu sebenarnya. Yang menyedihkan adalah ketika semangat para da'i iku&lt;span class="text_exposed_show"&gt;t "luntur" tergerus paham hedonisme tersebut. Jangankan untuk aktif berda'wah dalam arti yang luas. Menjaga konsistensi halaqoh dan ruhiyah pribadi saja kita gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah berhati-hati lah terhadap sesuatu "yang kesannya sebuah nikmat" tetapi ternyata justru membuat kita semakin jauh dari Allah swt, semakin lalai, dan tidak menambah portofolio da'wah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dulu saat mahasiswa kita begitu kuatnya berda'wah, dan ketika mendapat pekerjaan kita justru jadi "lembek", penuh alasan (yang terkesan rasional), maka hati-hatilah, jangan sampai pekerjaan itu sedang jadi cobaan untuk kita, sedang jadi fitnah yang menguji apakah kita masih hamba-hamba Allah yang taat atau tidak. Dan "sial"nya, jika pekerjaan itu justru akan jadi sumber murka Allah swt dimasa depan. Jika benar demikian, bertaubatlah sebelum terlambat, sebab bisa jadi pekerjaan yang sudah membuat kita lalai dari kewajiban ruhiyah dan da'wah, ternyata juga sudah menjadi thoghut dan sesembahan baru bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dulu saat "sendiri" kita sangat aktif berda'wah, lalu ketika ada nikmat dengan hadirnya seorang suami/istri, lalu da'wah kita makin kendor, amalan ruhiyah kita makin nggak karuan. Maka berhati-hati lah, sebab bisa jadi suami/istri kita itu sudah menjadi sumber fitnah bagi kita. Bukankah dulu cita-cita kita menikah dgn ikhwan/akhwat, agar da'wah ini terjaga? Lalu jika dengan menikah da'wah ini makin kendor, dikemanakan kah tujuan asasi pernikahan kader da'wah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, hati-hati ikhwah, karena fitnah itu takkan berhenti. Sebentar lagi kita bisa "naik jabatan" dan akan lebih sibuk lagi. Sebentar lagi kita punya anak atau anaknya bertambah, dan kita "akan lebih sibuk" lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati lah ikhwah fillah, jangan-jangan kita sudah jadi korban paham kebendaan (materialisme) secara tidak sadar. "Benchmark" kehidupan kita turun jauh... Dari tadinya para sahabat utama rasulullah, ke orang-orang biasa, temen kantor, tetangga, atau orang ammah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita merasa sudah lebih hebat dengan sholat di masjid walau tak tepat waktu. Kita merasa sudah lebih hebat karena sudah bisa membaca qur'an walau cuma 1-2 halaman saja. Kita merasa sudah lebih hebat dengan qiyamul lali 1x sepekan, itu pun cuma 5menit, sambil ngantuk pula, dan kadang2 shubuhnya malah lewat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Kita butuh kader-kader militan, kader-kader yang tidak dikalahkan oleh alasan ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya kita butuh membuka kembali catatan kita soal ahamiyatut tarbiyah dan ahamiyatud da'wah... Sebenernya, kenapa sih tarbiyah (dalam arti khusus) itu penting, kenapa da'wah itu penting?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa enaknya menjadi seorang kader da'wah? Apa pentingnya datang halaqoh? Apa pentingnya terlibat aktif dalam da'wah dan apa manfaatnya buat diri kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kewajiban-kewajiba da'wah (bahkan yang level minimal seperti hadir dalam liqo) sudah terasa berat, ada baiknya kita lakukan "medical check up" untuk hati kita. Jangan-jangan debu dunia sudah terlampau hebatnya menutup seluruh permukaannya, sehingga cahaya hidayah itu sulit masuk. Kalaupun bisa masuk, hanya sekian persennya, lalu efeknya, hati sebagai motor utama kebaikan itu menjadi lemah bergerak, terlalu lemah menginisiasi pemikiran dan motorik tubuh kita. Pekerjaan ringan jadi berat, pekerjaan berat menjadi tak terkira beratnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Jika itu yang terjadi, maka segera lakukan pembersihan besar-besar an, bertaubatlah kepada Allah swt, mendekatlah sedekat-dekat nya. Percayalah, dari semua nikmat yang kita miliki di dunia ini, maka nikmat hidayah itu yang terbesar! Buat apa nikmat sehat jika ujung-ujung nya jadi ahli neraka? Buat apa nikmat harta jika ujung2nya hidup di neraka? Jangan pernah berpikir bodoh dengan menganggap bahwa "ah paling di neraka sebentar, di "cuci" doang! Kata siapa? Lagian, sebentar definisi neraka sebentar, di "cuci" doang! Kata siapa? Lagian, sebentar definisi neraka dan dunia itu sangat jauh berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sialnya seseorang yang sudah diberi tiket ke syurga, dan tugasnya cuma merawat tiket itu agar tidak rusak dan "magnetic"nya bisa digunakan di pintu syurga, lalu dia sia-siakan. Bukan hanya bagian magnetic tiketnya yang dia rusak, bahkan tiketnya dia buang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para ikhwah, kembalilah ke rumahmu, halaqohmu, tempat dulu pertama kali hidayah itu ditancapkan kuat-kuat ke dalam relung hatimu. Tempat dimana "tiket" hidayah itu menemukan tempat untuk "maintenance"nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para ikhwah, bersihkanlah hati-hati mu. Perbaikilah amalan-amalan harianmu, sholatmu, dzikirmu, tilawahmu, shoummu, ql-mu... Yang membedakan kita dan orang biasa, bahkan dari "ahli ilmu Islam biasa" adalah sisi ruhiyah dan kedekatan dengann Allah swt ini. Jangan biarkan nasehat2mu menjadi hambar dan tidak memiliki bobot, dikarenakan yang kau sampaikan hanya ilmu tanpa isi, tanpa ruh yang seharusnya sudah kau tuangkan dalam aplikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu.... Kau boleh memilih, menjadi kader da'wah militan yang menjadi tonggak utama perubahan... Atau menjadi manusia biasa yang mengejar obsesi dan ambisi hidup layaknya orang biasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bebas... Semua ada di tanganmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayangnya...konsekuensi pilihan itu tidak sebebas plihan itu sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan pilih, mengejar "menikmati" 10, 20, 30 atau 60 tahun tersisa dalam hidupmu. Atau mengejar alam keabadian yang periodenya "unlimited"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;i&gt;Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)" (QS: Al-Ahzab Ayat: 23)&lt;/i&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="userContent" data-ft="{&amp;quot;tn&amp;quot;:&amp;quot;K&amp;quot;}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;b&gt;Sang Ustadz&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;Sumber: islamedia.web.id&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Kader Kader Manja</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2012/12/kader-kader-manja.html</link><pubDate>Mon, 31 Dec 2012 08:16:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2012/12/kader-kader-manja.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&#10;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2012/12/kader-pks-092d0bdd.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="176" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2012/12/kader-pks-092d0bdd.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Duh kader-kader manja,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; maunya selalu&#10;mendapat, tapi enggan memberi. &amp;nbsp;Maunya diperhatikan, tapi tak mau&#10;memperhatikan. Maunya dihargai, tapi tak mau menghargai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Duh kader-kader manja,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&#10; merasa paling dibutuhkan dalam dakwah hingga tinggi hati menyerang niat&#10; nan suci. Merasa paling berkontribusi tapi lupa diri, bahwa yang&#10;diperbuatnya tak begitu berarti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Duh kader-kader manja,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&#10; masalah pribadi jadi masalah lembaga. Harusnya fokus memikirkan umat,&#10;tapi sibuk mengungkit masalah internal yang dibuat buat. Kapan kita&#10;geraknya sobat?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Duh Kader-kader manja,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; selalu enggan datang rapat, kalaupun datang pasti bilangnya “afwan telat”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Duh kader-kader manja,&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; inginnya selalu instan. Ingin &lt;em&gt;dapet&lt;/em&gt; jabatan. Ingin terlihat mapan. Kalau tidak berhasil jadinya menjauh dari perkumpulan. Barisan patah hati pun jadi bermunculan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Duh kader-kader manja, &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;ingin ini ingin itu tapi tak mau bergerak. Hanya bisa berteriak-teriak, duh &lt;em&gt;sampe&lt;/em&gt; suaranya serak, tak banyak manfaat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Duh kader-kader manja, &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;senangnya mengkritisi tapi tak memberi solusi, panjang lebar berdiskusi tapi tak ada aksi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Duh kader-kader manja, &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;ternyata&#10; usia tak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan. Bersikap seperti&#10;anak-anak padahal beban dakwah semakin banyak. Umat ini sedang butuh&#10;kontribusimu, jangan kau tambah lagi masalah umat dengan kemanjaanmu.&#10;Ingat,&lt;em&gt;&lt;strong&gt; Komitmen kita di jalan dakwah ini akan Allah bayar,&#10;jauh lebih mahal dari materi yang selama ini kita kejar. Jadi jangan&#10;beralasan meninggalkannya hanya karena disibukkan dengan&#10;permasalahan-permasalahan pribadi. Syurga itu amat mahal takkan dapat&#10;dicapai dengan upaya seadanya saja. &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Buanglah sifat manja, buktikan bahwa kita kader-kader dakwah yang siap bekerja untuk umat dan bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&#10;&lt;div&gt;&#10;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/08/11900/kader-kader-manja/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Nikmati Jalan Dakwah....</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2012/05/nikmati-jalan-dakwah_7169.html</link><pubDate>Wed, 23 May 2012 05:59:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2012/05/nikmati-jalan-dakwah_7169.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2012/05/mangabzzzz-0d4ffb17.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2012/05/mangabzzzz-0d4ffb17.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Oleh : Cahyadi Takariawan&lt;/b&gt;*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Terlalu sering saya sampaikan, agar kita tidak gagal dalam menikmati jalan dakwah. Dalam berbagai forum dan tulisan, saya selalu mengajak dan mengingatkan, agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Di antara doa yang sering saya munajatkan adalah, “Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan ini.” Tentu saja bersama doa-doa permohonan lainnya. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang mengurai kembali ikatan yang telah direkatkan, mengungkit segala yang telah diberikan, dengan perasaan menyesal dan meratapi segala yang pernah terjadi di jalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa bukan siapa-siapa, dan hanya seseorang yang mendapatkan banyak kemuliaan di jalan ini. Mendapatkan banyak saudara, mendapatkan banyak ilmu, memiliki banyak pengalaman, mengkristalkan banyak hikmah, menguatkan berbagai potensi diri, menajamkan mata hati dan mata jiwa. Luar biasa, sebuah jalan yang membawa berkah melimpah. Maka, merugilah mereka yang telah berada di jalan ini tetapi tidak mampu menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Maka mari kita nikmati jalan dakwah ini, “sebagai apapun” atau “tidak sebagai apapun” kita. Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali. Bisa “iya” bisa “tidak”. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kamu siapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pengurus partai dakwah”. Ini bisa disebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pejabat publik yang diusung oleh partai dakwah”. Ini juga bisa disebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pemimpin organisasi dakwah”. Ini sangat mudah disebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kepala daerah yang dicalonkan dari partai dakwah”. Ini cepat disebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kamu siapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya orang yang selalu berdakwah. Pagi, siang, sore dan malam. Kelelahan adalah kenikmatan. Perjuangan adalah kemuliaan. Saya bahkan tidak tahu, apa nama diri saya. Karena saya lebih suka memberikan hal terbaik bagi dakwah, daripada mencari definisi saya sebagai apa di jalan ini”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ya. Nikmati saja jalan ini. Sebagai apapun, atau tidak sebagai apapun diri kita di jalan dakwah. Jangan gagal menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;12 Oktober 2011&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai Rapat di Markaz Dakwah, Simatupang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Apa Makna Jama’ah?</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2012/05/apa-makna-jamaah_6020.html</link><pubDate>Tue, 22 May 2012 13:52:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2012/05/apa-makna-jamaah_6020.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2012/05/kader-pks-4f559002.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2012/05/kader-pks-4f559002.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;Oleh: Cahyadi Takariawan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aku ingin menggambarkan makna jama’ah dengan sangat sederhana. Bukan dengan dalil-dalil, karena itu sudah sangat banyak dijelaskan para ulama dan para ustadz. Namun dengan hal-hal praktis yang kita lakukan dalam kehidupan keseharian. Hal-hal mudah yang bisa kita aplikasikan dalam kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam Skala Personal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau adalah seorang kader dakwah, seorang aktivis. Dalam dirimu teramat banyak potensi yang Allah berikan, alhamdulillah. Dengan berbagai potensi itu engkau bisa melakukan banyak hal, teramat sangat banyak hal. Engkau bisa mengundang banyak orang untuk datang menghadiri kegiatanmu, engkau bisa mengumpulkan banyak khalayak untuk memenuhi undanganmu. Engkau bisa menggelar ribuan acara dengan nama dan potensimu. Engkau bisa mengatakan, “Sendiri saja, aku bisa melakukan semua ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tidak bekerja sendirian, kendati engkau sendiri mampu melakukan itu. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, kendati engkau sendiri yakin bisa melakukan itu; oleh karenanya engkau memerlukan kebersamaan untuk mengemban amanah dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau menjadi satu bagian yang utuh dari sebuah kebersamaan, kendati engkau merasa lebih leluasa bekerja sendirian. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada visi jama’i, ada manhaj, ada khuthuwat, ada baramij, yang kesemuanya merupakan produk kolektif, bukan produk individu, kendati engkau bisa membuat itu semua sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pada Struktur Ranting&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada struktur lembaga dakwah di tingkat ranting, aku sangat yakin bahwa para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat ranting. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat ranting bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat cabang. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur cabang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur ranting selalu berkoordinasi dengan cabang, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur ranting tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur cabang, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur ranting menjadi bagian yang utuh dari struktur cabang, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari cabang. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur cabang dengan struktur ranting. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur cabang dengan ranting. Karena sesungguhnya tidak artinya cabang ketika tidak ada ranting, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pada Struktur Cabang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada struktur lembaga dakwah di tingkat cabang, aku sangat yakin bahwa para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat cabang. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat cabang bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat daerah. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur daerah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur cabang selalu berkoordinasi dengan pengurus daerah, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur cabang tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur daerah, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur cabang menjadi bagian yang utuh dari struktur daerah, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari pengurus daerah. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur daerah dengan struktur cabang. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur daerah dengan cabang. Karena sesungguhnya tidak artinya daerah ketika tidak ada cabang, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pada Struktur Daerah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga sangat yakin, pada struktur lembaga dakwah di tingkat daerah, para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat daerah. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat daerah bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat wilayah. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur wilayah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur daerah selalu berkoordinasi dengan pengurus wilayah, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur daerah tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur wilayah, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur daerah menjadi bagian yang utuh dari struktur wilayah, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari pengurus wilayah. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur wilayah dengan struktur daerah. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur wilayah dengan daerah. Karena sesungguhnya tidak artinya wilayah ketika tidak ada daerah, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pada Struktur Wilayah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat yakin, pada struktur lembaga dakwah di tingkat wilayah, para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat wilayah. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat wilayah bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat pusat. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur pusat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur wilayah selalu berkoordinasi dengan pengurus pusat, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur wilayah tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur pusat, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur wilayah menjadi bagian yang utuh dari struktur pusat, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari pengurus pusat. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur pusat dengan struktur wilayah. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur pusat dengan wilayah. Karena sesungguhnya tidak artinya pusat ketika tidak ada wilayah, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;Inilah Jama’ah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator"&gt;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2012/05/pks-8b-ab93e965.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="315" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2012/05/pks-8b-ab93e965.jpg" width="600" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ya, inilah bangunan jama’ah itu. Ketika semua bagian saling terkait, saling menyatu, saling menjadi bagian utuh dengan bagian lainnya. Setiap bagian sama pentingnya, seperti kita memahami bagian manakah yang penting dari mobil. Roda sama pentingnya dengan kemudi, rem sama pentingnya dengan gas, oli sama pentingnya dengan bahan bakar. Semua bagian menjadi pembentuk bangunan utuh dari jama’ah. Jika berkurang satu bagian, akan berdampak secara sistemik bagi kegiatan dan kehidupan jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua dari kita memiliki potensi dan kemampuan yang hebat, alhamdulillah. Namun sehebat apapun potensi itu, menjadi kurang bermakna ketika tidak diwadahi jama’ah. Engkau mungkin kurang sabar dalam mengikuti ritme hidup berjama’ah, karena ada aturan, ada panduan, ada pedoman, ada keputusan yang harus dilakukan. Engkau mungkin merasa bosan dengan berbagai agenda hidup berjama’ah yang tampak lamban, padahal engkau bisa melakukan berbagai hal lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu bukan jama’ah. Karena jama’ah artinya keterpaduan, kesatuan, keharmonisan, kebersamaan, kesediaan, kerelaan, empati, dan keteraturan. Karena jama’ah artinya perencanaan. koordinasi, konsolidasi, pengaturan, manajemen, komando, pengawasan serta evaluasi. Karena jama’ah artinya penyatuan hati, perasaan, pikiran, dan kegiatan. Karena jama’ah artinya kasih sayang, kelembutan, ketegasan, kedisiplinan dan keserasian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jama’ah artinya cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;nDalem Mertosanan, 6 Januari 2012&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;a href="http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2053"&gt;http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2053&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*posted by: &lt;a href="http://pkspiyungan.blogspot.com/"&gt;Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Kontribusikan Semua Potensi untuk Dakwah dan Jama’ah</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2012/05/kontribusikan-semua-potensi-untuk_9867.html</link><pubDate>Tue, 22 May 2012 13:50:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2012/05/kontribusikan-semua-potensi-untuk_9867.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2012/05/pks-ok-dad953b1.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2012/05/pks-ok-dad953b1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Oleh: Cahyadi Takariawan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“Semua yang dimiliki kader harus bisa dikontribusikan untuk dakwah dan jama’ah. Jika kita punya rumah, harus ada kontribusi rumah untuk kegiatan dakwah dan jama’ah. Jika punya mobil, harus ada kontribusinya untuk dakwah dan jama’ah. Jika punya motor, harus ada kontribusinya untuk dakwah dan jama’ah. Dengan cara itulah kegiatan dakwah akan terus berjalan dengan lancar dan berkesinambungan”, demikian tausiyah dari ustadz Subaryanto, dalam acara Forum Silaturahmi Kader Dakwah Banguntapan, Bantul, DIY, Senin 13 Februari 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tausiyah ini sangat penting dan mendalam. Ada pertanyaan besar yang sering disampaikan orang, mengapa kita bisa memiliki banyak kegiatan, bersambung dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya, seakan tidak pernah berhenti dan istirahat. Pertanyaan mereka lebih ke arah, “Berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk berbagai kegiatan tersebut?” Ternyata kita sendiri bahkan tidak pernah menghitungnya, karena kita melakukan saja, bekerja saja, berkegiatan saja, tanpa pernah menghitung dengan rinci semua pengeluaran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah tradisi dakwah dan jama’ah yang sudah kita bangun selama ini. Pertemuan dilakukan dari rumah ke rumah, sekaligus silaturahim antar kader dakwah. Saat menghadiri pertemuan, kita datang dengan mengendarai motor, mobil, atau menggunakan angkutan umum. Kita tidak pernah meminta ganti atas semua yang kita keluarkan secara pribadi, demi kelancaran kegiatan dakwah. Inilah salah satu cara untuk mengkontribusikan semua potensi yang kita miliki untuk dakwah dan jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Coba jika dihitung dengan teliti, berapa banyak dana yang telah kita keluarkan untuk satu pertemuan. Tempat pertemuan gratis, karena tidak perlu menyewa. Rumah kader bisa kita gunakan sebagai tempat pertemuan, bahkan di garasi atau di halaman belakang rumah pun bisa. Tuan rumah dengan suka rela menyediakan minuman dan makanan, sebagaimana tradisi menjamu tamu pada umumnya. Masih ditambah berbagai sarana seperti tikar, karpet, atau kursi dan meja, serta fasilitas pertemuan ala kadarnya yang dimiliki tuan rumah. Tempat pertemuan gratis, jamuan gratis, fasilitas gratis.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Para peserta datang sendiri, tanpa meminta ganti ongkos transport. Jika harus mengganti ongkos transport, maka akan terkumpul jumlah yang cukup besar, karena kader datang dari berbagai tempat yang berjauhan. Namun kehadiran kader dalam sebuah pertemuan dakwah, lebih sering tidak dikaitkan dengan ongkos transport, karena sudah menjadi tradisi rutin yang berjalan selama ini. Semua datang dengan kecintaan, semangat, pengorbanan dan harapan. Dengan demikian untuk satu pertemuan, hampir tidak ada dana yang perlu dikeluarkan karena semua sudah ditanggung oleh masing-masing kader yang menjadi peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali untuk acara tertentu yang berskala nasional, memang ada sedikit “hitungan” yang berbeda, karena ada renik-renik dan unsur publisitas tertentu yang ingin dimunculkan. Secara umum, sekian banyak agenda dakwah yang telah berjalan rutin selama ini, menjadi tanggungan setiap kader, tanpa ada “hitungan” ganti. Semua kader memahami, ganti akan diberikan secara langsung oleh Allah dalam jumlah yang berlipat, jauh lebih banyak dari apa yang mereka kontribusikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika seperti ini sepertinya sulit dipahami masyarakat pada umumnya, bahwa ada banyak agenda kegiatan organisasi bisa berjalan dengan baik dan rutin, tanpa perlu kucuran dana dari organisasi. Biasanya, pada organisasi secara umum, setiap agenda kegiatan, selalu menimbulkan anggaran. Semakin banyak kegiatan, semakin besar pula anggaran yang harus dikeluarkan. Kenyataannya, ketika tidak disediakan anggaran, kegiatan tidak bisa berjalan. Tidak begitu dengan organisasi dakwah. Logika yang berkembang adalah tadhiyah, sedangkan tadhiyah muncul dari kepahaman dan keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tausiyah ustadz Subaryanto tersebut mengingatkan kita semua tentang urgensi kontribusi. Kader telah terbiasa dengan jalan kontribusi, bahkan bagi mereka, hal ini sudah tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan lagi. Kontribusi sudah menjadi akhlak, sudah menjadi aktivitas spontan, dan harian. Tidak perlu berpikir apakah akan meminjamkan ruangan untuk pertemuan, tidak perlu pertimbangan apakah akan meminjamkan mobil untuk perjalanan dakwah, tidak perlu merenung untuk memberikan fasilitas guna kelancaran kegiatan dakwah dan jama’ah. Semua sudah berjalan dengan sendirinya, tanpa dihitung-hitung dan diingat-ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Setiap kader dakwah tidak pernah mengingat dan tidak memiliki catatan pribadi, berapa ratus ribu liter bensin telah dikeluarkan untuk kegiatan dakwah dan jamaah. Berapa juta kilometer jalan pernah ditempuh dalam menunaikan amanah dakwah. Berapa ribu kali meminjamkan motor atau mobil untuk kepentingan dakwah dan jama’ah. Berapa ribu kali menyediakan rumahnya untuk tempat kegiatan dakwah dan jama’ah. Berapa banyak uang telah dikeluarkan untuk kelancaran dakwah. Berapa banyak tenaga telah dikeluarkan guna menunaikan amanah dakwah.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Semua tidak dihitung, semua tidak diingat, semua tidak dicatat. Semua dikerjakan sepenuh kecintaan, sepenuh kesadaran, sepenuh kepahaman. Semua dikeluarkan dengan harapan akan mendapatkan balasan terbaik dari sisi Allah. Semua dikeluarkan tanpa perasaan menyesal. Hal ini bisa terjadi, karena kader memahami bahwa kontribusi adalah kunci keberlanjutan dakwah dan jama’ah. Kontribusi adalah jalan menuju kemenangan. Kontribusi adalah kekuatan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, kontribusi telah menjadi jalan hidup kami.</description></item><item><title>Ketika Badai Menghantam Perahu Kami</title><link>http://boyolali.pks.my.id/2011/06/ketika-badai-menghantam-perahu-kami_73.html</link><pubDate>Fri, 24 Jun 2011 14:14:00 +0700</pubDate><guid>http://boyolali.pks.my.id/2011/06/ketika-badai-menghantam-perahu-kami_73.html</guid><description>&lt;div class="separator"&gt;&lt;a href="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2011/06/20110318-094948-pks-d9c1d78c.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://boyolali.pks.my.id/images/uploads/2011/06/20110318-094948-pks-d9c1d78c.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh Abdullah Haidir, Lc&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berlayar mengarungi samudera, jangan berharap kau kan tiba di pulau tujuan tanpa cobaan mendera. Sebelum layar dibentangkan, inilah yang harus terpatri dalam diri menjadi kesadaran. Bahwa berbagai keindahan dari sebuah pelayaran panjang dan kenikmatan di pulau tujuan, berbanding lurus dengan besarnya tantangan yang menghadang. Tak kan pernah kau dapatkan indahnya pemandangan angkasa menjulang di tengah samudera luas membentang, selagi kau masih takut menembus hempasan gelombang. Ini bukan sekedar resiko perjalanan, tapi tlah menjadi aksioma tak terbantahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di perahu ini, kita sedang merangkai keutuhan dan persaudaraan, kesetiaan dan keteguhan, apapun posisi dan kedudukan. Karena kita telah memiliki tujuan, harapan dan mimpi yang sama ingin diwujudkan. Namun, kita tidak pernah menafikan adanya kesalahan, kelalaian dan kekhilafan, bahkan juga kejenuhan, kekecewaan, kemarahan, hingga silang sengketa yang tak terhindarkan. Itu wajar belaka, karena memang tidak satu pun di antara kita yang mengaku tiada cela tiada dosa. Namun kesamaan tujuan, mimpi dan khayalan, kan segera menyatukan, meluruskan langkah ke depan, menghapus resah dan kemarahan, berganti semangat yang terbarukan. Karenanya, kita sambut gembira setiap arahan, nasehat dan pesan-pesan yang dapat menguatkan serta menyatukan, sekeras apapun. Tapi, fitnah yang memecah barisan, tuduhan yang memojokkan, umpatan dan celaan yang menjatuhkan, serta aib yang dibeberkan, apalagi tindakan melobangi perahu agar kandas atau tenggelam, tidak pernah dapat kami terima, baik secara logika apalagi perasaan. Bagaimanapun, kami bukan batu yang diam diketuk palu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di perahu ini, kita sedang menjadikan badai dan gelombang sebagai ujian kejujuran, sarana muhasabah untuk memperteguh perjuangan, juga sarana belajar menjaga komitmen atas kesepakatan yang tlah dinyatakan. Karenanya, alih-alih badai ini menceraiberaikan atau meluluhlantakkan, justeru dia menjadi moment paling tepat untuk semakin rekat, melupakan kesalahpahaman yang sempat menimbulkan sekat. Mereka di kejauhan, boleh jadi bersorak sorai kegirangan ketika kita terombang ambing di tengah gelombang, berharap satu persatu dari kita tenggelam menjemput ajal menjelang. Tapi tahukah mereka? Justeru saat ini kami rasakan kehangatan tangan saudara kami yang erat saling berpegangan, justeru saat ini kami rasakan kekhusyuan doa-doa untuk keselamatan dan persatuan, justeru saat ini kami semakin yakin bahwa seleksi kejujuran memang harus lewat ujian, justeru saat ini kami jadi dapat membedakan mana nasehat dan mana dendam kesumat, mana masukan bermanfaat dan mana makar jahat, mana senyum tulus persaudaraan dan mana senyum sinis permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di perahu ini, justeru di tengah badai gelombang, kita jadi semakin mengerti pentingnya nakhoda yang memimpin dan mengendalikan, juga semakin menyadari pentingnya syura untuk mengambil keputusan, lalu pentingnya belajar menerima keputusan setelah disyurakan. Adanya kepemimpinan dan syura memang memberatkan, karena proses jadi panjang, langkah-langkah jadi terhalang aturan, keinginan sering tertunda menunggu keputusan. Tapi ini tidak dapat kita hindari, karena kita tidak berlayar sendiri, bergerak sendiri, mengambil keputusan sendiri dan menanggung resiko sendiri. Justeru karena kita berlayar bersama, maka kepemimpinan dan syura mutlak harus ada. Kepemimpinan memang bukan nabi yang maksum dan mendapatkan legalitas wahyu dalam setiap kebijakan, kesalahanpun bukan sebuah kemustahilan meski tidak kita anggap kebenaran. Tapi kepemimpinan yang dibangun oleh syura, telah memenuhi syarat untuk disikapi penuh penghormatan dan ketaatan, sepanjang tidak ada ajakan kemaksiatan. Sebagian orang boleh jadi mengatakan ini sikap taklid buta, kita katakan, 'Inilah komitmen kita!' Sebagian lagi katanya merasa kasihan dengan anak buah yang tidak mengerti banyak persoalan dan hanya ikut ketentuan, kita katakan, 'Kasihanilah dirimu yang sering menghasut tanpa perasaan!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di perahu ini, ketika badai menghantam dari kiri dan kanan, depan dan belakang, teringat perkataan para shahabat dalam sebuah peperangan, tatkala musuh dari luar datang menyerang dan orang dekat menelikung dari belakang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya' (QS. Al-Ahzab: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir menjelaskan, "Maksudnya, inilah janji Allah dan Rasul-Nya berupa ujian dan cobaan, pertanda kian dekatnya kemenangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riyadh, Rabiul Tsani 1432 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Abdullah Haidir, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) DPW PKS Arab Saudi&lt;/div&gt;</description></item></channel></rss>